KANUKU LEON
Kanuku Leon
Penting:

Rabu, 28 Januari 2015

Terobosan Kreatif Dari Ruang Pojok Lantai Tiga Giovanni


Saya baru saja berkunjung ke ruang kerja Romo Amanche Ninu di SMAK Giovanni Kupang. Pegiat sastra dengan nama pena Amanche Franck Oe Ninu ini meminta saya untuk mampir guna membicarakan beberapa hal seputar kesiapan saya mengirim karya ke UWRF. Beliau ingin membagi beberapa tips. Rasanya sudah lama juga saya tidak berkunjung ke ruangannya di lantai 3, sebuah ruangan di pojok penuh buku sastra dengan view menghadap pantai Ketapang Satu Tode Kisar. Biasanya di ruangan itu selalu ada siswa yang mampir untuk baca buku atau sekedar berdiskusi dengan romo amanche. Benar saja tadi saya ke sana dan ada beberapa siswa yang mampir untuk membaca buku atau sekedar berbagi kisah. Diantara mereka ada bekas murid-murid saya di SMPK St. Theresia dulu. 

Di ruangan ini, diskusi dibangun, perkenalan akan buku-buku sastra Indonesia mutakhir dimulai....

Menarik melihat segala upaya yang dilakukan pastor muda satu ini di SMAK Giovanni. Banyak terobosan kreatif yang ia lakukan dan cukup berhasil meski diakuinya masih dapat banyak tantangan sana-sini. "Di Giovanni, terlalu banyak rekan guru yang konvensional. Pola pikir, pola didiknya masih tradisional." Saya memahami posisi tersebut. Di SMPK St Theresia saya pun menghadapi itu. "Sedangkan jamannya sudah berbeda. Mata pelajaran di kelas memang penting, tapi kegiatan-kegiatan kreatif di luar pelajaran juga tak kalah pentingnya." Ia lantas menunjukkan beberapa hasil karya siswa dari kelompok Fotografi SMAK Giovanni atau dikenal dengan nama GShoot. Ada beberapa jenis kegiatan ekstrakurikuler yang ia kembangkan bersama para siswa yang memiliki pontensi, misalnya film pendek, karya tulis baik ilmiah maupun karya fiksi (cerpen dan puisi), tari tradisional, musikalisasi puisi, teater, dan masih banyak lagi. Saya tahu betul, Romo Amanche tidak saja mencontohkan namun ia sudah memberi bukti. Banyak sekali siswa yang ia bimbing lolos dalam perlombaan tingkat kota Kupang, Provinsi NTT bahkan beberapa kali sudah ikut dalam perlombaan tingkat nasional. Kepada saya, ia juga mengkritik kata, 'ekstrakurikuler'. Ekstra pada akhirnya dipahami oleh guru sebagai kegiatan sambilan, kegiatan yang tak terlalu penting. "Siswa terlalu dipaksa untuk banyak menggunakan kognitif", imbunya. Saya menyepakati itu. Kurikulum kita terlalu padat, terlalu banyak materi hafalan. Sebenarnya mereka juga perlu 'penyeimbang', kegiatan-kegiatan kreatif tadi bisa jadi solusi yang baik.
Feby Openg, pembaca setia Jurnal Santarang, mantan murid saya di Speqsanter
Saya akhirnya pamit pulang karena sudah lapar. Diperjalanan pulang Romo masih sempat menunjukkan hasil penelitian siswa tentang ritual natoni di suku Dawan yang sempat jadi finalis di sebuah perlombaan karya ilmiah tingkah nasional di Jogja akhir tahun lalu. Saya benar-benar hampir meninggalkan halaman Giovanni ketika sekelompok siswa heboh. Seorang siswi kelas 3 baru saja pingsan. Saya tiba-tiba ingat pembicaraan kami sebelumnya. "Barangkali tidak makan pagi. Hampir tiap hari selalu begitu," Romo Amanche memberi tahu saya. 
Saya pulang dan membayangkan dua fragmen kecil di kepala: sekelompok siswa dalam situasi menghafal teori dari pagi hingga sore hari, senin hingga sabtu. Situasi kedua, sekelompok siswa belajar dengan porsi yang pas, mereka masih punya waktu untuk olahraga, ikut teater, ikut klub fotografi dan baca buku sastra. 
Motor saya tiba di sebuah rumah makan Bali di Oeba. Sekian. 

Foto: copyright  Amanche Frank

Minggu, 25 Januari 2015

Mendedikasikan Malam Minggu Untuk #EkaristiPuisi



Saya merasa beruntung dikelilingi energi positif, energi untuk berkreasi dari orang-orang di sekitar saya, kawan-kawan sekomunitas. Sabtu malam, 24 Januari 2015, saya berada di sebuah taman rekreasi baru di daerah Sikumana, Taman Dedari. Sudah ada beberapa teman pegiat sastra hadir di sana. Sang tuan rumah yang seorang dokter ahli kandungan menyambut saya dengan sangat ramah. Karyawan-karyawannya nampak sibuk mempersiapkan tempat. Hujan baru saja usai menyisakan langit sore yang indah: biru tua dengan gumpalan awan tipis jingga. Acara berlangsung dan saya diminta membaca puisi. Saya memilih secara acak dari buku puisi Ekaristi karya kawan baik saya, Mario F Lawi. Judul puisi itu Retina. Ingatan saya pergi ke masa ketika puisi itu pertama kali dibacakan oleh Mario sesaat setelah puisi itu menang dalam sebuah lomba puisi tingkat nasional yang diadakan sebuah komunitas sastra di Lombok.

Saddam HP


Saya ingat betul kala itu saya masih baru di komunitas sastra Dusun Flobamora, sebuah komunitas sastra yang kini cukup berpengaruh dalam arusutama sastra di NTT. Dusun tempat saya belajar menulis karya sastra secara lebih serius, komunitas tempat saya bisa berdiskusi dengan teman-teman muda luar biasa. Mereka yang saya sebut tadi, terbiasa membagi energi positif kepada orang terdekatnya. Bukankah begitu hakikatnya berkomunitas? Semua datang sebagai pembelajar, sekaligus membagi apa yang dipunyai, meski barangkali hanyalah sepotong semangat, secuil apresiasi. Bahkan dorongan yang tak kelihatan sekali pun.
Beberapa waktu lalu ketika saya diundang ke Asean Literary Festival 2014 di Jakarta, saya berkenalan dengan sastrawan besar yang saya baca karyanya saat kuliah di Jogja dulu, mbak Oka Rusmini. Dari mbak Oka, saya dikasih tahu bahwa ada temannya seorang dokter di Kupang yang adalah juga pegiat sastra. Akhirnya berkenalanlah saya dengan pak dokter Sahadewa yang empunya Taman Dedari dan sebuah rumah sakit ibu dan anak terkenal di Kupang, RSIA Dedari. Kami pertama kali bersua di Taman Dedari atas undangannya. Sekedar survey lokasi kata beliau. Hadir saat itu Mari Lawi, Ishack Sonlay dan frater Saddam HP, dua orang teman pegiat sastra di Dusun Flobamora. Saddam adalah seorang frater dan Ishack baru saja memutuskan menanggalkan jubahnya beberapa waktu lalu. Dua teman yang sangat produktif di Dusun Flobamora. Tentu saja Mario juga.
Rupanya pak Dokter Sahadewa ingin ada acara baca dan musikalisasi puisi di tempatnya sekaligus merayakan keberhasilan Mario F Lawi yang baru saja didaulat majalah Tempo sebagai Tokoh Seni 2014. Buku Ekaristi Mario tentu saja menjadi buah bibir dimana-mana. Kami sepakat menyelenggarakannya di tanggal 24 Januari itu.
Acara berlangsung meriah. Sekitar 33 orang hadir diantaranya Ishack sebagai MC, Mario Lawi, romo Amanche Franck Oe Ninu, Saddam HP, dokter Sahadewa dan istri (dokter Shinta), Christo Ngasi, Januario Gonzaga, Anaci Tnunay, Novy Nggili, Rucita, dkk pengajar dari Sekolah Lentera. Hadir juga Ega Damian dkk dari Komunitas Sastra SMAK Giovanni, beberapa teman Linda Tagie dari STIBA CNK, bang Abu Nabil Wibisana, Om Sipri Seko dari Pos Kupang, kak Lisa Yakudanga dan Rosaria Dolu. Nama terakhir ini tentu saja tamu spesial Mario. Meski tak ada konfirmasi langsung secara serius dari Mario, tapi malam itu entah mengapa Mario dan Rosa menjadi kerap salah tingkah. Momen ini tentu saja dimanfaatkan Ishack untuk mengerjai Rosa. Hingga acara selesai, pertanyaan siapakah Rosaria dalam puisi dengan judul yang sama di Ekaristi, toh tak dijawab Mario. Hihihi, saya menulis ini lagi. Maaf Mario.
Sesungguhnya acara #Babasa dengan tema : Merayakan Ekaristi dalam Puisi berlangsung dengan seru. Secara bergantian semua yang hadir membaca puisi, sambil bercerita tengang pengalaman bersastra, atau sekedar memberi komentar atas karya dan perjalanan bersastra Mario F Lawi.
Diakhir acara, pak Dokter Sahadewa dan ibu Dokter Shinta, sama-sama menyampaikan apresiasinya bagi komunitas sastra di Kupang. Kreativitas perlu dikembangkan terus, dan Taman Dedari hadir dengan misi yang sama, semoga bisa menjadi tempat orang-orang muda Kupang berkumpul dan berkreasi.
Sampai ketemu di acara baca puisi selanjutnya. Bagi siapapun masyarakat Kupang yang suka puisi dan berdiskusi sastra, bisa gabung. Follow akun twitter komunitas sastra Dusun Flobamora Kupang @dusunflobamora, @dickysenda atau @mario_lawi. Atau bisa kontak saya di Whatsapp 081338037075.
Oya, satu lagi. Mulai tanggal 29 Januari 2015, Taman Dedari mulai dibuka untuk umum. Tempat rekreasi baru yang pastinya keren. Ada kolam renang dengan paket menu spesial khas Bali. Silahkan ke Sikumana, perempatan jalur 40 belok kanan 50 meter. 


Mereka yang mendedikasikan malam minggunya untuk puisi, untuk sastra di NTT

Mari F Lawi dan Saddam HP

Mario F Lawi dan Romo Amanche Franck, Ketua Dusun Flobamora

Tempatnya keren. silahkan mampir....
Foto: copyright Dedari RSIA

Rabu, 21 Januari 2015

Catatan Harian Konselor: Saya Belajar Dari Siswa


(repost dari blog SMPK St Theresia Kupang


Kemarin siang, 20 Januari 2015, saya kedatangan dua rombongan siswa yang hendak mewawancarai saya untuk tugas Bahasa Indonesia dari Ibu Sherly Jelamu. Dua kelompok siswa itu datang dari kelas 7A dan 7B. Kelompok pertama adalah Dino, cs dr kelas 7B yang mewawancarai saya dengan topik sepak terjang saya sebagai guru BK. Sedangkan kelompok Putri, cs dari kelas 7A mewawancarai saya dengan topik pandangan-padangan saya terhadap pergaulan remaja dan disiplin di sekolah. Menarik melihat mereka begitu bertanggungjawab dan mulai keliatan profesionalnya. Maksud saya bahwa mereka meminta izin untuk wawancara dengan sangat sopan, dan memulai wawancara dengan sebuah pengantar yang baik meski kelompoknya Dino harus dimulai dengan apa yang biasa orang Kupang bilang, 'batolak bahela." Tapi akhirnya berjalan baik. Andre dan Putri yang bertugas mewawancarai saya melempar 10-16 pertanyaan dengan lugas dan komunikatif. Kebetulan saya adalah guru bimbingan mereka, sering melakukan kegiatan bersama jadi tak ada rasa gugup atau sungkan. Semua proses berlangsung dengan cair dan menyenangkan. Saya punya kesan yang positif akan diri mereka. Sebagai guru, hal-hal kecil seperti ini kadang luput dari perhatian kita sebagai guru dan orang tua. Seberapa sering kita mengapresiasi pekerjaan siswa? Seberapa sering kita memuji? Lalu memberikan motivasi jika saja apa yang mereka lakukan masih kurang. Seberapa sering kita memuji dengan kata positif ketimbang penghinaan, atau kalimat yang menjatuhkan semangat mereka? Terima kasih Dino dan Putri, cs, kemarin kalian sudah melatih saya untuk introspeksi diri, untuk mawas diri dan mengevaluasi apa yang sudah saya lakukan untuk kalian sebagai seorang guru selama ini, terlebih saya adalah guru bimbingan dan konseling. Ini adalah pelajaran yang baik bagi mereka. Dari sini saja saya akhirnya tahu potensi Andre dan Putri dan saya sudah berpikir untuk segera merekrut mereka untuk saja berikan pelatihan sebagai 'konselor sebaya'.





Senin, 19 Januari 2015

Sonde Bisa Tutup Mata. Ini Berita Menyedihkan!


Kemarin pagi saya baru saja membicarakan topik Perdagangan Anak bersama sekelompok murid di kelas 7G dan C SMPK St Theresia Kupang dan topik ini masuk dalam program training untuk mereka yang akan saya jadikan peer counsellor. Tak bisa dipungkiri, perdagangan anak untuk dijadikan pekerja seks sudah terjadi di sekitar kita, di Kupang terutama. Seperti kasus ini siswi SMP di Kupang dijual dan dijadikan pekerja seks di Kefa. Kabar ini sudah pernah saya dengar ketika baru saja jadi guru BK di Kupang. Konon kabarnya ada bisnis itu di Kupang :( Bujukan-bujukan biasanya datang dari teman sebaya (selain langsung oleh germo). Anak tentu saja akan luluh ketika diimingi uang dan benda berharga. Saya teringat kasus sejenis yang dimuat di Majalah Tempo 5 Januari 2015. Seorang remaja putri di Palembang dibujuk bahwa ada pekerjaan sampingan yang bisa mendatangkan banyak uang, meski nyatanya si remaja dijual, dijadikan pekerja seks dan sakaw karena diberi narkoba juga. Salah satu pelakunya bahkan diketahui adalah seorang polisi.

sumber: www.ourstoriesuntold.com
Sebagai guru dan konselor di sekolah, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan mengoptimalkan peran konselor sebaya. Sesama teman biasanya mudah didengarkan dan mudah mendengarkan, tentu saja akan jadi pintu masuk yang baik. Terlebih jika teman diberi pelatihan secara khusus. Mereka tentu saja orang-orang terpilih (misalnya komunikatif, percaya diri, cukup populer di sekolah, dan mudah masuk ke dalam berbagai kelompok pergaulan). Konselor sebaya saya rasa bisa jadi langkah preventif yang baik. Ayolah para org tua, jangan melulu sibuk bekerja di kantor dan abai mengontrol. Kalau dalam pengalaman saya sebagai guru, kami di sekolah hanya punya 8 jam bersama anak selebihnya berada di bawah pengawasan orang tua.
Hendaknya ini menjadi perhatian kita semua. Apalagi NTT sudah berada di posisi pertama soal Human Trafficking.


Minggu, 11 Januari 2015

Tuhan Itu Hebat


catatan awal tahun

Selamat tahun baru, selamat ngeblog lagi Christian Senda...
Puji Tuhan untuk berkah di tahun kemarin dan berharap tahun ini segala hal yang direncakan akan berjalan dengan baik.
Saya mengawali minggu kedua di bulan Januari ini dengan perasaan lega, senang dan sedikit gugup. Minggu kemarin sebuah proses penting dalam hidup baru saja terlewati, saya pertaruhkan itu dalam nama Sang Penyelenggara Hidup, dengan harapan ‘yang terbaik untuk saya, terjadilah...’
Sepulang dari Gereja saya tak sengaja menemukan lagi sebuah VCD lagu yang saya dapatkan dari seorang kakak, sesama alumni dari SMAK Syuradikara di Ende Flores. VCD lagu dari Syuradikara Voice, Permata Cinta 60 Tahun Syuradikara. Ka’e Firmina Dae Bha, terima kasih ya VCDnya. Ada 11 lagu yang berhasil membangkitkan memori saya tentang almamater satu ini. Tiga tahun bersekolah di Syuradikara sekaligus tinggal di Asrama Putra Syuradikara (Asyur) membawa banyak perubahan dalam hidup saya, dan lebih lagi, memori manis tentang Syuradikara selalu khusus tersimpan di sebuah ruang memori di kepala saya. Entah kenapa ada orang yang begitu kagum dan cinta setengah mati sama almamaternya. Saya tidak merasakan sekental itu perasaanya untuk almamater saya di tingkat SD, SMP maupun Universitas. Syuradikara memang selalu spesial. Ingin tahu kenapa? Datanglah ke sana, berkelilinglah dan jika memungkinkan untuk menginap dan mengikuti beberapa aktivitas akademik dan spritual di sana, pasti anda akan ketemu jawabannya.
Oya, di hari minggu ini, saya juga mendapat kabar dari teman baru saya Priska Enggar Kinanthi namanya, seorang mahasiswa dari sebuah kampus di Solo yang sedang KKN di kampung saya di Mollo. Saya dihubungi Priska beberapa bulan lalu sebelum mereka ke Timor. Rupanya Priska membaca beberapa tulisan saya tentang Timor dan khususnya Mollo. Kami belum sempat bertemu tapi selalu berkomunikasi. Kepada saya ia bilang, “Mollo itu Amazing!”
Selamat ber-KKN. Nikmati saja setiap keindahan dan keramahan orang Mollo. Bantu apa saja yang bisa kalian lakukan. Sampai titik ini, saya berpikir, seandainya banyak lagi mahasiswa dari Jawa datang KKN dan berbagi ilmu mereka untuk kami di Indonesia Timur, khususnya NTT, barangkali akan sangat bermanfaat. Saya percaya dengan begitu, jurang antara barat dan timur bisa tersambung lagi. Sesederhana itu pemikiran saya.
Akhirnya, saya harus mengakui betapa Tuhan itu hebat. Saya tak henti-hentinya bersyukur atas apa yang saya dapat setiap hari. Selalu saja melebihi espektasi saya. Dan tanpa ingin terbebani dengan apapun, setiap waktu bagi saya adalah kebaikan Tuhan.

Kupang, Januari 2015

Jumat, 19 Desember 2014

Hari Terakhir Pah Tuaf




Christian Senda


Jika kesaktian yang dimaksud suara tuhan itu
ada pada keturunan berjenis kelamin laki-laki,
maka izinkan aku tidur dengan anak perempuan kita, hai istriku.
Sebab besok aku akan mati, sebagai Pah Tuaf sakti.

***
Dengan tubuh telanjang ia panjati loteng rumah ilalangnya, melalui sebatang kayu jati putih yang usianya lebih tua darinya. Tubuh kayu itu berlubang di setiap dua jengkal jarak, membentuk anak-anak tangga yang diletakkan 30 derajat menembus mulut loteng. Pria itu nampak kian layu di usia senjanya, memegang sebotol sopi di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya ia pakai untuk memegang pancakan tiang penyangga. Semenit kemudian tubuh telanjangnya telah lenyap ke dalam mulut loteng. Terdengar bunyi pijakan kakinya di loteng berlantai papan-papan kayu mahoni.
Asap dari tungku di tengah rumah masih memenuhi isi ruangan. Dalam rumah itu, bara api terus menyala 24 jam jika penghuni rumah tak bepergian. Asap memang sengaja dibiarkan terkungkung di dalam untuk menghangatkan tubuh sekaligus mengeringkan jagung yang tergantung rapi di atas tungku. Rumah ini berbentuk lingkaran, beratap rumbai-rumbai dari hun menyentuh tanah dan memiliki sebuah loteng kecil untuk menyimpan benda-benda pusaka keluarga. Tak ada petak kamar di ruangan lantai dasar. Semua menyatu; dapur, tempat tidur, keranjang ayam, benda-benda pusaka hingga lumbung makanan. Ada satu jendela kecil dan satu pintu kecil berukuran 120 x 100 cm. Terlalu kecil untuk ukuran sebuah pintu maka siapapun yang masuk, harus menunduk ekstra jika tak ingin kepalanya benjol.
sumber: http://galleryhip.com/old-man-sketch.html
Di tengah ruangan terpancak sebuah tiang ni enaf―tiang perempuan yang dibawah kakinya tersusun ni baki, batu suci tempat ritual pemujaan dilakukan. Di tengah tiang perempuan terpasang sebuah ukiran kayu berbentuk bulat sebesar tameng prajurit perang, bertuliskan nama fam pemilik rumah. Dan persis di atasnya, sebuah topeng dari kulit kayu menampakkan kengeriannya sendiri: sebuah mimpi buruk bagi siapapun yang pernah mendengar kisah tentang wajah manusia gunung―Melus hingga Kenurawan―penghuni pegunungan Mollo sebelum para pangeran dari timur datang menguasai hutan dan air mereka.
Terdengar suara setengah berbicara, setengah bernyanyi dari atas loteng. Pria itu sedang meracau mantra-mantra dalam bahasa adat yang terlalu halus. Terkadang ucapannya seperti suara binatang tak bisa dimengerti siapapun, bahkan oleh istri dan anak-anaknya. Diam-diam ia berubah menjadi manusia pohon, manusia gua, yang adalah dongeng masa kecilnya. Dongeng yang ia kenang sebenarnya adalah mantra yang memerdekakan tubuh dari batasan ruang dan waktu.
“Nenek moyangku seperti kera bergelantungan di hutan mencari buah dan madu. Ketika malam tiba, mereka kembali ke mulut gua dan mulai memancing api dengan jamur pohon ampupu yang telah kering.”
Di luar rumah semua anggota keluarga puasa bicara. Aktivitas dilakukan seperti biasanya hanya saja pikiran mereka agak tersedot kepada peristiwa yang sedang terjadi di dalam rumah. Asap tipis menari lembut menembus sela tumpukan ilalang. Sepasang merpati tercenung di puncak rumah. Gerimis baru saja pergi meninggalkan seribu pertanyaan di udara setelah burung-burung di pekarangan berhasil menggagalkan hujan dengan suara murung mereka. Prosesi adat memang biasa terjadi di rumah itu. Namun selalu ada kejutan informasi setelahnya.
Sejam kemudian tak terdengar lagi suara dari atas sana. Apa kabar lelaki tua itu? Apakah ia telah mabuk berat dan tertidur atau kah sadarnya telah pergi menembus lorong waktu yang lain? Entahlah.
Sekonyong-konyong terdengar suara panggilan dari dalam rumah. Lelaki itu menyebut nama istrinya beberapa kali dengan sangat lantang. Aroma kemarahan mendadak terhempas keluar ketika pintu rumah dibuka oleh sang istri.
Lelaki itu telah berpakaian sebagaimana biasanya dan duduk di kursi berukiran ular yang maha haram. Terlalu banyak larangan di dalam rumah. Memanjat loteng, memegang tongkat dan duduk di singgasananya adalah yang paling maha haram tadi. Bagi yang melanggar akan jadi bodoh dan gila. Selimut tenunan bergaris pelangi dengan warna dominasi kuning menutup setengah tubuhnya. Tiga utas kalung mutisalak1 berwarna oranye tua nampak mencolok di leher hingga dadanya yang telanjang. Nafasnya yang memburu sedikit menggerakkan mata kalung perak sebesar dua kali koin seribu rupiah betuliskan nama kakek buyutnya. Ditatapnya sekujur tubuh istrinya dengan amat tajam dan langsung membuat istrinya itu jatuh tersungkur dan mencium tanah. Perempuan tua mungkin mengira bahwa dihadapanya itu bukan lagi sang suami, namun tuhan sekaligus setan. Uis Nitu yang mutlak ia sembah.
            “Ada yang hendak mempermainkan aku... kau tahu? Ada!” Lelaki itu berujar dengan gelegar amarah. Tiba-tiba saja mulutnya kelu dan irama nafas kacau. Ia seperti menyadari itu dalam serangan sebuah panik yang muncul tiba-tiba.
            “Ka-ka-kali-an... ke-pa-paraat! Pem-pembu...” suaranya sempoyongan bagai tercuri, gerak tubuhnya pun demikian. Matanya mendelik tajam, seolah telah terpaku hingga kelopak tak lagi bisa mengatup. Udara di dalam ruangan seperti berhenti. Segala yang bergerak mendadak mematung.
Tik-tik-tik-tik. Tiba-tiba perempuan itu bangkit dan berperilaku seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Ia melempar senyum ke arah sang suami yang duduk terpaku lalu menuju tungku, menumpuk kayu kering dan meniup bongkahan arang agar kembali bernyala. Debu tungku beterbangan dalam diam. Perempuan tua itu menaruh air dan bose―jagung kering tumbuk yang telah terkelupas kulit arinya―ke dalam periuk lalu menggantungnya di atas tungku.
            Perempuan tua kemudian memanggil anak perempuan dan menantunya untuk masuk. Ia memberi isyarat kepada mereka untuk membantunya menggendong tubuh lelaki tua itu ke atas pembaringan. Lelaki itu ingin meronta namun ia tak lagi memiliki daya atas tubuhnya. Hanyalah bola mata yang terus berputar menyiratkan kemarahan prematur. Selanjutnya, masuklah anak perempuan satunya lagi bersama suami dan tiga orang cucu (kerap dianggap lelaki tua sebagai tiga burung tekukur). Ketiga cucu langsung berebutan untuk duduk di atas singgasana kakek mereka. Tak ada yang melarang. Tak ada seekor burung tekukur pun kemudian menjadi bodoh atau gila. Segala yang terjadi kini hanyalah kenormalan para manusia beraktivitas sebagaimana umumnya terjadi. Haram itu seperti sudah minggat beberapa saat lalu dari rumah itu. Apakah memang sebenarnya apapun kejadian di rumah tersebut normal adanya? Apakah ilusi telah sukses dipelihara ratusan tahun lamanya di rumah itu?
            Seorang menantu tertua tiba-tiba saja menyambar tongkat kebesaran lelaki tua dan berlalu begitu saja keluar rumah. Tak ada hujan apalagi petir yang akan menyambar tubuh sang menantu. Lelaki tua menangis namun tak kuasa meronta. Dalam hatinya, ia ingin menebas mereka semua dengan kelewang panjangnya. Ia menangis hingga tertidur pulas dan bangkit lagi sembari merasa bahwa telinganya telah tuli.
            Seminggu kemudian, datanglah segerombolan manusia asing mengeluarkan semua benda pusaka dari dalam rumah. Ukiran kayu, kelewang, gong, tambur, berbagai macam kalung mutisalak, tembikar dan patung-patung, semuanya dibenamkan ke dalam lubang api. Tak ada sesal di wajah mereka yang melakukannya. Rumah tua itu pun langsung dibakar, diiringi doa dan kotbah panjang dari pria tua berjubah hitam-putih tentang perbuatan musyrik yang perlu ditinggalkan. Tak ada tangisan. Sekali lagi tak ada sambaran petir, hujan badai atau gagal panen setelahnya. Lelaki tua itu pun gila. Lunglai dan melihat kematiannya sendiri digenggam Sautaf.2
***
Burung gagak yang berteriak seperti sedang kelaparan segera membangunkan sesosok lelaki tua telanjang dan lunglai. Aroma alkohol dari sopi menguar ketika disambar angin sepoi. Dua botol sopi telah tandas dan berserakan beserta tulang-tulang ayam di dekat batu altar. Ia baru ingat, 9 jam sebelumnya, ia datang ke tempat keramat itu untuk minum bersama arwah leluhur. Sebuah penghormatan untuk orang mati dan untuk tuhan. Namun kisah terselip gelisah keburu menyerang sadarnya.
Ia bergegas pulang dan mendapati istri dan kedua anak perempuan berlaku seperti biasa. Mereka masih setia bekerja dan melayaninya, termasuk memelihara setumpuk pantangan atas namanya. Kini gelisahnya telah menjelma curiga. Curiga pada seisi rumah, pada istri dan anak menantunya. Sesungguhnya ia sedang dilanda ketakutan jikalau ia tak lagi sakti. Ia merenung dan menunggu bisikan angin yang seperti biasanya hinggap ke gendang telinganya. Uis Anin3 yang kerap memberinya informasi tentang masa depan.
Selalu saja, misalkan jika akan ada tamu, Uis Anin akan membisikan kabar itu sebelumnya. Namun bisikan itu berbeda kali ini. Ia diingatkan jika kini usianya mendekati 85 tahun, waktu terakhir jelang kematian. Akan ada yang menjemput dirinya, kira-kira begitu bunyinya. Ia takut, ia menangis. Ada yang lupa ia jalankan selama ini, mendapatkan darah daging berjenis kelamin laki-laki sebagai satu-satunya jalan untuk meneruskan kesaktiannya. Ia mengira bisa hidup lebih lama seperti ayahnya dulu yang mati berusia 125 tahun lebih. Ia menyesal karena tidak memelihara gundik untuk mendapatkan anak laki-laki. Meski sebenarnya ada sebab lain, ia dihadang oleh banyak kerabat untuk menikah lagi. Sebagai pemeluk Kristen (meski tergolong Kristen KTP), siapa pun memang tak boleh memiliki banyak istri. Mungkinkah alasan ini yang telah membuatnya tidak sakti lagi?
Ketika malam menjelang, datanglah bisikan baru untuknya.
“Bersetubuhlah dengan anak perempuanmu, supaya ia mengandung anak kekasih kita laki-laki agar kembali sempurna kesaktian di dalam rumah ini untuk selama-lamanya. Sebab suami dari anak perempuanmu telah kubujuk untuk pergi berburu ke gunung.”
Lelaki itu bangun dari pembaringan, membisikan sesuatu pada isterinya lalu bergegas keluar rumah, menuju rumah bulat sejenis di seberang. Rumah anak perempuan sulung terkasihnya. Bulan telah meninggi. Udara dingin, nafas berkejaran berganti udara hangat (setelah birahi kelakiannya memuncak) dan sperma terakhir yang tumpah adalah sketsa yang ia gambar di dinding semesta. Tak ada kehormatan yang ia rampas. Ada takzim yang perempuan itu sembahkan. Ada lenguhan memuncak hingga ke puncak Mutis, memerah dalam kobaran api yang menghangatkan. Merah dalam perayaan untuk mendapat persetujuan arwah nenek moyang. 
Perempuan tua tiba-tiba mendorong pintu dan mendapati Pah Tuaf terkasih telah mati sehabis mencucup puting susu anak perempuan mereka. Natiabonen4, bisiknya.
Liliba, 2014

Keterangan
1mutisalak: kalung dari beberapa jenis bebatuan
2penguasa kematian dalam kepercayaan Suku Dawan
3penguasa angin
4selesai sudah (bahasa Dawan)



Tentang Penulis:
Christian Senda, lahir di Mollo Utara, Timor Tengah Selatan. Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora di Kupang. 
Cerpen ini telah dimuat di Koran Bali Post, 14 Desember 2014

Refleksi Akhir Tahun: Dari Talenta, Jejaring Sosial, Kekuatan Doa Hingga Indahnya Perbedaan




catatan jelang ulang tahun

Barangkali ini satu titik balik yang penting dalam perjalanan hidup saya. Belakangan saya sempat terpuruk karena masalah hati tapi sudahlah nyatanya saya punya banyak kesempatan untuk berbuat banyak kegiatan yang pada akhirnya berhasil menyelamatkan saya dari keterpurukan itu. Saya bahkan harus berhenti untuk menyalahkan diri sendiri dan orang lain dan mulai menata hidup saya. Setiap kejadian punya makna. Sulit dan mudah sekali pun.
Sampai pada titik ini, saya makin merasa bahwa Sang Penyelenggara hidup benar ada untuk saya. Setahun ini kalau boleh menoleh kembali saya mendapat banyak berkah. Saya ingat bahwa pada waktu seperti sekarang ini saya mendapat pengalaman yang bertubi-tubi indahnya. Dalam pergaulan saya mendapat banyak simpul jaringan yang menghantar saya menemui lebih banyak orang hebat dan berkesempatan bertukar pikiran dengan mereka. Syukurlah bahwa saya diberi kesempatan untuk hadir dan berbicara dalam beberapa festival berskala internasional. Seperti mimpi. Tahun 2013 saya ke festival blogger tingkat ASEAN di Solo ketemu banyak orang, kemudian saya dihantar menuju Makassar International Writers Festival. Di Makassar saya bertemu lebih banyak lagi orang hebat yang kemudian memberi kesempatan-kesempatan emas kemudian. Mereka yang sama mampu menghadirkan saya ke Asean Literary Festival pertama di Jakarta dan terakhir saya bisa menginjakkan kaki saya ke tanah Kendari untuk ikut festival taman bacaan masyarakat. Ini contoh kecil bagaimana kemudian dari mulut ke mulut, dari setiap obrolan dan perjumpaan hangat berlanjut ke jaringan yang lebih kuat. Jejaring itu penting dalam pekerjaan. Sangaaat penting.
Terlalu panjang jika saya harus menuliskan berbagai berkah karena jejaring itu di dua tahun terakhir saja. Saya tahu Tuhan dan alam semesta mengijinkan saya untuk berada di sekeliling jaringan hebat itu. Dan rasanya seperti baru kemarin saya mengalami salah satu peristiwa yang membuat saya merasa paling beruntung. Saya mengirim lamaran untuk seleksi ELTA, sebuah training bahasa Inggris dari pemerintah Australia khusus untuk NTT dan 4 area target lainnya yang ingin melamar beasiswa AAS. Ketika saya sedang mengikuti sebuah festival sastra di Banten, undangan untuk tes dan wawancara masuk ke email saya. Saat itu berpikir, ah sudahlah, mungkin belum beruntung. Tapi hati kecil saya menyuruh saya untuk mengirim email ke panitia untuk menyampaikan masalah saya dan apa ada solusinya (misalnya tes dan wawancara susulan). Ternyata harapan saya dikabulkan. Saya jadi aneh sendiri. Serius ini? akhirnya saya mengikuti seleksi sebagai peserta terakhir. Untuk wawancara pun harus saya lalui di hotel tempat tim pewawancara menginap. Ketika datang wawancara saya memang tanpa persiapan. Saya hanya datang dengan apa adanya saya; sejuta mimpi, pengalaman bekerja sebagai guru BK dan berorganisasi/berkomunitas, kisah-kisah jejaring di atas dan tentu saja buku cerpen saya Kanuku Leon yang sengaja saya sisip di dalam tas. Singkatnya wawancara berlanjut dengan obrolan santai di tepi kolam renang hotel On The Rock. Si Pewawancara bahkan bertanya banyak tentang isi buku saya ketimbang yang lain. Atau barangkali begitu adanya cara mereka mewawancara. Membawa saya kepada zona paling nyaman untuk mengeksplorasikan diri sekomplit-komplitnya (meski dengan bahasa Inggris terbata). Hahaha.
Tapi saya percaya kekuatan doa dan energi positif bukan saja dari pikiran namun dari sekeliling saya. Saya lalu belajar bahasa Inggris di Undana Language Center bersama 30 partisipan ELTA angkatan 4 selama 3 bulan penuh. Satu sulur ‘jejaring’ bertambah di sini. Syukurlah saya mendapat hasil yang baik yang memungkinkan saya untuk melamar ke Australia Awards Scholarship. Masih ada satu langkah pamungkas yang harus saya lalui. Doakan saya ya.
Barangkali saya terlalu melow menulis ini, apalagi menjelang ulang tahun saya yang ke.... oh my God! Saya sudah tuaaa! 22 Desember sebentar lagi. Saya ingat dulu ketika kuliah di Jogja, kakak lelaki saya yang kala itu sedang studi filsafat kitabsuci di Roma mengirim email kepada saya. Katanya, “masing-masing kita sudah diberi talenta. Ada yang satu, dua, ada yang lebih banyak. Lu mungkin mendapat lebih banyak talenta dibanding saudara yang lain, tapi ingat bahwa setiap talenta yang Tuhan beri akan ditagih kemudian; Sudah lu apakah dengan telenta-talenda itu? Bergunakah bukan saja bagi diri sendiri namun juga bagi orang lain?”
Hingga saat ini, kutipan ini masih menjadi pengingat bagi saya. Yang diberi banyak, akan dituntut yang lebih banyak pula. Seolah mengingatkan kita untuk tidak egois. Apakah saya egois?
Saya bukan manusia yang paling religius. Saya juga manusia biasa yang masih muda untuk jatuh. Tapi rasanya aneh jika saya tidak mengakui sebuah kekuatan spiritual yang ada di sekeliling saya. Sejak kecil saya melihat bapak saya adalah pendoa sejati. Ia bahkan sering berdoa di pojok kamar yang gelap. Saya tahu ia mendoakan keluarganya. Istri dan ketujuh anak-anaknya. Ia bahkan sudah mengajarkan anak-anaknya berdoa tanpa banyak berkata, “anak-anak ayo berdoa. Ayo begini, ayo begitu.”
Saya percaya kekuatan doa, kekuatan spiritual yang bisa kita pelihara apinya di dalam diri kita masing-masing. Sejak lama saya menaruh devosi yang amat besar bagi Bunda Maria. Ah kadang saya agak malu juga apakah hal berdoa seperti ini harus dipamerkan ke blog atau facebook? Tapi rasanya saya harus menyampaikan kesaksian tentang kekuatan doa itu. 


***

Saya lahir dari keluarga berbeda agama. Bapak saya katolik tulen dan mama saya protestan garis keras. Tapi apa lantas hidup perkawinan mereka kacau? Saya punya saudara 6 orang. Dua kakak perempuan saya mengikuti mama yang protestan. Selebihnya, 4 orang lelaki dan seorang perempuan mengikuti bapak. Saya tak tahu persis tapi rasanya juga tak ada perjanjian nikah bermeterai bahwa bapak saya harus begini, mama saya harus begitu, anaknya nanti begini dan begitu. Saya harus bilang bahwa saya bangga, amat sangat bangga pada relasi kedua orang tua saya. 46 tahun menikah tentu bukan sesuatu jalan yang gampang. Pasti ada onak durinya, dan mereka berdua adalah pasangan yang saya kagumi.
Dan seumur hidup saya tidak pernah melihat adanya batasan yang dilontarkan orang tua saya terkait agama. Mama saya ada dalam garda depan ibu-ibu yang memasak ketika Uskup berkunjung, ketika pesta besar misalnya sedang dirayakan di paroki kami. Dan bapak saya dengan senang hati masuk dalam tim pembangunan gedung gereja protestan di kampung saya. Mama akan sibuk menyiapkan teh dan kudapan untuk anggota kelompok doa rosario di rumah, dan bapak akan duduk bersama tetangga yang sedang ibadah rayon/lingkungan yang biasanya di sebut ‘kumpulan’. Ketika ada pesta di rumah, maka doa syukur dan doa makan bisa jadi adalah saling ganti yang akan dibawakan antara pastor dan pendeta. Pada malam tahun baru, biasanya kakak perempuan saya yang protestan akan memimpin ibadah dan kakak lelaki saya yang pastor akan membawakan kotbah.
Rumah kami ‘diapit’ dua gereja. Gereja katolik di sebelah bawah dan gereja protestan di sebelah atas. Dan ketika ada cucunya yang permandian entah di gereja bawah atau atas, kami sekeluarga wajib mengadiri misa/ibadah. Saya pun bangga ketika bapak menjadi salah satu inisiator perayaan oekumene paling akbar dalam sejarah gereja katolik dan protestan di mollo, tahun 2000 lalu. Pendeta memberikan kotbah di paroki dan romo memberikan kotbah mingguan di gereja ebenhaezer. Dan umat bahu membahu menyelenggarakan jalan salib juga pawai obor. Itu luar biasa.
Tapi saya sedih jika melihat ada semacam jarak, rasa sungkan, prasangka, dll antara gereja katolik dan protestan di tempat lain (di Mollo semuanya baik adanya). Sedih melihat ada kawan yang katolik dan anti protestan, atau sebaliknya yang teman protestan ketika diajak berkegiatan di tempat yang lekat dengan kekatolikan akan selalu menolak. Entah kenapa.
Sudah hampir 28 tahun (ups ketahuan deh umurnya) saya berada di dua lingkungan gereja ini. menghafal semua lagu di dalam madah bakti sama dengan menghafal semua lagu di kidung jemaat.
Kadang saya berpikir, barangkali prasangka buruk itu hidup karena kita belum membuka diri. Apapun sejarah kelamnya katolik sama protestan, apapun perbedaan teologinya, ketika Yesus mengajarkan kasih dan kita melakukannya, apalah agama itu selain sarana semata.
Kemanapun saya pergi saya selalu bangga mengabarkan kisah hidup ini. sepenggal saja semoga bermanfaat. Bahwa Tuhan menciptakan perbedaan bukan untuk membuat kita berperang dan saling meremehkan. Cateet! J

19 Desember 2014