KANUKU LEON
Kanuku Leon
Penting:

Rabu, 16 April 2014

Valentino Luis: Full Time Traveler, Jalur "Beda" Anak NTT


Malam ini saya tak sengaja ketemu seorang traveler keren asal NTT, Valentino Luis, di salah satu grup Facebook. Beliau mengirim video singkat mengenai tradisi paskah ala masyarakat Sikka, yang mirip dengan Semana Santa di Larantuka.
https://www.facebook.com/valentino.babaputra
Bung Valentino ini saya kenal lewat catatan perjalanan dan foto-foto kerennya yang kerap menghiasi halaman majalah travel semacam National Geographic Traveler atau majalah travelnya beberapa maskapai misalnya Batik Air dan LionMag. Sudah lama saya mengenal karya tulis dan foto beliau sembari mengagumi anak Maumere satu ini. Bagi saya pribadi, ketika berjumpa anak muda NTT yang kerap melakukan 'hal-hal yang tidak biasa atau luar biasa' dalam hidupnya itu keren. Sangat keren. Ketika kami mengobrol di chat box Facebook, bung Valentino berujar, "kalau ternyata tulisanku disukai, bagaimana bisa berhenti jalan-jalan?". Begitulah kalau kita ngobrol dengan para traveler sejati. Mereka yang menghabiskan hidup dengan jalan-jalan sekalian bekerja (menulis, memotret dan mengirim ke majalah wisata).

Saya ingat Trinity, yang setahun penuh keliling dunia dan membiayai perjalanannya itu dengan menjadi kontributor majalah wisata. Amboi, indah nian punya pekerjaan seperti ini. Sebagai follower mereka berdua (termasuk juga Nicolas Saputra, yg bio twitternya bertuliskan "full time traveler, part time actor"), saya pada akhirnya juga memendam mimpi yang sama. Menjadi penulis skalian traveler. 
Dan mimpi saya ini semakin besar ketika di akhir kalimat, bung Valentino bilang, "Saya pikir dalam waktu-waktu mendatang akan bertambah lagi anak NTT yang nekad pilih 'lajur beda' seperti ini, hehehe..."
Senang berkenalan dengan anda, bung Valentino :)

Simak foto-foto ekslusifnya di Flickr, juga line clothingnya, TukTukBoys Kaos Maumere yang keren di sini

Senin, 14 April 2014

Ketemu Zelfeni dan Erni


Ketika hadir di Asean Literary Festival Maret lalu saya akhirnya bisa ketemu dua orang hebat ini, Erni Aladjai penulis asal Sulawesi Tengah, yang dikenal dengan beberapa karya seperti Kei dan Ning Di Bawah Gerhana, juga uda Zelfeni Wimra sastrawan muda asal Padang yang sudah berkibar sekali nama dan karyanya tentu saja, salah satu kumpulan cerpennya terbitan GPU, Yang Menunggu dengan Payung.

Rabu, 09 April 2014

Berusaha Melawan Lupa



 Berikut ini adalah profil saya di Jurnal Sastra Santarang edisi Januari 2014.


Christian Dicky Senda adalah salah satu penulis produktif yang dimiliki NTT saat ini. Ia menulis cerita pendek, puisi hingga resensi film. Penulis yang bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Komunitas Blogger NTT dan Forum SoE Peduli ini lahir dan menghabiskan masa remaja di Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Ia kemudian pindah ke Ende untuk bersekolah di SMAK Syuradikara. Saat di Syuradikara, ia sudah terbiasa menulis puisi di buku harian. Semangatnya untuk menulis cerita menggebu ketika diperkenalkan oleh seorang biarawan pembimbingnya di asrama pada novel Saman karya Ayu Utami. Tahun 2005-2011 ia menetap di Jogjakarta sambil kuliah di D3 Komunikasi Periklanan di UGM (tidak selesai) lalu melanjutkan ke Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana. Sempat bekerja selama dua tahun sebagai konselor dan supervisor pendidikan di sebuah sekolah alam di Jogja, lantas memutuskan untuk kembali ke Timor. 
Dicky, begitu ia biasa disapa oleh teman-temannya di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, telah menerbitkan dua buku. Cerah Hati (IBC, Jogja) adalah kumpulan puisinya yang terbit tahun 2011 dan berbicara tentang cinta, persahabatan dan sisi lain alam bawah sadar yang ditulis selama berada di perantauan. Tahun 2013, ia menerbitkan kumpulan cerpen Kanuku Leon (IBC, Jogja) yang menurutnya banyak berkisah tentang lokalitas Timor dan sisi-sisi psikologis manusia.
Juni 2013 diundang untuk memperkenalkan karyanya di ajang Makassar International Writers Festival. Ia bekerja sebagai konselor pendidikan di SMPK St. Theresia Kupang sambil terus mengembangkan kesukaanya pada dunia sinema dan kuliner sekaligus bikin film pendek bersama anak didiknya di sekolah. Sementara ini, ia mengambil cuti untuk mengikuti program ELTA demi mewujudkan cita-citanya mendalami pendidikan anak dan remaja. Puisi-puisi dan cerpen-cerpennya yang menggarap tema lokalitas atau historis, berasal dari keprihatinannya pada generasi seangkatannya yang mulai mengabaikan budaya tradisi dan melupakan sejarah. Sejumlah kiprahnya juga diulas dalam buku Yohanes Sehandi Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT. Berikut petikan wawancaranya dengan Santarang. 
Sejak kapan Anda tertarik menulis? Bisa jelaskan? 
Puisi pertama tentang kabut yang menjelma menjadi anak pelamun, pertama kali dimuat di mading (majalah dinding) SMP di Kapan. Kala itu rasanya bangga luar biasa. Apalagi setelah mendapat respon yang positif dari guru Bahasa Indonesia. Tapi sebelumnya, sejak SD saya memang sudah terbiasa menulis catatan harian berkorespondensi via surat dengan teman sebaya di luar NTT. Semua isi kepala yang kebanyakan imajinasi liar saya tulis dari masa kanak hingga remaja. Sayang sekali catatan-catatan itu hilang ketika saya pindah kos saat kuliah di Jogja. 
Siapa dari antara orang-orang terdekat yang menginspirasi Anda? Bisa Anda jelaskan pengaruh mereka yang Anda rasakan di dalam tulisan-tulisan Anda? 
Keluarga. Bapak dan Ibu saya adalah pencerita yang baik dan saya terbiasa menghidupkan cerita-cerita tersebut dalam imajinasi saya lalu saya tuangkan dalam catatan-catatan di buku harian saya. Saya adalah anak bungsu yang sangat menikmati masa kanak-kanak di rumah bersama orangtua ketika semua kakak-kakak saya sudah keluar dari rumah karena bersekolah di kota lain atau menikah. Kami bertiga bisa mengobrol banyak hal di dapur sambil menemani mama saya memasak, di depan televisi, hingga di kamar tidur—yah, saya terlalu dekat dengan Bapak Ibu saya dan kami bisa mengobrol hingga larut malam! Bagi saya, orangtua saya adalah the real mafefa dalam hidup saya. Mafefa di sini maksudnya penutur berbagai kisah sejarah, budaya dan silsilah keluarga. Hanya satu yang saya sayangkan, sejak kecil orangtua tidak membiasakan anak-anaknya berbicara dalam bahasa daerah, baik bahasa Bapak (Ende Lio) maupun bahasa Ibu (Dawan).
Tentang mafefa yang sebenarnya di luar sana, saya pun menaruh banyak sekali perhatian kepada mereka belakangan ini. Bagi saya, mereka punya banyak kisah yang semuanya tak tertulis melainkan hanya hidup lewat tuturan. Seperti halnya orangtua saya. Hal ini yang kemudian menjadi kekhawatiran saya kini dan kemudian mendorong saya untuk giat menulis kembali (tentunya dengan cara fiksi dan segala bumbu-bumbunya) hanya agar kisah-kisah itu janganlah mati. Ada teman saya asal Kapan, seorang akademisi di bidang sejarah, juga melakukan hal yang sama dengan mimpi sejenis dengan caranya. Ini membahagiakan saya, mengingat banyak mafefa telah wafat dan kita kehilangan jejak mereka!
Selain keluarga tentunya saya punya banyak sekali kawan-kawan di Komunitas Sastra Dusun Flobamora yang sangat luar biasa menginspirasi dan memberi semangat kepada saya untuk terus
berkarya. Mereka (yang tanpa sadar) mengajarkan saya untuk menghargai proses dalam berkreativitas. 
Penulis yang menginspirasi gaya menulis Anda? 
Saya menyukai karya-karya Seno Gumira Ajidarma, Ayu Utami dan Albert Camus. Bagi saya pribadi, mereka punya karakter yang kuat dalam mengungkapkan sisi psikologis (bawah sadar) tokoh-tokohnya dan piawai menghidupkan suasana. Saya menyukai penulis yang suka „bermain-main dengan imajinasi dan sisi psikologis manusia. Tokoh dalam cerita-cerita mereka selalu hidup dalam kepala saya. 
Kumpulan cerpen Anda, Kanuku Leon, mengangkat tema-tema cinta lingkungan, historis, dan tradisi lokal. Bagaimana proses kreatifnya? 
Kanuku Leon sebenarnya adalah buah dari mimpi dan imajinasi yang telah saya pelihara sejak kecil. Saya mempercayai proses dan Kanuku Leon adalah wujud dari proses saya memelihara imajinasi sejak masa kanak saya dulu. Meski akhirnya saya harus berkompromi di sana sini untuk akhirnya memutuskan menerbitkan hanya 16 cerpen dalam buku tersebut. Sebenarnya saya belum puas dengan hasil yang ada. Banyak mimpi dan imaji yang belum saya keluarkan di Kanuku Leon. Mungkin semangat itu akan saya hidupkan di buku selanjutnya.
Dulu saya ingin menulis novel, tapi saya sadar dengan kapasitas yang ada sehingga saya hanya berani untuk menulisnya dalam penggalan-penggalan berupa cerpen saja. 
Apa yang ingin Anda sampaikan melalui cerpen-cerpen tersebut? 
Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, Kanuku Leon awalnya lahir dari kekhawatiran saya akan semakin memudarnya perhatian dan kecintaan anak muda di NTT, khususnya Timor, terhadap kisah-kisah historis, lingkungan dan tradisi lokal yang saya percayai kebanyakan lahir dan bertumbuh di rumah, dalam keluarga, di dapur, di meja makan, di ruang keluarga, pesta-pesta adat, dan lain-lain. 
Untuk menerbitkan Kanuku Leon, Anda menggunakan cara crowd-funding. Apa yang mendasari Anda menempuh cara itu? 
Awalnya karena saya dan teman-teman lain yang saya lihat kesulitan untuk menerbitkan buku secara indie karena butuh dana dari kantong sendiri. Tapi sebenarnya problemnya tidak sebatas itu saja. Saya melihat di NTT, apresiasi terhadap hasil karya buku yang ditulis oleh orang NTT sendiri masih sangat minim. Mungkin soal budaya membaca buku yang juga relatif rendah. Entahlah. Tapi pada problem tadi saya menitikberatkan pada orang-orang mudanya.
Sejak tahun 2006 saya adalah blogger artinya saya aktif di media sosial. Saya juga punya basic kuliah Komunikasi-Periklanan (meski tak selesai). Keduanya sangat menginspirasi saya untuk berbuat sesuatu dengan kekuatan internet. Hitung-hitung, sekalian saya mengetes sejauh mana tingkat apresiasi dan kepedulian kawan-kawan pengguna media sosial terhadap isu yang saya lemparkan dalam hal ini proses menerbitkan Kanuku Leon dengan latar belakang dan caranya. Saya sebenarnya optimis karena menerbitkan buku dengan crowd-funding bukanlah baru bagi saya. Sebelum Kanuku Leon saya sudah menggarap buku puisi saya Cerah Hati dan buku antologi cerita Alumni SMAK Syuradikara berjudul 5900 Langkah dengan sistem crowd-funding. Proposal Cerah Hati saya tawarkan ke teman-teman kos, paduan suara, kampus, dan komunitas di Jogja kala itu, meski akhirnya kakak saya Sipri Senda jugalah yang menggenapinya sehingga bisa terbit. Hahaha.
Nilai jual crowd-funding ala saya adalah, kawan-kawan yang mendukung dengan nominal tertentu tidak saja mendapat buku Kanuku Leon tetapi sekaligus membuka lebar kesempatan Kanuku Leon dan sekian banyak buku sastra karya penulis NTT lainnya untuk tersebar luas di berbagai rumah atau taman baca yang ada di wilayah NTT. Niat saya, karya-karya tersebut harus dikenal dan dicintai dulu di kampung halaman sendiri. 
Suka duka apa yang Anda lami selama proses crowd-funding? 
Sukanya, saya semakin gaul dan terkenal di media sosial karena setiap cuitan saya di twitter direspon dengan ramai. Terima kasih saya ucapkan untuk kawan-kawan muda NTT yang begitu peduli terhadap gerakan kecil yang saya lakukan. Kalau dukanya, ada juga yang menganggap sebelah mata usaha saya ini. Proposal saya dibantai dengan segala tuduhan ini itu. Tapi itu sama sekali tak menyurutkan niat saya. 
Di media sosial Twitter, Ayu Utami pernah menyebut nama Anda dalam sebuah cuitannya yang menyinggung juga tentang kebangkitan sastra NTT. Perasaan Anda? Mengapa?
Saya sangat menghormati beliau terutama karena beliau begitu bermurah hati untuk membuka ruang diskusi atau komunikasi dengan saya selama ini. Meski lewat dunia maya namun saya merasakan betul energinya dalam berkarya bisa menginspriasi saya dan mungkin teman-teman muda NTT lainnya untuk percaya dengan kemampuan
diri yang kita punya dan percaya pada kekayaan tradisi kebudayaan kita. Itu saja. Saya hargai itu. 
Selain cerpen, Anda juga menulis puisi. Lebih nyaman mana, menulis cerpen atau puisi? Mengapa? 
Sejauh ini memang lebih nyaman menulis cerpen, meski awalnya saya menulis puisi. Saya hanya belum menemukan kenyamanan menulis puisi sebagaimana kenyamanan itu saya dapatkan saat menulis cerpen. Entahlah. Saya mungkin perlu banyak membaca dan mencoba menemukan gaya, warna dan roh berpuisi saya. Mungkin nanti. Tapi saat ini saya merasa puisi-puisi saya terlalu jelek. 
Anda sedang mempersiapkan proyek terbaru yang Anda beri judul Zuid Midden Timor. Bisa Anda berikan sedikit gambaran? 
Hahaha... Ini sebenarnya masih rahasia, tapi saya sengaja melempar cuitanya di twitter. Bukan untuk pamer sebenarnya, tapi untuk menjaga agar semangat mengerjakan proyek itu tidak mati. Ini boleh dibilang tentang cara pandang saya melihat sejarah dan kebudayaan Timor Tengah Selatan. Akhir tahun 2013 saya pergi melakukan riset kecil nan sederhana sebagai bagian dari rancangan proyek Zuid Midden Timor ke Fatumnasi di Mollo. Fatumnasi, sebuah desa purba sebab dikelilingi batu marmer berusia ribuan tahun yang saya percayai sebagai jejak fisik tertua dari pulau Timor sejak pulau ini mencuat dari dasar samudera. Saya menginap selama beberapa hari di rumah seorang mafefa yakni Mateos Anin, pewaris salah satu rumah adat tua di sana. Saya hanya ingin menggali perspektif mereka sebagai keturunan orang Timor purba dan bagaimana mistisisme yang masih mereka pelihara hingga saat ini. Setelah Fatumnasi saya ingin ke Mutis, Fatukopa, Gunung Sunu dan kampung Boti. Zuid Midden Timor mungkin saja akan berkisah tentang kekuatan kearifan lokal masyarakat tiga batu tungku; Mollo, Amanatun dan Amanuban.
Ketika sedang merajut mimpi Zuid Midden Timor, saya bertemu dengan beberapa teman dari stasiun televisi NET. yang kemudian merekam perjalanan riset saya ke Fatumnasi dalam program Indonesia Bagus. Ini bukan soal Zuid Midden TImor, tetapi bagaimana Indonesia tahu bahwa di Timor ada segolongan orang terpilih bernama mafefa yang setia menghidupkan berbagai kisah kearifal lokal dengan mulutnya, sepat sirih pinang dan sopi yang sedikit memabukkan. 
Kenapa menggunakan frasa „Zuid Midden Timor dan bukan „Timor Tengah Selatan?
Mungkin ini cara saya untuk melihat ulang sejarah, bagaimana trik-trik Belanda saat memecah belah tatanan kebudayaan yang sudah eksis sebelumnya. Ah, entahlah. Sejauh ini Zuid Midden Timor masih dalam proses, mungkin akan berubah banyak di tengah jalan. Sebaiknya saya keep dulu. 
Pernah berpikir untuk menjadikan menulis sebagai profesi? Mengapa? 
Tidak. Atau tepatnya belum untuk saat ini. Saya masih punya mimpi besar dan utama selain sebagai penulis. Sejak tahun 2009 saat masih semester 6 saya sudah terjun ke dunia pendidikan anak-anak dan remaja. Tentunya pendidikan dari sisi psikologi, bidang ilmu yang saya geluti sejak kuliah. Tapi saya akan terus menulis dan bergiat di komunitas sastra. 
Anda puas dengan pencapaian Anda selama ini? 
Puas dan sangat bersyukur setiap kali berhasil menapaki titik-titik dalam perjalanan hidup saya. Dengan begitu saya tidak cepat puas dan lupa diri. Apalagi selalu ada kawan-kawan di Dusun Flobamora yang dalam diam kerap mengingatkan saya untuk menghargai proses. 
 
Bagaimana Anda memandang sastra dan dunia kepenulisan pada umumnya? 
Saya kira sastra akan lestari ketika ia dikerjakan dengan kejujuran dan penghargaan atas proses. Saya juga senang karena ruang apresiasi dan kritik terhadap sastra telah bertumbuh di NTT. Saya berharap Komunitas Sastra Dusun Flobamora yang dianggap sudah cukup eksis di Kupang, mungkin bisa membantu memacu semangat berkreasi di kabupaten-kabupaten lain di NTT. Saya kira di Ende, misalnya, semangat itu sudah nampak. Itu bagus sekali. Lewat media sosial saya terus menyuarakan itu. (rio)

Suatu Waktu


 surat untuk Nike Frans

Suatu waktu
Kami satu per satu dimuntahkan dewa langit
ke atas batu-batu dan hutan-hutan yang sedang beranak pinak
Maka menyusulah kami pada dada mereka
Ke bebatang pohon, makanan dan mimpi di berbuah sekaligus
ke lembah, insting dan nafsu menjalar
melebar ke bibir sungai,
dan yang menggantung seperti kera
dan yang melenguh seperti kerbau yang kotorannya kami makan
copyright commons.wikimedia.org
kembali ke atas pohon ketika satu dua bintang yang memberi makna
harus kami sembah, harus kami serap diamnya
kembali ke mezbah ketika bulan membesar di pundak gunung seberang, saudara kami
semesta menanamkan banyak pengetahuannya ke alam bawah sadar kami
ke bawah kaki yang telah ditusuk-tusuk dewa bumi
di hisap dan dinasehati setan yang kami takuti sekaligus gandrungi

Suatu waktu
jiwa kami satu per satu diciduk ke puncak gunung
ke sela-sela akuna yang menjalar dan menjaga air
Maka jadilah cerita yang ditulis ibu dan perempuan muda di atas lembaran tenunan
ke barisan dongeng yang melesap hingga ke anak telinga yang kelaparan
kembali kepada mimpi, kepada pelukan dan payudara ibu yang tenang
kembali ke mezbah yang berdarah, aroma sopi, jampi-jampi dan bonet
kepada jejak kaki setan di padang rumput
dan jejak mata setan di punggung bukit
segenap kisah menjadi bertulang
menusuk waktu dan terpatri pada ingatan anak cucuku
padaku yang setia
Suatu waktu
Kaupun pasti akan tahu

Mungkin Ayah Telah Menaruh Kfu Seo dan Bi Knino di Dalam Kepalaku



Cerpen: Christian Dicky Senda

untuk Forum SoE Peduli 
Kepada yang memancar dan yang memberi makan,
Dikaulah ibu
Kepada yang memancar dan yang bersembunyi di langit tenggara
Dikaulah ayah
Rusuk yang menggenapi—menghimpit dan menyuburkan aliran darah—susu ibu
Perkenankanlah anak cucu melihat keajaibamu dari pintu ke pintu Ume Kbubu yang seluruhnya mengabdi dikau
Kfu Seo...
***
Aku sedang memandang kfu seo yang terpancar jaya di langit tenggara. Pandangan yang terlampau polos dan ia seumpama tungku raksasa yang menyala dalam keleluasaan maya. Kerlipnya makin kentara dari sudut mata polosku, pukul enam petang. Angin Agustus yang menggigit hingga ke tulang. Kelu yang tak pernah usai aku utarakan semenjak peristiwa mencuri cendana yang gagal (karena bulan sudah mati). Apa kau mengira aku akan lupa? Tidak. Lima Ratus tahun lampau Bi Knino yang putih rela mati demi melestarikan wewangian pada tubuh kayu perkasa sekaligus androgini, yang hendak kucuri itu. Ayah pernah meninggalkan sesuatu pada lembaran memoriku, bahwasanya raja tua sedang menciptakan bualan jika putri tunggalnya mati demi kayu nan masyur itu. Sang putri adalah persembahan terbaik untuk pah nitu yang akan menjamin kesuburan tanah.
Dan aku gagal mencuri kayu itu.
“Dan kau, kaum jelataku berdiamlah terus dalam kebodohanmu. Biarkan hal itu menggetah dan meracuni akal sehatmu. Biarlah segala yang mewangi terurai atas namaku.”
Raja tua berkata, sekaligus menipu. Ia membunuh putri yang rohnya mewangi, demi kisah yang abadi: mausufa adalah upeti berupa kayu cendana yang mutlak rakyat berikan untuknya. Dan itu cuma bualan untuk menguasai hingga ke isi perut rakyatnya.
Ia toh bisa mengawini perempuan kulit putih dari Melaka lalu mencuri lusinan tembikarnya sambil terus berdiam dalam keserakahan yang menggunung hingga atap ume-kbubu-nya. Seratus tahun lamanya ia menjual tubuh dan jiwa putrinya yang kudus kepada pedagang-pedagang yang merapat di selatan dan utara pulau.
Demikian kisahnya.
Ada kelanjutan yang ayah tulis di memoriku. Kau tahu, dulu aku membenci ayahku. Aku selalu meronta ketika ia memaksaku menerima gumpalan kisah-kisah usang itu ke dalam kepalaku. Apalah dayaku dan sebesar apalah ayah jika membandingkan dengan pelototan mata ayah. Aku benci kumisnya. Paksaan merentang jauh. Itu dulu. 

***
Aku mengenal Bi Knino setahun lalu dalam sebuah perjalanan panjang mimpiku tentang kfu seo. Meski aku sebenarnya bukanlah lelaki yang dipilih raja untuk menjadi korban silih atas sebuah ucapan terima kasih buat Bi Knino.
Mobil land rover yang aku sewa baru saja tiba dua jam sebelumnya ke desa Fatumnasi. Aku berencana mewawancarai seorang tetua adat sekaligus mafefa, Mateos Anin. Di rumahnya yang asri lelaki tua dengan mata kalung perak menyala di lehernya, menyambutku.
Katanya, burung koak telah mengabari kalau akan ada tamu spesial. Titisan Meo dari Amanatun. Aku menyeringai. Menahan tawa yang hampir pecah.
Tiba-tiba ia bilang, mataku merah, istirahatlah. Ia lantas mengantarku ke lopo nomor sembilan yang menghadap ke tenggara. Tudurlah, katanya. Malam nanti aku ingin berbicara dengan kakekmu. Aku ingin membawa seluruh buyutmu ke sini. Ia berkata sekejap seperti sedang membacakan matera. Kepalaku berat sudah.
Lima menit kemudian aku tertidur. Menghadap ke jalan maya di tenggara, lantas bersimpuh pada kebisuan kfu seo. Dan perempuan yang mewangi itu. Bi Knino. Ia mulai meracuni hatiku.
***
Ada kabar yang mengehohkan kampung kala itu. Seorang penting pastilah yang mampu meniup tanduk kerbau dengan lantang dari arah timur. Para tetua adat berkumpul, dihantar nyanyian burung yang menandai segala kisah hingga ke gendang telinga mereka. Seorang penting sudah datang. Auuuuhuueeee.... segala koak memecah dari sudut-sudut kampung. Lelaki itu... seperti sebatang ampupu yang tak tegoyahkan. Tatapannya, senja dari gunung Sunu yang tenang bersimpuh pada tangga-tangga maya di tenggara. Ia tentunya bermata elang, tapi ia pandai menyimpan dendam. Busur dan mata kelewangnya telah diolesi racun paling mematikan. Ksatrianya adalah petikan-petikan doa yang diam-diam ia kirimkan ke ujung langit. Ia sesungguhnya menyimpan rindu pada kfu seo yang menghidupkan sejarah.
“Kau bawa apa?”
“Aku lelah. Aku melihat kelapa hijaumu, dapatkah ia membuang dahagaku jauh-jauh?”
Ia tersenyum dan menyibakkan sayap dari balik punggungnya yang liat. Dua gadis belia telah ia bawa kemari.
“Usif menyuruhku mengembalikan tawanan ini kepada raja kalian.”
Detik itu juga aroma pesta berkibar-kibar seperti panji yang lambangnya menyalak. Namanya Tefa Kamlasi. Seorang meo kesayangan Usif Banunaek. Putera fajar, penguasa gunung emas, Amanatun. Kala itu Amanuban terlalu rawan untuk ia lewati dan perseteruan diantara mereka taruh di setiap tapal-tapal batas. Namun bagi saudaranya, Mollo, darah yang bernama telah menjadi air dan abadi di Bitauni.
Namanya Tefa. Meo bermata kucing. Penghantar tawanan perang, yang dihadiahi gadis bernama Bi Toto dan segala keturunan yang menyusu dari lembah Mutis. Termasuk juga aku, pelamun yang sedang menyusuri jalan maya menuju kfu seo di langit tenggara. 

copyright: martineperret.photoshelter.com

***
Lelaki tua di depanku ini, Mateos, kukira ia sedang gila!
Ia tiba-tiba datang dengan pakaian kebesarannya (dengan penuh kalung muti di leher), mengguncang-guncang tubuhku, katanya,
                “Kembalilah!” ia menempelengi pipiku keras-keras. Kukira mataku kembali memerah dan sembab.
Sepuluh orang berpakaian adat telah mengelilingiku. Aku terperanjat. Apa mereka benar-benar memberikan darahku untuk santapan Bi Knino?
                “Bodoh kau! Kenapa kau mencuri kalung muti bermata perak ini?” Sungguh, hardikan terakhir ini menghentikan detak jantungku sesaat.
Mereka yang mengelilingku dan bersegera menyembur mukaku dengan air bercampur ramuan yang entah—sirih pinang pahit dan bubuk kapur yang bernama “pertahanan tradisi” . Doa dan jampi bertebaran. Amis darah ayam meruap. Sopi membasahi mulut gelas. Sirih pinang menutup kegelisahan mereka.
                Siapa yang mencuri dan yang memakainya adalah si gila yang akan aku sembuhkan. Dan mereka mendadak berubah menjadi manusia pohon, berkulit hitam seperti kera yang berbulu turun dari Fatumnasi.
***
Perjalanan ini menyenangkan, kawan. Kau tahu, aku menemukan perempuan itu mencintaiku. Bi Knino nama yang teramat rahasia. Aku hampir saja mencurinya dalam sebuah ritus yang kupelajari dari catatan yang ayah tinggalkan di sebuah ruang rahasia di dalam kepalaku. Aku memang berhasil mencuri hati Bi Knino. Kepadaku ia mengajari cara menghormati bintang di langit tenggara. Ibuku—ayahku—sekaligus. Darinyalah, waktu bisa diajak untuk tak terlalu berjarak dengan manusia. Namun waktu bisa teramat lama jika kau bandingkan dengan kesadaranmu.
Bi Kninolah yang memberiku sebuah kalung. Sani Anin. Itulah nama yang terukir pada lempengan perak bertuah. Katanya, jika kau memakai itu kau bisa menyelamatkan wajah-wajah terasing yang menempel di dinding Fatumnasi. Kau mungkin saja bisa menari bonet dengan kaki yang tak menyentuh tanah di seberang akunaampupu yang telah mengerdil di kaki Mutis. Kau mungkin saja akan menjadi mesias yang menyelamatkan puluhan tubuh yang tertanam hidup-hidup dengan hanya kepala yang menyembul. Atau kaukah korbannya? Malam ini gagak dan anjing hutan akan menggenapinya—melepas mata dan daun telinga jauh dari otakmu. Sedih memang hidup manusia.
Bi Knoni ataukah Hawa? Tubuhmu harum, ada kuncup di dadamu. Kunci—kalung—kunci—kalung seperti racun, seperti bebayang racun.
Aku tak jadi bertemu Tefa.
Aku berjalan dan mendapat pengetahuan baru: semua pintu rumah di kampung ini menyembah ke arah tenggara. Bukan. Ayah sudah menaruh pengetahuan ini sebelumnya, di kepalaku. Adakah kisah lain yang sudah ditaruh ayah di kepalamu?
***
Aku sedang ngeri sendirian di tengah hutan ampupu. Tubuhku memang sudah kaku sebab ia seutuhnya tertanam. Hanyalah kepalaku yang masih utuh menyembut dari dasar tanah menunggu untuk dicabik-cabik anjing hutan. Cerita ayah yang tersisa di kepalaku mungkin saja lenyap bersamaan totokan elang atas otakku yang terburai. Mateos Anin telah menanamku hidup-hidup!


Pasir Panjang, 14 Februari 2014
             
Kfo seo:                bintang Sembilan, salah satu bintang yang muncul di langit tengara menjelang petang yang menjadi tonggak dan sumber kekuatan spiritual bagi masyarakat desa Fatumnasi. Seluruh ume-kbubu di sana menghadap ke kfo seo
Pah nitu:             roh yang mendiami bumi yang dipercaya orang Dawan sebagai pemberi kesuburan atau bertanggungjawab atas sukses dan gagalnya sebuah panenan.
Ume kbubu:       rumah tradisional suku Dawan-Timor, dengan atap dari ilalang dan menjuntai hingga ke tanah
Burung koak:    cikukua tanduk  (Philemon buceroides)

Christian Dicky Senda, penggagas proyek #KanukuLeon: distribusi buku-buku sastra penulis NTT untuk taman baca dan perpus sekolah yang tersebar di NTT. Sedang menulis buku ketiga, #ZuidMiddenTimor.

Senin, 07 April 2014

Masihkah Kau Gantung


Apakah yang paling kau nikmati dalam hidup ini, hai petualang lajang?
Perempuan itu sudah kau namai, Perempuan Senja
Telah beberapa kali kau bonceng dan membiarkan degup yang aneh menjalar di rongga dadamu dan lepas ditelan angin malam (kadang ia menangkap momen itu)
Kau senangkah?
Bahagiakah, hai petualang lajang?

Room's Rain. copyright www.huffingtonpost.com

Apa aku harus bilang cinta, agar semuanya bermakna?
Agar yang menyebabkan degup-mejalar-lalu menggantung
yah digantung, menjadi berarti?
Ada kisah yang kita warnai
Terlalu intim dan rahasia
Termasuk mencoba menginterpretasikannya ke dalam puisi
rayuan gombal atau kiasan di laman blog ini
Jangan pernah!
Perasaanku terlalu murni
terlalu rahasia
terlalu dalam
untuk kita nikmati--hanya kita
selebihnya, biarkan semesta yang mengatur segalanya mengalir-berdegup-merona-menusuk-menghipnotis
kamu
aku
dalam kewenangan semesta yang kita hirup
berjam-jam di tepian pantai Koepan
atau di sudut mata yang sejatinya paling merasuk: sesederhana itu...

masihkah kau gantung?