Minggu, 28 April 2013

Menyimak Kriteria Pemimpin di Mata Ben Mboi

Catatan Orasi Ilmiah Ben Mboi, penerima Lifetime Achievement 2012 dari Forum Academia NTT


Jumat  19 April 2013, saya berkesempatan hadir di acara orasi ilmiah pak Ben Mboi, mantan gubernur NTT era 1978-1988 di aula rektorat Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Orasi ilmiah pak Ben kali ini sebenarnya terkait dengan rangkaian acara NTT Academia Award 2012 lalu, dimana salah satu penerima awardnya adalah pak Ben Mboi di kategori Lifetime Achievement.
Pak Ben dalam memori saya hanyalah sebatas mantan gubernut NTT, orang Manggarai, istrinya menjabat sebagai menteri kesehatan saat ini, itu saja. Saya memaafkan diri sendiri. Sebab harusnya saya telah mengetahui banyak tentang beliau orang hebat yang pernah dimiliki NTT. Oke, mari kita gugling semua informasi tentang beliau.Misalnya info singkat tengan Ben Mboi di Wikipedia ini.
Ben Mboi (sumbe: Doddy Doohan)
Acara sore itu berlangsung jam 16.00, yang diawali dengan nyanyian Usi Apakaet dari PSM UKAW. Dilajutkan dengan prolog oleh kak Elcid Li, selanjutkan kurang lebih 2 jam, pak Ben dengan gaya dan semangatnya mulai berorasi. Saya masih bisa melihat jejak semangat itu, meski kini beliau agak tertatih berjalan. Semangatnya luar biasa. Kapasitas intelektualitasnya sungguh masih bernyala-nyala.
Tema orasi kali itu berkaitan dengan ‘Pemimpin ideal NTT’ dan pak Ben selalu melandasi setiap perspektifnya tentang kepemimpinan dengan pengalamannya sebagai gubernur selama 10 tahun. Saya percaya pembicaraanya, saya percaya dedikasinya, sebab sejarah telah menulis itu dengan tinta emasnya sendiri. Atau adakah yang masih meragukan ini?
Pak Ben memilai orasi dengan pertanyaan sederhana, kapan seorang pemimpin dapat kita percaya?  Menurut beliau, ada dua jawaban sederhana, pertama ketika pemimpin itu punya kredibilitas. Dan yang kedua pemimpin itu punya keberanian. 

Pemimpin dan Kredibilitas

Seorang pemimpin yang kredibel, harusnya adalah juga pemimpin yang mampu mendengar. Terkait ini, beliau sedikit curhat, ketika sehari setelah pelantikan yang beliau lakukan adalah menemui semua bupati dan kepala dinas secara personal. “Saya dilantik hari Sabtu tanggal 1 Juli 1978. Tanggal 2 Juli, syukuran di Naikoten dan tanggal 4 Juli saya mulai ‘sekolah’.” Rupanya ‘sekolah’ yang beliau maksudkan adalah menimba informasi sebanyak mungkin dari pada bupati dan kepala dinas tadi. “Tiap hari saya ketemu mereka, 2 orang kadis setiap hati. Saya tanya semua informasi penting terkait dinas yang dipimpinnya.” Menarik, bahwa secara sederhana sekali beliau tidak menempatkan diri sebagai sang sok tau, tetapi orang yang belum tahu dan ingin tahu banyak.
Dari poin itulah beliau mulai menyusun kerangka kepemimpinannya sendiri. “Pemipin itu harus akrab dengan realita. Kedua, kredibel. Kalau omong A yang lakukan A, jangan omong lain perilakunya lain”
Menurut pak Ben, seorang pemimpin juga harus bisa membedakan mana yang penting dan yang tidak penting. Menurutnya, masalah tak boleh diserahkan kepada waktu untuk ‘diselesaikan.’ Untuk itu jangan bertele-tele dan menunda-nunda sesuatu.
Namun ide pak Ben tentang ‘Nation’ menjadi sangat menarik jika ditilik dari realita masyarakat NTT saat ini. Ia mengkritik kenapa pemimpin NTT sekarang sangat abai terhadap paham ‘kebangsaan’ orang NTT: Flobamora yang awalnya dicetuskan oleh El Tari. Menurutnya fungsi gubernur adalah membangun Flobamora yang beragam ini.
Kenapa menjelang pilkada NTT ini ada aroma primordialisme tercium. “Bangkitlah Timor, Hantam Flores! Hantam Katolik!” begitulah kalimat-kalimat yang menurut pak Ben beredar di kalangan masyarakat NTT di Jakarta. Pada akhirnya ia menyimpulkan bahwa demokrasi di NTT, adalah memilih siapa yang saya kenal dan saya suka, bukan siapa yang mampu. Atau pilih siapa yang kasih saya uang .
Tentang ide Flobamora, beliau bercerita bahwa ketika El Tari menyampaikan ide tersebut setelah melakukan perjalanan panjang dengan naik kuda dari Alor hingga Manggarai Barat. Kemudian lahirlah paham nation building itu: Flobamora.
Kepada para pemimpin dan calong pemimpin NTT, pak Ben mengajukan 3 pertanyaan mendasar:
1.      Bagaimana membangun NTT yang harmonis?
2.      Apa prinsip yang dipakai agar terjamin kehidupan yang harmonis dan setara dalam kondiri Flobamora yang bergama tadi? ß unsur fairness
3.      Bagaimana caranya menjadikan NTT layak bagi pluralitas.  Dan anda sebagai pemimpin loyak tidak kepada partai saja tetapi juga loyal dan setia kepada rakyat?

Pemimpin dan Keberanian

Kepada pemimpin dan calon pemimpin, pak Ben menitipkan pertanyaan-pertanyaan, yang lagi-lagi nampak sederhana tapi kaya makna.
1.      Apakah Anda orang yang berani?
2.      Apakah Anda orang yang memiliki integritas?
3.      Apakah Anda orang yang mampu berdedikasi?

Selamat bertanya kepada diri kita sendiri, dan merenunglah.

Saya bangga akhirnya bisa ketemu dan mendengar langsung orasi Pak Ben Mboi. Pemimpin yang memang dipilih karena punya kemampuan, punya integritas dan semangat untuk melayani rakyat bukan untuk partai.  Berhubung akan ada putaran kedua Pilkada, tulisan ini semoga bermakna buat kita. Meski agak sangsi juga apa kedua calon di putaran kedua memenuhi kriteria dan pertanyaan kritis pak Ben di atas?



Christian Dicky Senda. Blogger, penikmat sastra, film dan kuliner. Saat ini bergiat di Komunitas Blogger NTT (Flobamora Community) dan Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Menulis buku puisi Cerah Hati (2011) dan sedang menyiapkan usaha penerbitan buku kumpulan cerpen Kanuku Leon berbasis crowd-funding.



Dari Nae Mutis Sampe Save Kota Tua


Catatan kopdar blogger Kupang chapter 2


Senja pantai Lasiana terlukis indah sore ini di depan saya, Mario F Lawi dan romo Patris Allegro yang baru saja tiba di depan cafe OCD Lasiana. Romo Patris rupanya sudah lebih dulu hadir di Lasiana demi memburu senja di pantai yang konon kata teman saya keindahannya selalu ajaib dan unik. Tetapi saya lebih suka senja Lasiana dengan kondisi gerimis dan langit kelabu seperti pada saat kopdar blogger Kupang chapter 1 lalu.

Dari kiri ke kanan: Danny Wetangterah, Rm. Patris Allegro, Mario F Lawi, Josua Natanael, Sandra Olivia Frans dan Nike Frans

Di Facebook dan Twitter saya mengundang teman-teman Blogger Kupang dan Soe untuk bertemu, berdiskusi dan bisa menghasilkan sesuatu. Kebetulan Sandra Olivia Frans dan Josua Natanael ‘turun gunung’ dengan kostum Soe Peduli-nya yang keren. Hadir juga Nike Frans yang saat ini lagi magang di IRGSC Kupang. Tak lama kemudian, kak Danny Wetangterah dan seorang teman fotografernya ikut bergabung ke OCD. Blogger Kupang yang berhalangan hadir, Kak Noya Letuna, kak Inda Wohangara, kak Sandro Dandara, romo Arky Manek dan kak Dody Dohaan. Kak Selus Fahik dan frater Januario Gonzaga telat saya kabari. Jadilah obrolan sederhana kaya makna ditemani kopi Manggarai, kelapa muda dan tuak manis yang baru saja dipanen langsung dari warga kompleks Lasiana.
Saya sedang berada pada titik kepercayaan yang tinggi terhadap gerakan positif anak-anak muda kota Kupang atau NTT pada umumnya. Terlebih bahwa gerakan tersebut diawali dari dunia maya dan benar-benar dilakukan dengan kebersamaan dan solidaritas tinggi dalam kehidupan nyata. Ini penting. Refleksi saya sore itu, “kuat jika bersama,” meminjam lirik lagu Superman Is Dead. Semua karena ada kerelaan untuk berbagi dan bekerjasama.
Singkat cerita kopdar Blogger Kupang chapter Kupang hari ini mendapatkan hasil yang membuat semangat saya makin meletup-letup.
bareng Rm.Patris
Pertama, ide teman-teman untuk melalukan sebuah ekspedisi budaya (cieeeh istilahnya boo!) ke Mollo, antara lain naik gunung Mutis yang tak sekedar naik gunung biasa namun tak lupa pula menyertakan ritual kebudayaan orang Mollo sebelum naik gunung. Idenya pernah saya lempar di sini. Sebelumnya kita akan mampir ke Naususu, mampir ke rumah Aleta Baun pejuang lingkungan Mollo, penerima Goldman 2013. Kalau dalam gambaran saya, kegiatan ini lintas komunitas.
Kedua, kak Danny mewakili Sekolah Musa yang dirintisnya (mirip Akademi Berbagi mbak Ainun Chonsum, dkk) mengajak teman-teman blogger untuk terlibat sebagai relawan di program kelas menulis kreatif, blog, dan fotografi di sekolah-sekolah yang ada di Kupang. Direncanakan minimal 3 kali pertemuan/workshop, para siswa



sekolah tersebut akan menghasilkan sesuatu entah blog dan tulisan juga karya foto yang bisa dipamerkan.
Ketiga, menyambung dengan topik hangat yang sedang berkembang di Kupang tentang akan dijadikannya kompleks kota tua Kupang untuk pusat bisnis/perbelanjaan. Di media sosial sudah muncul gerakan #SaveKotaTua Kupang, maka blogger pun ingin sekali punya andil juga untuk menyuarakan itu lewat media blog. Kota Tua jelas adalah identitas sejarah dan kebudayaan kita warga Kupang. Jika semua bangunan cagar budaya itu lenyap apa yang bisa kita banggakan dari masa lalu kita? Jangan sampai kita akan kehilangan jejak peradaban kita sendiri.
dua Frans: Sandra dan Nike
Maka muncullan ide untuk membuat tur kecil-kecilan para blogger Kupang ke kota tua Kupang, merekamnya dalam tulisan dan foto. Misalnya topik utama yang kita update di blog tentang #SaveKotaTua dalam waktu 1 minggu atau 1 bulan.
Keempat, mendukung ide teman-teman Sekolah Musa dan Rumah Desain Kupang yang berencana akan mengadakan sebuah festival film indie secara kecil-kecilan di Kupang yang melibatkan karya film yang dibuat anak-anak NTT. Plus ide untuk membuat festival permainan tradisional di Hari Anak Nasional. Sehari dua hari, abaikan perhatian mereka dari Angry Bird dan sejuta game online kepada gala asing, mariyeti mari yo, tobe-tobe, tumbu belalang, sikidoka, dll.
Kelima, Kupang Bagarak dan Soe Peduli, direncakan akan melalukan sebuah charity act untuk kesekian kalinya bagi Rokatenda di kota Soe. Tema yang diambil adalah 100 tembang cinta untuk Rokatenda. Kolaborasi yang menarik. Sebab akan ada banyak komunitas anak muda di Kupang dan Soe berkumpul, berlaku seni dan menggalang dana. Saat ide ini dilempar di Twitter pun, para nona kardus (nadus) dan nyong kardus (nyadu), yakni para relawan pembawa kotak amal gerakan seribu sudah begitu sumringah ingin segera naik ke Soe.
Wow, obrolan kami semakin menarik. Tetapi saya harus bilang bahwa kak Danny Wetangterah adalah pribadi yang luar biasa. Menarik ada fotografer, blogger, aktivis sekaligus pengusaha yang punya banyak mimpi dan wawasan yang selalu ingin dibagi bersama.
Ide sudah kita tuang bersama, saatnya kita semai dalam aksi nyata. Jang tunda talalu lama o kaka dorang...inga katong blogger NTT pung tagline, talk more, do more...
Hehehe...

Salam blogger.

Christian Dicky Senda. Blogger, penikmat sastra, film dan kuliner. Penulis buku puisi Cerah Hati (2013). Konselor di SMPK St. Theresia Kupang. Saat ini sedang berusaha menerbitkan buku kumpulan cerpennya Kanuku Leon dengan sistem crowd-funding, hasilnya akan dihibahkan ke rumah baca dan sekolah-sekolah di NTT.

Jumat, 26 April 2013

Namanya Laura


Catatan aksi gerakan seribu SMPK St. Theresia Kupang untuk pengungsi Rokatenda


Namanya Laura. Laura Kennenbudi. Siswi kelas VII D SMPK St. Theresia Kupang. Sosok yang easy going dan super komunikatif, begitu kesan pertama saya berkenalan dengan Laura. Laura cerdas dan aktif mengikuti hampir semua kegiatan di sekolah. Dia juga pemusik yang handal. Setiap kali sekolah mendapat jadwal koor di Katedral Kristus Raja Kupang, Laura biasanya juga akan duduk di kursi pianis. 
Laura (dengan tanda lingkar) bersama kru Jurnalisme Pelajar Speqsanthers
Awal tahun 2013 lalu, karena melihat banyak potensi unggul di dalam dirinya, saya mulai sering mengajaknya mengikuti kegiatan-kegiatan yang saya prakarsai di sekolah. Salah satunya kelompok jurnalisme pelajar, Speqsanthers+. Kelompok ini saya percayakan mengelola majalah dinding dan blog juga majalah elektroniknya (meski kini akan tersendat-sendat). Tetapi selalu ada usaha baik dari mereka, termasuk Laura. 
Pada saat momen Valentine, kami bikin film pendek nan sederhana, Sang Pengelana, kami garap dengan menggunakan tablet S*msung milik Laura. Hasilnya lumayan. Selalu saya tanamkan ke mereka adalah proses kreatif itu sendiri, hasilnya mungkin saja subjektif terkait kadar baik buruknya tapi sekali lagi yang namanya proses, itu tak ternilai dan kaya makna. 

Bersama mereka, saya paling suka melempar ide dan gagasan. Lantas membiarkan mereka berpikir dan berimajinasi atas perkataan saya. Dan kalau sudah ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka, “Ayok Pak... begini saja pak, hmm bagusnya begitu....” Ahh, rasanya senang sekali. Artinya mereka sudah turut berpikir, berimajinasi dan larut dalam proses kreatif itu. 
Laura biasanya sangat antusias dengan ide yang saya lemparkan. Ia selalu cekatan menangkap ide saya, lalu mengolahnya dengan cara Laura sendiri. Hasilnya selalu baik. Hanya saja ide kita untuk foto levitasi belum terlaksana yah, Laura. Segera. Juga ide membentuk kelompok teater sekolah. Berani malu? Maksud saya sudah pede? Mari kita mulai.

Beberapa waktu lalu, ketika aksi solidaritas untuk pengungsi Rokatenda bergulir dimana-mana, dalam dunia nyata maupun maya, Laura termasuk yang begitu peduli dan menyambut baik ide saya untuk melakukan gerakan seribu rupiah di sekolah. Malam itu secara medadak saya mention ke akun twitter Laura, Ria Ludony dan Ivanna Fulbertus, tiga sosok siswi yang saya tahu betul reputasi  dan semangat juang mereka. Saya bilang, yuk, jangan mau kalah sama yang lain. Kita bikin aksi gerakan seribu rupiah (geser) di sekolah besok. Siap? Mereka selalu siap.

Saya kirim SMS ke Laura, “tolong cetak tulisan ‘geser dari speqsanthers untuk #rokatenda’ dan ‘mana seribu rupiahmu untuk #rokatenda?”. Laura selalu cekatan dalam segala hal. yang genting sekalipun. Besok pagi-pagi, ia sudah muncul di ruangan saya dengan 4 lembar tulisan permintaan saya. 
Pagi itu kotak amal dengan segera saya bikin, lem, taaadaaaa... jadilah kotak amal yang sehari itu bergeser dari satu kelas ke kelas yang lain, dari kanting sekolah hingga ke kanting kampus Unwira tetangga SMPK St Theresia. Laura dan Tara, dibantu Stevy, Benyamin dan Hanny, hari itu menjadi murid saya yang paling luar biasa. Sejenak saya melihat ada gurat malu-malu, mungkin dalam benak mereka ada pikiran seperti ini: ‘ih kok begini sih rasanya’, tapi itu sejenak saja. Sejurus kemudian semua menjadi sangat bersemangat dan tanpa ada bebas apapun, apalagi rasa sungkan dan gengsi. Satu ujian mental nan kecil telah mereka lampaui. Saya bangga. Kesempatan ini jelas telah melatih sensivitas afeksi mereka, hati dan budi mereka. Kalian lulus.
Ketika hasil geser akan dikirim ke posko Flobamora Community di Ende, Laura datang ke ruangan saya dan bilang, “Pak, boleh sonde beta ju buat kotak amal di beta pung toko?”
Saya jawab, “Awii Lauraaaa, bisa sekali itu. Pokoknya lu buat saja. Pak percaya lu bisa tangani semua... intinya lu su awali dengan niat baik, pasti jalannya juga baik.”
“Oke paaak...” Laura berlalu dengan senyum sumringah.
Besoknya, Laura mengirim twitpic ke twitter saya, “Pak ini model kardus amalnya. Saya buat agak buru-buru jadi kurang rapi. Sudah saya taruh di toko saya.” FYI, Laura punya toko elektronik, namanya Bidcab di daerah Kuanino.
Laura sedang beraksi di kelas IX B Speqsanthers
Tak hanya itu saja, rupanya semangat anak ini luar biasa. Laura masih sempat mention saya katanya, ‘Pak, katong ju bawa ini kotak amal keluar ke jalanan Kuanino.”
 OMG! Saya apresiasi usahamu, Laura. Saya membalas mentionnya dengan senyum penuh makna.

Dua minggu berlalu, saya pun hampir lupa dengan aksinya di Bidcab. Laura memberi tahu saya, “Pak, besok kotak amalnya saya bongkar sudah e? Nanti pak tolong kirim ke Ende..”
Dan hari ini, ia datang ke ruangan saya membawa sebuah amplop berwarna putih, katanya, “Pak, ini hasil geser di toko saya. Ada Rp. 500.000,..” saya dan ibu Ana rekan guru BK cuma saling berpandangan dan tersenyum.
‘Trus lu kenapa lai su pake gaya angkat naek itu poni ke atas? Kastunjuk lu pung testa lebar ko?” ejek saya.
“Hahahaha, pak dooo... ini kan testa (baca: jidat) orang pintar hang??!!” katanya membela diri. Oh, okelah. Yang pasti saya bangga punya murid yang aktif dan komunikatif sepertimu.
“Eh pak, kapan rencana buat film untuk perpisahan dengan kakak kelas 9?”
Nah!
Ide ini memang pernah kami bahas. Adik-adik kelas ini pengen mengedit sebuah video berisi foto-foto dan mungkin sedikit dokumentasi aktivitas siswa kelas 9.
“Oke, segera, Laura. Terima kasih sudah mengingatkan.”
Ah, anak ini, membuat hidup selalu berwarna.  Ia berhasil mengumpulkan Rp.500.000, katanya, “ini untuk saudara-saudara saya di Rokatenda...” 
Namanya Laura. Baru kelas VII D.


Christian Dicky Senda. Blogger, penikmat sastra, film dan kuliner. Menulis buku puisi Cerah Hati (2011) dan segera menerbitkan buku kumpulan cerita Kanuku Leon dengan sistem crowd-funding untuk leboh dari 200 perpustakaan dan rumah baca di NTT, gratis. Twitted @dickysenda.

Kamis, 25 April 2013

Melihat Timor dari Kacamata Orang Non Timor


Catatan kopdar bersama Feri Latief di Nekamese Resto
 

Jumat 19 April 2013 jam 13 siang saya berkesempatan kopdar dengan bang Feri Latief seorang wartawan lepas di beberapa media nasional salah satunya National Geographic Traveler. Kebetulan selama beberapa minggu belakangan beliau sedang berada di Timor. Bersama timnya sedang melakukan peliputan khusus untuk pembuatan buku. Topiknya tentang komunitas Tionghoa di Timor.
Bersama kak Edi Olin. sumber: https://twitter.com/feri_latief
Tentang bang Feri, saya mengetahui jejak beliau sekitar 3 tahun lalu, ketika secara tak sengaja menemukan tulisan-tulisannya tentang mama Aleta Baun dari Mollo. Kala itu saya memang lagi penasaran sama tokoh perempuan Mollo yang masyur itu. Karena meski orang Mollo juga, saya tak terlalu banyak tahu tentang mama Aleta. Dan akhirnya jadi tahu semenjak membaca tulisan bang Feri tentang mama Aleta di blog prbadinya http://matakumatamu.multiply.com
Beberapa waktu kemudian, tulisan mas Feri yang lain tentang kearifan masyarakat Mollo di majalah NGT saya baca (juga secara tak sengaja) ketika sedang berkunjung ke Gramedia Mall Malioboro.  Dan baru beberapa bulan terakhir akhirnya saya bisa berkomunikasi dengan beliau via Twitter.
Ketika tahu bahwa bang Feri, dkk akan mampir ke Soe untuk meliput komunitas Tionghoa-Timor yang ada di Kota Soe, saya langsung mention “Ke Kapan juga. Ada komunitasnya di Kampung Cina.”
Akhirnya mereka ke Kapan juga.
Setahu saya, komunitas etnis Tionghoa lebih dahulu ada dan eksis di Kapan ketimbang di Soe. Sebab ibukota Zuud Midden Timor (sekarang setingkat kabupaten) awalnya di Kapan. Lalu pindah ke Soe. Artinya peradaban kota Kapan sebenarnya jauh lebih tua ketimbang kota Soe. Kedua, Kapan, sebagaimana Niki-niki dan Nunkolo dulunya adalah ibukota kerajaan yang ada di TTS.
Kapan adalah ibukota kerajaan Oenam atau Mollo, Niki-niki ibukota kerajaan Amanuban, dan Nunkolo yang dulunya ibukota kerajaan Amanatun. Sejarah mencatat bahwa orang-orang dari Cina punya relasi perdangangan dengan para raja kala itu. Kala itu kayu cendana, madu dan lilin adalah komoditi unggulan Timor yang menarik pedagang Cina untuk mampir. Oleh para raja, komunitas Tionghoa akhirnya diberi hak tersendiri, misalnya adalah penggunaan fam/marga lokal dan menempati posisi tertentu dalam struktur/tatanan kemasyarakatan. Komunitas Tionghoa pun telah melakukan banyak sekali asimilasi kebudayaan dengan masyarakat lokal.
Saat itu saya banyak nge-tweet ke bang Feri soal komunitas Tionghoa di Kapan. Saya cukup tahu sedikit sejarah tentang mereka, karena sering mendapat cerita dari bapatua dan mamatua. Puji Tuhan, saya punya orang tua yang sonde kikir dengan segala informasi jadul. Namun sebenarnya karena saya punya ketertarikan yang besar terhadap sejarah, terutama sejarah peradaban orang Mollo. Ada banyak mimpi terkait hal tadi yang sudah saya konsepkan, sambil menunggu entah kapan ide-ide itu bisa tereksekusi.
Menurut bang Feri, sekitar bulan September nanti mereka akan ke Timor lagi untuk melanjutkan peliputan dan pengumpulan data. Kayaknya ini akan menjadi kajian yang menarik. Sebab rupanya masih jarang ada yang meneliti tentang uniknya asimilasi komunitas Tionghoa di Timor. 

Kopdar di Nekamese Resto

Awalnya saya rencakan untuk kopdar bersama bang Feri, dkk melibatkan kawan-kawan blogger saya. Namun karena satu dan lain hal akhirnya saya saja yang bisa. Itupun dengan agak pemaksaan ke bang Feri, karena setelah makan siang di Nekamese itu mereka langsung menuju bandara dan terbang ke Jakarta.
Siang itu di Nekamese ada bang Feri dan tiga orang temannya yang terkait langsung dengan penelitian dan penulisan buku tersebut. Lalu ada om sopir dan kak Edy Olin, kontributor Kompas TV. Obrolan siang itu singkat saja, ditemani sup jagung, ikan saus asam manis, tumis se’i sapi dan tumis daun singkong-bunga pepaya.
Seru dan menyenangkan, bisa ketemu orang-orang hebat dalam bidangnya masing-masing. Wawasan saya bertambah. Pastinya semangat saya untuk berbuat sesuatu untuk Mollo bertambah. Mungkin akan segera saya mulai dengan proyek buku Kanuku Leon saya. Amiiin.
Siang itu, mengobrol bersama mereka semacam melihat Mollo (atau Timor pada umumnya) dari kacamata orang non Mollo, non Timor. Bukan berarti tanpa makna ya, tapi justru kaya makna. Sebab ada begitu banyak perspektif baru yang lahir dari sana. Sayang, obrolannya terlalu singkat. Terima kasih bang, untuk traktiran makan siangnya.


Christian Dicky Senda. Blogger, penikmat sastra, film dan kuliner. Saat ini bergiat di Komunitas Blogger NTT (Flobamora Community) dan Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Menulis buku puisi Cerah Hati (2011) dan sedang menyiapkan usaha penerbitan buku kumpulan cerpen Kanuku Leon berbasis crowd-funding.