KANUKU LEON
Kanuku Leon
Penting:

Minggu, 19 April 2015

LDR



Lalu wajahmu akan senyap dalam ingatan

Lelap dalam satu dua kali pelukan

Entah kapan


2015



Kamis, 16 April 2015

Linimasa



 
Tahun 1997. Usia saya baru 11 tahun. Sebulan setelah kematian Kakek, saya bangun tidur dan mendapati diri saya terjebak dalam sebuah pertanyaan, kenapa pohon beringin menjadi penting. Kenapa ada beringin di halaman Gereja, halaman rumah raja, di depan kantor camat, di gerbang menuju lapangan kampung atau di tengah pekuburan umum. Anggap saja ini refleksi sederhana masa kanak saya yang selalu beranggapan tak ada satupun  dalam hidup yang tak bermakna dan sia-sia. Saya adalah anak kampung yang besar di sebuah kecamatan di wilayah Mollo yang keseringan berkelambu kabut dan mendapati itu seperti sebuah lembaran buku misteri yang harus saya cari tahu sendiri.
Di depan Gereja dekat rumah saya, ada sebatang pohon beringin bertangan sembilan. Di bawah kakinya ditakhtakan sebuah patung Maria. Maria Immaculata. Menurut Ayah, persis di depan beringin itu dulunya berdiri Gereja Katolik perdana di tanah Mollo. Di sampingnya dibangun sekolah dasar Katolik, juga yang pertama di Mollo. Seorang Klerek yang baru saja pulang merantau dari Maumere membawa dan menyatakan kabar baik dariNya kepada Mollo.
Pada sembilan tangannya, saya dan teman-teman terbiasa bergelantungan sambil berkelakar ria. Diam-diam saya merasakan adanya relasi misterius antara saya dengan pohon beringin yang semakin hari semakin kelihatan rupanya, sesosok pria sekaligus wanita renta bersorot mata kuning langit senja. Pancaran kebijaksanaan.
Saya anggap relasi itu anugerah atas pertanyaan yang datangnya seperti pencuri.  Sebab dengan demikian saya mungkin bisa mendapat jawaban yang paling berbeda yang sudah saya dapatkan dari Ayah saya. Bahkan ini terjadi karena saya bukanlah tipe orang yang mudah percaya.
Ia bahkan telah menjadi sahabat karib saya. Ia ada di mata saya, berbagi kisah dalam buku harian saya. Ia bahkan kerap berganti rupa dalam sketsa di buku gambar saya. Ia hadir melampaui  sekat-sekat ruang dan waktu. Kepada seorang sahabat pena saya di Jayapura, saya membagi kisah misterius ini. Yustin Menanti namanya.
Kepada Yustin saya menulis,
“Kawan, kau mungkin tidak percaya jika saya bisa berbicara dengan pohon beringin. Ia datang seperti pencuri.”
Pada suatu hari yang penuh hujan, saya pulang sekolah sendirian. Berbekal daun pisang saya menembus kebun kopi yang daunnya riuh diterpa hujan. Masa kanak saya tak mengenal payung apalagi jas hujan. Bergerombol di kala hujan dengan daun pisang atau daun keladi memberikan keseruan yang maha dahsyat. (Beberapa teman saya menggunakan daun lontar yang telah dikeringkan sebagai pengganti payung).
Ketika melewat beringin bertangan sembilan, saya mendengar panggilannya, katanya, “Mari sini, berteduh dulu...,” Tubuhnya basah dan murung. Tanpa ba-bi-bu saya langsung menuju ke bawah kakinya, tempat Maria berdiri dulu (patungnya telah dipindahkan ke celah jantung bikit Napi) yang kering tak tersentuh lidah-lidah hujan. Kami mengobrol lama dan saya menangkap wajah Ayah membayangi wajah pria sekaligus wanita renta.
Sebulan kemudian surat balasan dari Yustin tiba di rumah. Sudah saya duga bahwa ia menulis tertawaanya dalam sederet ‘hahahahaha’ panjang. Tapi sejurus kemudian, ia menyampaikan perspektifnya yang notabene tak jauh beda dengan apa yang sedang saya alami ini. Ia punya pertanyaan yang sama dengan yang saya miliki.
Hidup ini seumpama rollercoaster yang bergerak naik turun, menukik dan berbelok pada jalurnya sendiri. Seperti darah dalam alirannya akan dipompa jantung ke semua tempat yang harus ditujunya. Pada jalur atau pun alirannya, segala kisah dinyatakan dan diimpikan. Diberi atau diambil kembali. Pada selanya, kisah-kisah misterius dicucupkan Ayah-Ibumu. Dan saya melihat sendiri bahwa perjalanan rollercoaster saya menjadi bermakna karena berlapis-lapis kisah misterius pemberian Ayah-Ibu saya. Semua perjalanan punya tujuan masing-masing. Seperti pada saat ketika secara tiba-tiba rollercoaster itu berhenti.
Ketika saya mengalami mimpi basah pertama, wajah yang saya akrabi itu perlahan pudar dari mata, buku gambar dan catatan harian saya. Ini mungkin karena saya yang sedang dijebak fase pubertas itu mulai tergila-gila pada gadis keturunan Tionghoa, cinta pertama saya, teman bernyanyi Cinci Boncu di masa kanak saya.

Cinci boncu
Boncu laka boncu
Tanam sayur, pancing kea
Malu-malu udang de’

Ah saya malu.
Ia secara sadar dan samar mulai membiarkan ruang baru tercipta dalam jiwa saya. Dalam nyata dan mimpi saya, gadis dari Avilla itu. Benar saja, saya lupa dan melupakannya mengendap dalam ruang bawah tanah rumah jiwa saya.
Tahun 2011, usia saya sudah 25 tahun. Dalam sebuah toko buku megah di kota Kupang, secara tak sengaja, saya menemukan sesosok yang pernah saya akrabi dulu: teman berbagi mimpi. Karena misteri yang ada hanya mampu dipecahkan alam mimpi, bukan di alam nyata. Namanya bahkan baru saya ketahui. Kanuku Leon. Sang raja tua renta dengan sorot mata ‘molfa mate―yang amat menguning,’ pancaran kebijaksanaan dan keadilan hidup. Sungguh, ini pertemuan kedua yang membawa saya pada proses pemaknaan yang lebih dalam.
Ketika kembali ke rumah, saya mendapati ada nafas dan aroma tubuh ‘Kanuku  Leon’ dalam file-file puisi dan cerpen yang pernah saya tulis. Bahkan di masa-masa krisis cinta saya ketika ditinggalkan si gadis dari Avilla, saya malah begitu produktif menulis. Adakah ia sudah menyatu dalam nafas dan aroma tubuh saya? Apakah hal yang sama juga dialami warga Polinesia dan Melanesia yang menempatkan pohon beringin dan mimpi pada tempat yang spesial?


Buku ini saya persembahkan kepada Bapatua dan Mamatua. Merekalah yang sudah ‘meracuni’ jiwa saya dengan kisah-kisah gemilang tanah Mollo di masa silam. Di meja makan kami terbiasa mendongeng, bertiga atau berenam dengan kakak-kakak saya. Sudah saya bilang, pada selanya, kisah-kisah misterius akan dicucupkan Ayah-Ibumu ke mulut dan pengetahuanmu.  Merekalah ‘biang kerok’ suburnya pohon imajinasi saya.
Kepada tanah Mollo, sumber dari segala sumber kebijaksanaan hidup. Kepada sebaris gunung―Mollo, Naususu, Fatumnasi hingga Mutis yang kerap mempertontonkan segenap misteri dan keangkuhannya (saya baca itu dari senja kuning di ketinggian Bolaplelo, kilometer duabelas menuju Kapan). Merekalah struktur dari semua mimpi-mimpi saya selama ini.
Kepada Mama Aleta Baun, pejuang adat dan lingkungan asal Mollo yang menjadi inspirasi menulis saya. Kepada para atoni meto Mollo yang sejak pulau Timor ada, telah dipercayakan untuk menjaga dan memelihara hutan dan gunung. Sebab dari sanalah susu, madu dan air dialirkan ke sebagian besar pulau Timor.
Terima kasih kepada para donatur yang turut mendukung crowd-funding #KanukuLeon: Jonatan Lassa, Elcid Li, Chandra Dethan, Okke Sepatu Merah, Danny Wetangterah, dan Yanuar Awaludin. Syukurlah lewat Kanuku Leon, kita bisa membeli banyak lagi buku-buku sastra karya penulis NTT untuk didonasikan ke perpustakaan sekolah dan taman-taman baca yang ada di NTT. Misi saya, agar semakin banyak karya anak NTT yang dikenal dan diapresiasi di kampung sendiri.
Kepada saudara sehati-sejiwa, Mario F Lawi, Sandra Olivia Frans, Prim Nakfatu, Pion Ratulolly, Djho Izmail, Tuteh Pharmantara, Amanche Franck Oe Ninu, Arky Manek, Fransiska Eka, Patris Allegro, Abdul M Djou, Maria Pankratia Mete Seda, Doddy Nai Botha, Voltaire Talo, Josua Natanael Sriadi, Umbu Nababan, Fauwzya Dean, Yustina Liarian Eto dan Gerald Louis Fori. Dua manusia keren, Arystha Pello dan Rara Watupelit. Terima kasih. Komunitas Sastra Dusun Flobamora, rumah sastra saya. Komunitas Blogger NTT dan MudaersNTT, rumah menulis saya. Forum Soe Peduli, kumpulannya orang muda TTS yang punya mimpi besar untuk kabupatennya agar lebih baik. Siswa-siswi saya di SMPK St. Theresia Kupang, rumah tempat saya belajar sabar dan kreativitas. Terima kasih sudah membuat saya awet muda, ha-ha-ha.  
Inilah rollercoaster saya. Linimasa saya. Mari bermimpi.

Christian Dicky Senda

Senin, 13 April 2015

Gugur Sepe Usapi Sonbai





“Beta liat Maria datang kasih bangun beta. Dia bilang, bangun sudah Joseph, Isa ada tunggu lu di kapela. Beta bangun terus pi kapela. Di sana beta liat dong pung pakaian bercahaya, dan beta percaya, akhirnya beta sembuh.”

“Diam gila! Lu mati sa,” teriak sebagian besar umat.

“Dia bersaksi palsu, Romo!”

ilustrasi Rara Watupelit dan Ayu Pello


***

Kapela St. Theresia dari Avilla Usapi Sonbai.

Adven tiba, pohon sepe berbunga indah dan pemuda seperempat abad itu nampak sedang galau. Misa mingguan baru saja usai. Pastor tamu yang biasanya datang melayani telah kembali ke Sikumana. Umat jauh lebih gegas untuk pulang ke rumah masing-masing meninggalkan tembok kokoh kapela berwarna putih yang kini dijaga bunga segar sepe dan wajah sendu sang koster. Kontras.

Matahari nampaknya masih terlalu garang untuk Desember kali ini. Lidah-lidahnya bercahaya tajam menembus duabelas kaca patri di atas pintu sisi depan kapela dan belakang altar. Rupa Roh Kudus yang terpatri tinggi kini bergerak menukik ke arah lantai setelah tubunya ditembusi spektrum matahari yang bergerak disilih awan gemawan. Begitu juga wajah kudus Maria dan Kristus Putra Terkasihnya. Hati mereka nampak lebih merah dengan desir nadi yang juga digerakkan matahari. Kontras.

Di depan sana, sinar yang yang terpancar dari kaca-kaca patri bergerak lebih harmonis dan cenderung lamban. Tiada lidah matahari yang terlalu angkuh untuk menjilat sisi Selatan di mana pintu gerbang kapela berada. Namun dalam kesamaran cahaya, kaca-kaca itu justru sedang bercerita. Menyentuh lengan satu sama lain dalam kesunyian yang dalam, berbagi kisah tentang penciptaan mahamulia.

Ulah kaca-kaca patri itu bahkan mulai menarik perhatian pria muda seperempat abad yang tertelut galau di pojok bangku panjang coklat. Dengan peluh dan air mata yang merembes di wajah, ia mungkin sedang mengadu pada Tuhan. Ataukah novena sedang ia daraskan secara taat. Ditatapnya nanar tahta tabernakel coklat berbentuk ume kbubu, seolah sedang menunggu sebuah jawaban yang akan keluar dari rumah tabernakel itu.

****

Dua tahun sudah Maria meninggalkanku tanpa pamit dan restuku. Meninggalkan Usapi Sonbai permai, aku dan segala kisah manis kami. Maria diam-diam pergi ke Malaysia menjadi TKW.

 “Lu harus jemput lu pung mimpi, Maria!” sebuah bujukan pamungkas keluar dari mulut Omnya, sang perekrut TKI (ilegal!).

Lanjutnya berapi-api, “Lu pung mimpi ada di Malaysia. Bukan di Usapi Sonbai sini. Apalai deng itu koster yang dia pung masa depan sonde jelas. Lu mau makan ta’i deng itu anak yatim piatu, ko?!”

Terlalu banyak contoh sukses para TKI di kampung ini yang membuat perkataan Omnya terlalu di atas angin. Meski sebenarnya tak jarang juga yang pulang dengan berbagai kisah pilu, bahkan pulang sebagai jenazah penuh luka memar! Ah, mungkin saja orang Timor yang terlalu silau dengan harta benda yang dibawa pulang para TKI atau memang karena mereka terlalu berani untuk mengadu nasib dengan nyawa yang ditukar dengan ilegalitas.

Malaysia memang memberikan banyak silau bagi Maria (dan orang-orang Usapi Sonbai), tapi tidak dengan cintaku, statusku sebagai koster dan petani sederhana.

“Lu liat Joseph to?! Berdoa tiap hari, urus Tuhan pung rumah dan hidup melarat begitu saja, mau apa lai?!”

Kata-kata pedas itu toh akhirnya sampai juga ke telingaku, meski tak ada gunanya. Maria sudah bahagia di Malaysia.

Ia mungkin juga sudah lupa dengan kebiasaan kami membersihkan kapela bersama dan berkebun. Dan ketika masa adven tiba, pohon-pohon sepe di samping kapela mulai berbunga, kami bisa menghabiskan banyak waktu duduk berdua di bawah pohon sepe.

Aku ingat momen pertemuan terakhir kami lima tahun silam. Di bawah pohon sepe yang sama, aku mengutarakan niatku untuk menikahinya. Aku bercerita, bahwa pastor Agustinus berniat meminjamkan modal usaha bagiku. Sudah kubayangkan usaha peternakan babi dan kios kelontong kecil berada di dalam kepalaku. Ia mendengar dengan mata yang berkaca-kaca. Sama sekali tak kulihat ada setitik pun dusta di bola matanya. Tapi mungkinkah hasutan pamannya jauh lebih mujarab? Atau ia hanya pergi karena dipaksa keluarganya? Waktu bergulir begitu cepat. Rasanya seperti baru kemarin, tetapi efeknya terasa berkepanjangan dan membatu. Berat rasanya.

Lima kali sudah sepe-sepe ini berbunga dan tak pernah ada kabar berita darinya.

Secara samar aku merasa Tuhan tak adil padaku.

***

Empat minggu masa Adven lewat sudah. Hari Natal tiba. Umat bergegas ke kapela dengan pakaian terbaik mereka. Anak-anak bahagia karena kantong kemeja dan rok penuh gula-gula dengan kembang api bertengger di tangan. Binar mata akan naik berkali-kali lipat ketika misa usai, semua pintu rumah tangga terbuka bagi siapapun. Istaroop dan kukis kering kiloan bakal laris manis di meja tamu. Natal milik semua yang mencintai sukacita. Tapi untuk tahun ini, kebahagiaan itu tak berlaku bagi Joseph.

Pada saat Natal atau Paskah, seorang koster sepertinya akan bekerja ekstra. Dan biasanya ia melakukan semua hal dengan senyum lebar. Tapi tidak untuk tahun ini, tahun kedua sepe berbunga tanpa ada Maria di sisinya.

Pagi-pagi, ia bangun dalam keadaan gelisah. Sebuah mimpi buruk baru saja terjadi, pikirnya. Tapi kemudian pikirannya buntu. Mengendap bersama keringat di bantal. Tak ada bekas cerita yang terserak di memorinya. Ia menebak-nebak dalam gelisah.

Kemudian ia sarapan diiringi gelisah, ke hutan pun bersama gelisah. Ia akan mengambil cemara hutan, sekarung rumput dan tanaman menjalar yang akan dipakai sebagai dekorasi kandang Natal kapela kali ini.

Hari ini, menjelang misa malam Natal, ia lalui dengan keadaan gelisah yang makin akut. Hingga misa usai, Joseph hanyalah robot berwajah murung yang sengaja diatur untuk hilir-mudik di ruang sakristi mungil seperti setrika rusak.

Baru saja pastor Agustinus memberikan berkat penutupnya, hapenya berdering tanda SMS masuk. Sontak bunyi itu merobohkan tembok gelisahnya untuk membangun berlapis-lapis tembok gelisah baru yang campur-aduk. Praakk!! Hape tuanya terjatuh. Dengan tangan  gemetar ia meraih baterai yang terpisah dengan badan hape, memasang dengan cepat dan menekan tombol aktif. Ia melakukan dengan gemuruh di dada yang aneh. Semakin aneh, bisu dan... lututnya terjatuh menikam lantai secara tiba-tiba.

“Ose, katong dapat kabar dari teman-teman di Kupang. Dong bilang Maria su mati di Malaysia. Kena perkosa abis itu orang bunuh. Coba lu hubungi dia pung orang tua. Kuat e, Ose?! GBU! (Melky).”

Kelompok koor menyanyikan lagu penutup ‘Joy to the World’ dengan gegap gempita. Namun di telinga Joseph, lagu itu terdengar mengalir pelan dan suram. Lenyap hingga gelap menyergap.

Tuhan tak adil padaku. Novenaku sia-sia!

***

Setelah kematian Maria, perangai Joseph berubah total. Ia menjadi pemurung dan mulai menciptakan jarak dengan kapela tercintanya. Sebulan setelah Natal, Joseph benar-benar mengajukan permohonan pengunduran diri dari tugasnya sebagai koster. Namun hati kecil pastor Agustinus berkata lain. Sebagai pastor di paroki induk, ia tak boleh melepaskan koster terbaik di kapelanya terhimpit dalam keputusasaan. Ia mencari koster pengganti dan meminta Joseph tetap tinggal di kapela, mengurus kebun dengan waktu istirahat yang longgar.

“Terima kasih, Romo. Biar sa beta tinggal di pondok di kebun. Beta rasa bosan tinggal di kapela ini.”

Tuhan tak adil padaku.

Pastor Agustinus membolehkan. Namun diam-diam, ia meminta Guido—koster pengganti—untuk mengontrol kondisi Joseph di kebun. Sebab sebagai pastor di paroki induk di Sikumana, ia hanya punya waktu sebulan sekali untuk mengunjungi Usapi Sonbai.

Seminggu kemudian, tersiarlah kabar di telinga umat hingga ke telingan pastor Agustinus bahwa Joseph sudah gila! Ia dikabarkan tidur-tiduran sambil meracau tak karuan di bawah pohon sepe dekat kapela. Kadang ia terpergoki sedang memeluk pohon sepe sambil mengobrol seperti sedang berbicara dengan seseorang. Sungguh, ia sudah dianggap gila oleh umat.

Lebih naas lagi, akhir-akhir ini ia makin menjadi-jadi. Ia kedapatan menangis meraung-raung sambil memeluk pohon sepe yang mulai rontok bunga-bunganya. “Jangan jalan lai... jangaaan!” Teriaknya.

Ia berteriak hingga tertidur pulas.

Dari ujung tembok, tempat cahaya matahari biasanya jatuh menembus kaca patri, datanglah seberkas cahaya membentuk tubuh manusia menuju ke arah pohon sepe. Perempuan cantik yang murni hatinya. Katanya pada lelaki muda yang tertidur pulas,

“Bangunlah Joseph, Isa menunggumu di dalam....”

Ia pergi meninggalkan sepe yang mulai berguguran.



Kupang, 12-12-12



Ketrangan:

1.      Ume kbubu: rumah tradisional suku Dawan, Timor, dengan atap alang-alang yang menjuntai hingga menyentuh tanah. Secara harafiah, ume kbubu berarti ‘rumah bulat’.

2.      Istaroop: sirup rasa frambozen.

3.      Pohon sepe: pohon flamboyan (Delonix regia).

Cerpen ini pernah dimuat di antologi cerpen Temu 1 Sastrawan NTT, Kematian Sasando.

Minggu, 12 April 2015

Rindu dan Cermin



kau hari ini tak pergi mengajar. kau hanya duduk menulis di rumah (sekali pergi memasak, lalu makan) dan terus menulis. ada dua anak di kandungan yang mesti kau urus; dua naskah berisi belasan cerpen dan puluhan puisi, sedang menunggu waktunya lahir. kau (yang lain) entah sudah menghilang ke mana. rindu harusnya sedekat cermin.

‪#‎catatanharianleon‬


Sabtu, 11 April 2015

Lilo




Lilo menyembunyikan dua rahasia besar dibawah lipatan mimpinya
Tulang dan darah pernah mengajarkan dia
Untuk menjadi seperti orang Rote dan Kisar
Sampai suatu ketika
Tulang itu layu
Darah itu pucat
Mimpinya terhenti
Apakah karena dia Rote dan Kisar?
Tangis ibu pecah
Ayah terus pergi menguasai laut
Ayah lupa mengajarkan tanda salib untuk tubuh Lilo
Tangis ibu pecah; Ayah marah pada Tuhan



Ketika paskah tiba
Ibu masih saja menangis
Angin menggerung-gerung memuluk atap rumah
Lilo terjaga
Didapatinya mimpi mengambang dalam danau darah dekat jantungnya
Jantung itu bercahaya hingga ke lengkung matanya
Ia bingung mengapa ibu menangisi rosario di tangan
            Ibu, apakah ayah sudah mati?

Lilo berdiri dan terbang ke kapela
Ia ingin bertanya pada Tuhan
Seribu malaikat mengantarnya dalam cahaya kunangkunang
Lilo ingin minta pada Tuhan
Lilo masih ingin punya mimpi
Lilo yang katanya lumpuh layu
Lilo yang katanya berhati malaikat
Lilo yang ingin Ayah bertobat
Lilo yang ingin ibunya berhenti menangis
Lilo yang percaya bahwa tangisan mengundang amarah alam

Lilo yang bisa apaapa karena selalu dibantu malaikat
Selalu dibisiki malaikat

Di rumah ibu masih menyimpan duka
            Bapa yang kekal kepadamu
            Kupersembahkan tubuh dan jiwa putriku
            Sebagai pemulihan dosa-dosaku, suamiku
            Dan dosa seluruh dunia. Amin

Tubuh Lilo bercahaya sudah
            Tuhan, apakah ayah akan pulang pagi ini?
            Apakah ia membawa seember udang segar?
            Beritahu ayah, aku ingin makan udang itu bersamanya
            Juga ibu

2015

Jumat, 10 April 2015

Paskah di Rote: Menemukan Jejak Karya Pater Franz Lackner




Mercusuar Ba'a
Rote. Saya mengetahui pulau ini ada di selatan Indonesia. Rote punya gula air, sasando dan pantai-pantai yang dikenal luas hingga ke Australia. Saya kenal beberapa teman penggerak kaum muda di Rote, mereka yang sudah menggagas banyak sekali kegiatan, membangun taman baca hingga yang sedang berjalan awal April ini yakni Rote Mengajar. Ah, tanpa disadari saya sudah mengetahui banyak tentang Rote namun sayangnya saya belum pernah sekalipun ke Rote. Maka ketika masuk masa Prapaskah, kakak yang seorang pastor bilang bahwa ia kemungkinan besar akan merayakan paskah di Rote, saya menyampaikan niat saya untuk ikut. Awalnya belum ada kepastian, sebab kakak saya pastor tamu dan dia perlu membicarakan itu dengan tuan rumah karena teman-teman Solidaritas Giovanni Paolo yang lain pun ingin ikut ke Rote. Singkatnya rencana itu jadi dan saya ke Rote tanggal 2 April bersama Imel sang calon suster dan kak Evi Lemba, bendaraha kami di Solidaritas Giovanni Paolo. Kakak saya dan 2 orang frater sudah duluan berangkat sehari sebelumnya.
Hari itu Kamis, Kamis Putih dalam lingkaran Paskah gereja Katolik. Kami menumpang kapal cepat Bahari Express. Perjalanan dari pelabuhan Tenau menuju pelabuhan di kota Ba’a, ibukota Kabupaten Rote Ndao ditempuh selama satu setengah jam. Tepat jam sepuluh pagi kami tiba di Ba’a. Langit biru dengan awan putih serta lanskap kota pesisir yang mungil menyambut kami. Ada sebuah menara suar putih dan besar yang cukup mentereng diantara deret rumah dan pertokoan di Ba’a. Menarik sekali.
Kami mampir ke pastoran paroki St. Kristoforus dan bertemu beberapa orang yang sudah saya kenali. Beberapa murid saya di SMPK St . Theresia dan beberapa saudara Romo Alo, pastor paroki, yang dulunya pernah bertugas di kampung saya di Kapan, jadi saya kenal baik. Obrolan menjadi seru dengan suguhan teh panas dan pisang sale yang nikmat buatan kak Grasia, kepala dapur di pastoran. Kami lantas diantar ke rumah umat yang sudah berbaik hati menerima kami di kampung biru dekat SMAN 1 Lobalain. Saya menginap di rumah bapak Marius, seorang guru Fisika asal Cibal Manggarai (istrinya dari Manggarai Barat) sedangkan Imel dan kak Evi di rumah ibu Tuti, seorang pengawas sekolah, juga berasal dari Manggarai (Reo).
Bahari Express

Bapak Marius punya empat orang anak. Lulusan Universitas Nusa Cendana Kupang, sempat mengajar di sekolah minisonaris SSpS di Kefamenanu, hingga akhirnya tahun 1994 lulus PNS dan ditempatkan di Baucau Timor Timur (sekarang Negara Timor Leste). Bertemu jodoh dan menikah di Baucau, hingga akhirnya pindah ke Rote sejak tahun 2000 pasca jajak pendapat. Merekalah seperti para pendatang pada umumnya, yang ikut membangun gereja Katolik di Rote. Sebagai catatan, orang Katolik perdana di Rote dan Ndao adalah mereka yang bekerja sebagai pegawai pemerintah, baik guru maupun PNS kantoran. Ketika Rote dilayani Pater Franz, perayaan ekaristi kadang berganti ibadat sabda hingga berbulan-bulan sebab Pater Franz harus melayani umat di 3 pulau; Rote, Ndao dan Sabu. Merekalah yang akhirnya mengambil alih sebagai misionaris awam, ikut mengurus gereja, memimpin ibadat di gereja dan dari rumah ke rumah. 
Kisah ibu Tuti tak jauh berbeda. Ia sudah datang ke Rote sebagai guru TK sejak tahun 1994. “Saya datang ke Rote kala suasana serba sulit. Tidak seperti sekarang ini. Dan saat itu masih terjadi perang saudara. Umat Katolik tak sebanyak sekarang.”
Mereka lantas berbagi kisah tentang perkembangan iman umat Katolik di Rote yang sudah dirintis jauh sebelumnya oleh Pater Franz Lackner, SVD. Ah, misonaris Eropa itu. Saya sudah sering mendengar namanya. Mendengar berbagai kisah inspiratif tentangnya. Dan di Rote, beberapa orangtua di Paroki St. Kristoforus kerap menyebut nama dan kebesaran hati yang kerap diperbuatnya. Saya diam-diam kagum dan penasaran akan sosoknya.
“Saya percaya bahwa pater Lackner itu sosok yang hebat. Ia betul-betul menjalani kaul kemiskinan dan ketaatan. Saya tidak berlebihan, ini nyata. Ada mujizat yang diam-diam beliau perbuat. Dan itu banyak sekali. Siapa yang tak kenal pater Franz? Beliau membantu siapa saja, mau agama apapun dengan senang hati ia akan membantu.” Jelas ibu Tuti panjang lebar.
Saya diundang sarapan roti bakar dan teh hangat di dapurnya yang sederhana. Rumah ibu Tuti berdekatan dengan rumah pak Marius tempat saya menginap. Rupanya kak Evi sudah bercerita ke ibu Tuti bahwa saya senang menulis dan ingin sekali tahu banyak hal tentang Pater Lackner langsung dari mulut orang-orang yang pernah hidup bersamanya. Ibu Tuti lantas melanjutkan ceritanya tentang betapa sosok itu begitu baik dan sederhana. Di Rote, pater Lackner menjalin hubungan yang baik dengan para pendeta dan umat gereja Protestan. Beberapa hari sepulangnya kami dari Rote, saya akhirnya punya kesempatan bertemu dan mengobrol dengan pater Franz di biara SSpS Belo. “Kami adalah minoritas di Rote. Saya ingin membangun hubungan baik dengan gereja Protestan dan saya tidak pilih-pilih kepada siapa saya harus bantu. Mereka juga sudah banyak membantu saya dalam proses pelayanan umat Katolik.” (Cerita khusus tentang pertemuan saya dengan pater Lackner akan saya ulas tersendiri di postingan berikutnya.)
Pater Lackner dalam gambaran umat Katolik di Rote adalah sosok yang murah hati. Ia membangun pabrik rumahan yang memproduksi genteng dan batu bata. “Jika ada yang butuh dan beliau melihat memang orang tersebut butuh maka batu bata akan diberikan secara cuma-cuma. Begitupun obat dan kacamata akan dibagikan gratis. Stok obat dan kacamata banyak sekali di pastoran,” jelas pak Marius. Menurut ibu Tuti, ia hanya mau membantu orang susah, jadi jika kamu PNS dan pergi meminta obat, kacamata atau batako, pasti akan ditolak. Dua hal menarik lainnya. Ia tidak menyukai pesta pora dan pernah menangis ketika ada umat yang memotong pohon rindang di depan gereja. Ah, berbicara pastor sekarang yang benar-benar menjalani kaul kemiskinan dan peduli pada umat rasanya semakin sulit.

Jumat Agung di Ba’a
Matahari Ba’a di hari Jumat Agung rasanya seperti dobel. Jam 8 pagi kami sudah menjalani ibadat jalan salib di kompleks sekolah dan biara susteran RVM. Di ibadat ini saya bertemu kak Luis Gawa senior saya di SMAK Syuradikara. Sehabis ibadat saya, Imel dan kak Evi pergi jalan-jalan keliling Ba’a. Rupanya kedua teman saya ini sudah ngos-ngosan lagi kepanasan ketika kami baru saja menyentuh trotoar pertokoan di sepanjang pantai Ba’a. Saya akhirnya melanjutkan perjalanan sendirian menyusuri pertokoan yang mulai nampak usang. Ada banyak sekali orang tua Cina yang saya temui di halaman toko mereka. Di dekat dermaga, saya mendekati anak-anak yang sedang berenang bersama. Dari obrolan saya pun tahu mereka sudah bercampur baur. Ada anak Jawa, anak Rote, anak Timor, dan Bugis, berinteraksi dalam satu ragam logat dan bahasa; Melayu Kupang. Berhubung saya tak bisa berenang saya hanya berbicara saja dari pinggir tembok sambil melihat mereka meloncat dari atas perahu rusak. Ah, andai saya bisa berenang mungkin sudah ikutan nyebur juga.
Sorenya saya mengikuti ibadat Jumat Agung dan bertemu lagi banyak alumni Syuradikara yang berkerja di Rote, termasuk juga orang tua dari murid saya di Speqsanter. Selesai ibadat, pak Ferdy yang aktif di paduan suara paroki Ba’a mengajak kami mampir ke rumahnya di belakang Polres Rote Ndao. Pak Ferdy adalah orang tua dari salah satu murid saya. Menyenangkan bisa bertemu orang tua murid di tempat yang tak terduga dan kami mengobrol banyak hal tentang.... Pater Lackner. Lagi-lagi beliau. Ada perspektif baru yang ditambahkan. Dalam hati kok rasanya saya ingin sekali menulis cerpen tentang beliau sebagai penghormatan untuk segala kebaikan dan usahanya membangun iman umat Katolik di Rote. Ia bahkan mengajarkan tentang cinta kasih melebihi ajarannya tentang iman. Bukankah ditulis demikian, bahwa ada iman, harap dan kasih namun yang paling besar adalah kasih. Kristus itu sendiri. Kami disuguhi jagung bose dan sambal lu’at yang nikmat di rumah pak Ferdy. Jumat Agung dan perut saya penuh dengan makanan. Tuhan tahu, tubuh kurus saya memang butuh banyak asupan hahaha.

Sabtu Alleluya Keliling Rote Barat Daya
Sabtu pagi, 4 April 2015, saya kabur ke Batu Termanu. Betapa beruntungnya dipinjami motor oleh pak Marius. Pagi-pagi saya sudah mengunjungi taman baca Sarisandu yang dikelola oleh teman-teman muda dari komunitas anak muda Rote Ndao (KAMu Rote Ndao). Tiba di sana saya disambut kak Fitri, sepupu kak Adi Patola. Kak Adi, teman seangkatan di program ELTA angkatan 4 di Pusat Bahasa Undana awal tahun 2014. Pegiat KAMu selain kak Adi ada kak Sherwin Ufi, kak Maks Fioh, dll. Tanggal 9-10 April 2015 ini, KAMu bekerja sama dengan Pengajar Muda, bikin kegiatan keren yakni Rote Mengajar. Ada puluhan relawan dari berbagai daerah di Indonesia datang dengan biaya sendiri untuk mengajar anak-anak di Rote. Ada dosen, fotografer, dokter, pilot, polisi hingga anggota DPRD.
Dari rumah baca Sarisandu saya ngebut ke beberapa pantai kerena dekat Batu Termanu. Saya penasaran dengan batu tersebut sebab kerap dibicarakan banyak orang sepulang dari Rote. Di sana saya cuma mampir sebentar, memotret lalu kembali ke Ba’a. Saya takut ketinggalan rombongan yang sudah bersiap menuju ke Batutua di Rote Barat Daya. Rencananya kami akan merayakan malam paskah hingga paskah kedua di sana. Kabarnya Batutua dekat dengan sederet pantai indah yang sudah mendunia seperti Oeseli, Bo’a dan Nembrala. Saya makin bersemangat. Bapak ketua stasi, pak Piet Bria, seorang guru dari Besikama, menjemput kami dengan mobil pick upnya. Dalam perjalanan ke Batutua inilah saya berkenalan dengan Om Boston, salah satu tokoh umat di Batutua yang juga ikut menjemput kami. Nama asli beliau Tony Fernandez, campuran Larantuka dan Timor, bekerja sebagai PNS di dinas PU Kabupaten Rote Ndao. Orangnya humoris dan banyak bicara, saya senang, karena ada banyak informasi yang dengan mudah saya peroleh. Saya ingin tahu banyak tentang Rote. Dan Om Boston adalah orang yang tepat.
Tiba di kapela Batutua, umat sudah berkumpul. Stasi St. Fransiskus Xaverius adalah stasi induk bagi beberapa kapela kecil di Oetefu, Oeseli, hingga Dela (Nembrala). Banyak sekali anak-anak dan remaja di sana, sayang kurang mendapat perhatian. Rote dan Ndao yang luas itu dilayani 2 orang pastor dan Batutua mendapat giliran pelayanan dari pastor atau frater boleh dibilang jarang. Imel segera bertindak dengan bikin beberapa kegiatan kecil bersama Sekami. Sorenya kami pergi ke pantai Batutua, foto-foto dan om Anderias, tokoh umat asli Rote mengambil beberapa bongkah batu merah yang akan digunakan untuk memantik api yang akan digunakan untuk menghidupkan lilin paskah. Malamnya kami misa dengan sangat meriah. Umat dari Oeseli, Oetefu hingga Nembrala ikut bergabung. Selesai misa om Boston segera memutar musik dan semua menari kebalai bersama. Kristus sudah bangit, Alleluya.
Minggu pagi, misa Paskah berlangsung meriah. Saya semakin tak sabar sebab om Boston menjanjikan untuk mengantar kami berkeliling ke beberapa pantai keren yang saya sebutkan di atas. Awalnya cuma 5 motor eh ternyata banyak yang menyusul. Saya dibonceng pak Fransiskus, seorang tentara di pangkalan TNI AL Dolasi dekat dengan Batutua. Beliau baru saja 6 bulan bertugas di Rote dan sangat rajin mengikuti kegiatan selama pekan suci.
Jadilah kami menuruni lembah karang Oetefu menuju Oeseli. Aih, pantai Oeseli itu cantik dan perawan! Ada semacam sebuah laguna, teluk yang sangat rapat sehingga menyerupai danau air asin. Pantai ini dikelilingi bukit dan pulau-pulau karang berukuran kecil. Meski langit tidak cerah kala itu tapi saya bisa melihat jejak warna laut hijau toska yang super bening. Ada kampung nelayan di sisi kanan. Satu-satunya bangunan di sisi kiri yang membelakangi laguna adalah kapela. Inginnya menginap di kapela itu, persis dibelakangnya danau air asin itu tersibak dengan sangat indah. Aih. Super sekali. Di ujung sana ada pelabuhan dengan pemandangan pulau Ndana yang tak terlalu jauh. Pulau Ndana kini menjadi markas TNI AL, ada patung jenderal Sudirman di sana, dan tentu saja punya pantai indah serta ribuan ekor rusa. Om Boston lantas bercerita tentang nuansa mistis di pulau tersebut dan betapa arus laut menuju ke Ndana begitu kencangnya.
Dari Oeseli kami menuju ke Bo’a. Sepanjang jalan, pantai pasir putih dengan cerukan kecil yang indah namun sayang semuanya sudah dikapling para bule. Ada yang sudah dibangun resort mewah dengan pagar keliling, sehingga pantai-pantai itu semakin privat dan terasing dari orang lokal. Tiba di Bo’a kami disambut seorang peselancar yang sedang beradu nyali dengan ombak yang cukup tinggi. Pantai sedang sepi. Ada pembangunan di area sepanjang beberapa ratus meter itu. Kabarnya pantai itu sudah dibeli salah satu anak Soeharto. Kami mampir sebentar, lagi-lagi foto bersama, menikmati kue yang dibawa oleh Shanty, OMK dari Batutua lalu melanjutkan perjalanan ke Nembrala. Pemandangan dari Bo’a ke Nembrala, semakin menandaskan kegelisahan kami. Tanah dari bibir pantai hingga ke atas bukit-bukit karang seluruhnya sudah berada di tangan pihak asing. “Masyarakat di sini senang tiba-tiba sudah ada 14 Milyar di tangan.” Tak ada sistem sewa, semuanya dibeli tunai dengan memanfaatkan calo. Tiba di Nembrala, kami mampir ke rumah pak Stefanus, seorang guru SMA sekaligus guru agama di kapela Nembrala. “Di sini cuma ada 7 KK saja. Kapela ini dibangun atas bantuan seorang turis asal Amerika.”
Kami dijamu makan siang dari tuan rumah yang berasal dari Noemuti, Timor Tengah Utara. Istri beliau asal Manggarai. Lagi-lagi saya salut sama para pendatang yang kebanyakan adalah guru dan pegawai dari Flores dan Timor, yang giat membangun gereja. Mereka yang dengan semangat bernyanyi dan memimpin ibadat pada hari Minggu.
Rombongan kami lantas bergerak ke pantai Nembrala menyusuri gang setapak selebar 2 meter yang meliuk diantara hotel dan penginapan. Dibading Oeseli dan Bo’a, Nembrala bagi saya tak terlalu spesial. Ya kecuali jika saya seorang peselancar barnagkali sangat spesial. Pantainya berpasir putih dan ombak tinggi berada beberapa ratus meter di dalam sana. Sementara di pingir laut yang airnya tenang, ratusan petani rumput laut menyambung hidup, menanam hingga proses menjemur semuanya dilakukan di area pantai tersebut.
Sungguh perjalanan yang menyenangkan di hari Minggu Paskah. Tiba di Batutua, pak Fransiskus mengajak kami mampir ke pangkalan TNI AL di desa Dosila. Katanya ada tebing yang pas untuk menikmati senja di belakang pangkalan. Ternyata pak Frans tidak menipu kami. Ada tebing dan dua cerukan besar, sebesar salah satu danau Kelimutu. Isinya pasir putih dan air laut jika sedang pasang. Diantara dua cerukan itu, ada jalur setapak untuk mencapai ujung tanjung. Super sekali untuk menikmati sunset.
Malamnya Romo Sipri memutar video perjalanannya ke tanah suci sembari menjelaskan secara runut sesuai isi kitab suci. Umat sangat antusias, tontonan dan diskusi berakhir jam 12 malam. Saya sudah tidur duluan 3 jam sebelumnya. Lelah sekali. Tapi belum usai. Besok kami diberitahu akan merayakan misa di kapela Oetefu, sekitar 7 km dari Batutua. Di Oetefu ada banyak masyarakat asli Rote, bermarga Nalle yang memeluk agama Katolik. Misa paskah kedua berlangsung dua kali, paginya di Oetefu dan siangnya di Batutua.
Di rumah bapak Nemuel Nalle, sang guru agama, kami dijamu makan siang yang enak. Beliau nelayan yang banyak memasok ikan dan udang untuk bule-bule di Nembrala. Salah satu anaknya adalah guru bahasa inggris di salah satu SMA di dekat Oetefu.
Siangnya misa kedua berlangsung di Batutua. Masih ada acara makan bersama lagi di bawah pohon kelapa dekat pantai. Beberapa orang nampak memanggang ikan, sementara di meja sudah terhidang udang goreng, kuah asam, tumis buah pepaya muda. Ah, mantap. Kami makan bersama lalu menari Kebalai dan Bonet. Om Boston mengatur segalanya dengan baik. Menjelang pulang kembali ke Ba’a, kesedihan mulai nampak di wajah para umat. Istri om Boston segera mengambil selendang rote dan memimpin tarian tradisional Rote, menari mundur dengan mata sembab dan mengantar kami ke mobil. Perpisahan yang unik dan agak menyedihkan. Saya tak bisa menahan diri untuk situasi serba emosional seperti ini. Cairah hangat itu luruh juga ke pipi saya. Kami berpelukan dan masuk ke mobil pick up. Serombongan anak Sekami bersikeras untuk ikut mengantar kami ke Ba’a. Kami pulang ke Ba’a dengan segudang kisah menarik tentang semangat persaudaraan dan iman dari umat Tuhan di Rote Barat Daya. Ada ketulusan untuk melayani di stasi, menggerakan segala sumber daya yang dimiliki untuk kepentingan bersama. Begitulah mereka yang minoritas  bergerak dan berjuang membangun kapela mungil di pinggir pantai Batutua. Ada orang Alor, orang Kefa, orang Kapan, orang Manggarai, Larantuka berbaur dan kawin-mawin dengan orang Rote asli.
Suatu saat saya harus kembali ke Batutua dan bikin sesuatu untuk anak-anak di sana. Janji kecil saya.
Kisah lain tentang paskah di Rote akan saya tulis di lain waktu. Ada beberapa cerpen dan puisi yang lahir di sana. Puji Tuhan! 

kapela Fransiskus Xaverius Batutua
nyanyi bareng kak Imel

pak Stefanus dari Noemuti, pengurus kapela Nembrala

taman baca Sarisandu
makan siang bersama sehabis misa paskah kedua

pace Fransiskus di depan kapela Oeseli
Imel dari Alor menari Kebalai
di kapela St, Yoseph Oetefu

bersama Opa, om Boston, Imel dan om Anderias