KANUKU LEON
Kanuku Leon
Penting:

Rabu, 19 November 2014

Surat Terbuka Untuk Koran Victory News


Yth. Redaksi Koran Victory News

Salam sejahtera.
Melaui blog pribadi saya ini, saya, Christian Senda ingin menyampaikan surat terbuka untuk redaksi koran Victory News sekaligus memohon klarifikasi.

Koran Victory News edisi Minggu 16 Nov 2014 memuat artikel berjudul Sejarah Kerajaan Oenam dan Kerajaan Mollo di kolom Sastra dan Budaya. Ketika saya baca, seluruh artikel adalah hasil copy paste dari review yang saya tulis berdasarkan buku Sejarah Pemerintah TTS (laporan penelitian Jacob Wadu, dkk terbitan Undana Press bekerjasama dengan Pemda TTS (cetakan pertama 2003). Review itu saya posting ke blog pribadi ini tangga 15 Desember 2010 (link-nya di sini). Sayangnya edisi cetak Victory News tidak tertera sumber tulisan padahal saya yakin betul 100% artikel tersebut dicopy paste dari blog saya hanya saja redaksi memenggal beberapa paragraf akhir tentang daftar nama-nama raja yang pernah berkuasa di Mollo. Sekali lagi yang saya sayangkan, redaksi tidak menulis sumber artikelnya (entah link blog saya atau paling tidak menulis sumber buku karya pak Jacob Wadu, dkk tersebut). Sayang sekali. Saya kemudian mempertanyakan oknum wartawan yang mengcopas tulisan dari blog saya. Saya juga mempertanyakan kinerja dewan redaksi atau editor, kok bisa lolos? Apakah wartawan tidak diajari kode etik jurnalistik? Apa perlu kami masyarakat awam yang harus mengajarkan kepada wartawan Victory News apa saja kode etik yang harus dipahami jurnalis Anda?
Saya mohon klarifikasi redaksi Victory News. Dan semoga ini adalah yang terakhir yang dibuat VN sebagai koran lokal NTT yang punya reputasi baik. Jika tidak maka saya dan kawan-kawan pembaca lainnya bisa saja menganggap bahwa Victory News tidak lebih dari koran murahan, koran ecek-ecek yang sukanya plagiat sana sini. Apalagi ini kasus kedua yang saya alami (VN pernah memuat puisi saya atas nama orang lain). Mohon jawabannya.
Terima kasih untuk perhatiannya.

Salam
Christian Senda
e-mail: dickysenda@gmail.com 


Senin, 17 November 2014

Solidaritas Giovanni Paolo II: Berbagi Dari Kekurangan


keluarga besar kelompok solidaritas giovanni paolo 2

Tanggal 9 November 2014saya bersama keluarga besar kelompok Solidaritas Giovanni Paolo 2 berkesempatan mengadakan bakti sosial pengobatan gratis di Laus, Kupang Timur (termasuk dalam wilayah paroki Sulamu).
Sedikit perkenalan tentang kelompok solidaritas Giovanni Paolo 2 ini. Kelompok ini lahir tahun 2000 di Kupang hasil inisiatif Romo Sipri Senda dan beberapa orang muda Katolik dari paroki Katedral Kristus Raja Kupang. Saya sendiri baru bergabung dengan kelompok solidaritas ini dua tahun terakhir.
Kelompok ini bukan organisasi resmi. Semua yang berkumpul hanya karena punya niat yang sama; "Berbagi dari Kekurangan." Begitu motto yang selalu diingatkan Romo Sipri selaku ketua kami. Ya, kegiatan-kegiatan sosial yang kami lakukan hanya dimulai dari sumbangan wajib anggota Rp.10.000/bulan, ditambah perpuluhan atau sumbangan sukarela. Selama dua tahun bergabung, saya menemui sendiri mujizat bahwa selalu saja ada 'yang ditambahkan' ketika kami merasa 'ada yang kurang'. Suer. Asalkan dilakukan dengan niat tulus, yang saya pelajari dari kelompok ini, pasti akan terlaksana, apapun kendalanya. Syukurlah bahwa lewat sumbangan wajib, perpuluhan, sumbangan sukarela, dan memanfaatkan jaringan pertemanan, dll, berbagai kegiatan sosial yang dilakukan selalu saja mulus. Puji Tuhan! Berbagi dari kekurangan itu bukan sebuah kemustahilan. Beta sudah membuktikan itu, kawan...
Kegiatan pengobatan gratis kali ini dibantu oleh 5 orang dokter yang kebetulan sedang menyelesaikan masa akhir tugas PTT di Kupang, dibantu 3 dokter muda, 2 perawat dan 4 apoteker, syukurlah 160 warga sekitar Nunkurus, Laus, hingga Pariti bisa mendapat kesempatan untuk berkonsultasi dengan tim medis, mendapat obat bahkan ada yang langsung mendapat rujukan untuk penanganan lebih lanjut.
Kegiatan diawali dengan misa bersama umat Katolik di stasi st. petrus Laus. Sempat juga Lia, Lan, dkk membuat kegiatan dadakan untuk anak-anak Sekami.
Syukurlah kegiatan berjalan lancar. Semua umat terlayani dengan baik. Terima kasih untuk Kadis Kesehatan Kab. Kupang, Kapus Naibonat, Romo Kim (pastor paroki Sulamu), pengurus stasi Laus, dan umat sekitar Laus, Sulamu dan Pariti. Tuhan memberkati setiap karya kita...

obat-obatan di bus seminari st mikhael penfui ;)

bersama kak imma tora

persiapan sebelum misa

kapel sederhana di laus, kupang timur

bersama Lia Feka, paling yunior di Giovnni Paolo

Hayoo siapa yang paling berat

masyarakat sekitar laus, pariti dan sulamu


lia, linda, lan dan titin bersama adik-adik Sekami




bersama kak Nona Mau, senior di Giovanni Paolo

sebelum ketemu dokter, tensi dulu yaa

romo sipri, mentor, kakak sekaligus sahabat

sebab selfie isn't crime kan ya?

tongsis kak priska nahak beraksi...

tampang-tampang 'malele' karena laus yang panaaas

bukan tim dokter....ini mah tim narsis

Sabtu, 08 November 2014

Perjalanan



 
Di atas ferry penyebrangan dari Kupang menuju Larantuka, masa lalu menjadi penting bagi saya. Laut Sawu begitu jinak malam ini. Di dek atas saya tiduran di bawah kolong kursi plastik oranye yang berderet serupa ruang tunggu kantor pos. Di samping ada lelaki yang amat saya kagumi. Polisi hebat di masanya. Kepala keluarga yang tangguh.
“Setelah lulus tes polisi pada Maret 1963, saya merantau dan baru kembali ke kampung 14 tahun kemudian.” Ia selalu berbicara dengan santun dan tenang. Saya menyimak dan mencoba mengingat. Ketika tengah malam ia sudah benar-benar lelap, giliran saya menulis ulang semua kisahnya di buku harian saya. Kisah yang sedang anda baca ini. 

***

Di banyak kesempatan saya selalu memuji sosok Bapatua, ayah kandung saya. Ia pribadi paling setia dan bijaksana yang pernah saya kenal. Bapatua... kami terbiasa menyebutnya demikian. Itu terjadi ketika tahun 1995 ia punya cucu pertama. Sang cuculah yang memanggilnya demikian. Ia lahir tanggal 18 September 1940 dengan nama baptis Ignasius di sebuah desa kecil bernama Seroara di perbukitan dekat Paga, kota kecil pesisir di perbatasan Ende dan Sikka. Umur 10 tahun ia baru masuk sekolah rakyat di Paga. Tiga tahun di sekolah rakyat, ia berniat menyusul kakak lelakinya yang sudah masuk sekolah guru. Niatnya untuk melanjutkan studi ke Sekolah Guru Bawah di Boawae gagal karena terkendala biaya. Untunglah di saat yang sama seorang misionaris di Paga baru saja mendirikan sebuah SMP bernama Al Vares.
            Bapatua lahir dari keluarga guru agama nan sederhana di Seroara. Ayahnya dikenal di berbagai kampung karena berhasil membaptis banyak orang dan mendidik anak juga remaja untuk menerima komuni pertama. Ia bahkan dipercaya punya kesaktian karena beberapa benda ajaib yang dimilikinya. Ketika guncangan gempa bumi maha dahsyat mengguncang Flores pada tahun 1992, ia selamat dari reruntuhan rumah tembok, ditemukan meringkuk persisi di sudut kamar dengan sebuah patung perempuan cantik di tanganya. Tak ada luka lecet setitikpun!
Bapatua punya dua kakak laki-laki dan empat adik perempuan. Dulu aturan keluarga, yang boleh bersekolah adalah anak laki-laki, sedangkan anak perempuan hanya bisa membantu di kebun sambil menunggu ada lelaki yang akan mengantar belis.
Setelah tamat SMP, Bapatua diajak teman sebangkunya Lamud Landjar untuk bekerja di Maumere. Lamud itu keturunan Arab pertama yang menetap di pesisir Paga. Di Maumere, Lamud bekerja di studio foto yang dikelola keluarganya. Ia pula yang merekomendasikan Bapatua untuk bekerja di sebuah koperasi milik pamannya, Mohamad Saleh, kepala kampung Beru yang seorang Masyumi. Di Maumere ia bekerja selama satu setengah tahun dengan gaji Rp. 5 dan sekantong beras dan beberapa kali pindah tempat tinggal mulai dari dari rumah saudara di kampung Kabor hingga numpang tidur di rumah petak yang disewa sahabatnya persis di samping pabrik sabun cuci dekat pelabuhan. Maumere pada tahun 60an awal adalah kota pelabuhan ramai di Flores. Banyak kapal mampir membawa beras, pakaian dan banyak kebutuhan warga dari Jawa dan sebaliknya akan pulang membawa kopra, kemiri dan hasil bumi lainnya.
Bapatua adalah pekerja yang jujur. Oleh sang majikan ia dipercaya untuk membantu cabang koperasi di Geliting, sebuah kampung yang ramai di timur kota Maumere. Kata Bapatua, di Geliting ia tinggal di rumah bapak besarnya yang sehari-hari berjualan sirih pinang di pasar. Semua penghuni rumah sudah harus keluar rumah mencari kerja paling lambat jam 7 pagi dan baru boleh pulang malam harinya. Bagi yang sudah punya penghasilan, layak mendapat makan malam di rumah, sebaliknya yang pekerjaanya masih simpang siur, jangan harap banyak. Aturan itu berlaku bagi semua anak kandung maupun anak saudara yang menumpang di rumah itu. Bapatua tentu saja beruntung sebab gaji Rp. 5 dan sekantong beras menjadi jaminannya untuk mendapat makan malam di rumah. Ia melirik saya dan tertawa.
Dua tahun kemudian Bapatua mendapat kabar dari bapak besarnya jika ada pendaftaran bagi calon polisi. Dua puluh pemuda terbaik akan dikirim ke sekolah polisi negeri di Kupang. Mereka hanya memeriksa kesehatan kami dan menyuruh kami olahraga, kenangnya. Dua belas orang terpilih, termasuk dirinya.
“Saya hanya membawa beberapa potong pakaian yang ditaruh dalam sebuah kopor yang terbuat dari kaleng. Itu sangat mirip dengan kaleng kerupuk, ha-ha-ha-ha...”
Kapal Reni membawa ia dan sebelas temannya menyusuri pantai di timur Flores, mampir sebentar di Alor lalu menuju Kupang.

***
Apa yang paling menarik dari kisah masa silam seorang manusia? Saya selalu menempatkan tiga tonggak kehidupan; kelahiran, perkawinan dan kematian sebagai catatan penting dalam buku harian saya.
Setelah lulus sekolah polisi negara, Bapatua ditugaskan di wilayah Timor Tengah Selatan hingga menikah dengan perempuan asal Mollo, yang kelak memberinya 8 anak termasuk saya si bungsu. Bapatua datang dari keluarga Katolik taat dan sebaliknya, Mamatua dari keluarga Protestan yang juga tak kalah taatnya. Ada semacam janji nikah yang unik dan terus mereka pelihara hingga usia pernikahan ke-45 tahun. Tak ada jalan berseberangan di rumah kami. Dari dua sudut yang berbeda, ada keadilan, kesetiaan dan seabrek nilai luhur yang putih. Dari sudut yang berbeda itu, segala nilai bergerak dengan seimbang. Dari sudut yang berbeda itu, titik yang dituju toh sama.
Lelaki yang kupuja ini pernah berujar,
Ia bahkan menjadi sangat Timor ketimbang isteri dan anak-anaknya. Dua puluh enam tahun bertugas mengelilingi hampir semua kecamatan di Timor Tengah Selatan, ia pensiun di usia yang masih muda, 49 tahun, dengan pangkat pembantu letnan dua. Kala itu usia saya baru 3 tahun. Ia yang lahir dari keluarga petani kemudian memilih aktifitas bertani dan memelihara ternak hingga kini. 


**

Kami sudah berada di atas kuburan keluarga besar Bapatua di Seroara. Lilin dibakar dan ditempatkan di atas batu nisan bersama dengan bergelas-gelas kopi panas dan berpiring-piring kibi, filu, kue kembang goyang, termasuk beberapa jenis kukis kering yang kami bawa dari Timor. Sedikit ritual pati ka kami lakukan. Pati ka adala memberi makan untuk arwah orang meninggal. Makanan cukup diletakkan di atas kuburan dengan lilin dan doa sebanyak mungkin. Biasanya adik-adik perempuan Bapatua yang selama ini menjaga kampung akan melengkapinya dengan serentetan tuturan dalam bahasa adat. Mereka juga akan menyelinginya dengan nyanyian yang memilukan. Bukan sedih yang ingin dirayakan. Ucapan syukur atas segala keajaiban hidup saja yang ingin mereka gali dari memori. Setelah ritual itu berakhir, biarkanlah anak-anak bahagia dengan tugas mereka; menghabiskan semua makanan dan minuman di atas kuburan.
“Ari-ariku di tanam di kampung ini. Jika ada yang terpecah-pecah dalam relasi keluarga, ari-ari itu memanggilku pulang.” Kulihat Bapatua mengangkat mukanya. Kurasakan dadanya sesak.
“Jika akhirnya tugasku selesai, semoga ada yang bisa melanjutkan misiku.”
Aku merasa kalimatnya itu membuatku bisu.
 “Kau lihat itu?” Ia mengarahkan tangan kanannya ke belakang rumah tua milik ayahnya. Aku melihat sosok yang entah mengapa tak membuatku takut sama sekali. Seekor ular piton besar, melilit di tiang-tiang lumbung.
“Ada saatnya kau akan mengetahui segala sesuatu tentangnya...”
Buku harian ini saya tutup sementara. Catatan tentangnya mungkin akan sangat panjang. Sepanjang umurnya. Ia pernah bilang, dekat dengan keluarga memperpanjang usianya. Termasuk jalan di depanku.


Mollo Utara, 2014

Catatan: Kibi makanan tradisional suku Lio, terbuat dari beras yang direndam, lalu disangrai dan ditumbuh hingga pipih. Filu adalah kue sejenis cucur, namun lebih padat dan keras. Filu dan kibi akan lengkap jika dinikmati dengan kopi Flores panas.

Rabu, 05 November 2014

Kampanye Stop School Bullying di Speqsanthers


Bersama murid-murid saya di kelompok jurnalis pelajar SMPK St. Theresia, kita lagi bikin aksi selama bulan November 2014, kampanye STOP SCHOOL BULLLYING. Kampanye dengan lebih kreatif dengan menggunakan mading sekolah, film pendek dan media sosial (web www.smpktheresia.web.id, twitter dan facebook), juga majalah dinding di sekolah. Kamis, 7 November akan ada aksi tandatangan petisi yang isinya menolak bully di Speqsanthers.

Laura sedang memotret Habel

Angel Thalo

Charryn dari kelas 7G


Edo Lende dan Alda Koli

Habel


Irene Dandung

Juan Messaah

Pearly Feonale

San Cay

Shela dan Nia Ully

Stenly Gay

Minggu, 02 November 2014

Tentang Buku Cerpen Kedua Saya


Tepat setahun lebih sebulan buku kedua saya, buku cerpen Kanuku Leon, terbit. Selama tahun 2014 saya merasa bersemangat menulis ide-ide, imajinasi baru dan cara pandang saya tentang tanah Timor tempat saya lahir dan juga keluarga besar saya. Saya beruntung punya kesempatan bertemu penutur-penurut hebat yang dari mereka saya temukan banyak hal yang kemudian memperkuat ide dan imajinasi saya. Saya terus menulis dan memang jarang mempublikasikan cerpen-cerpen tersebut ke jurnal atau koran. Rasa penasaran saya pada dongeng-dongeng dalam keluarga dan masyarakat tempat saya lahir justru terlalu besar energinya untuk menarik saya lebih dalam dan intens untuk mendengar dan membaca.
Jelang akhir tahun 2014, saya sampai pada titik mengompilasi cerpen yang sudah saya tulis, merancangnya dalam sebuah buku. Setelah menggarap Kanuku Leon saya memang bersemangat dan terus termotivasi untuk mengimplementasikan semua ide saya tentang sebuah buku sastra, baik dari segi isi, ilustrasi hingga sampul. Saya beruntung punya banyak sahabat yang hebat yang membantu saya dalam proses penyuntingan, diskusi, eksekusi ide ilustrasi dan sampul. Saya nikmati semua proses itu. Dan kini saya sudah tidak sabar lagi untuk menggarap buku cerpen kedua saya. Setelah bergonta ganti judul, saya rasa di awal November ini saya ketemu judul yang pas, setelah 2 hari menyepi, menulis dan melarikan diri dari sakit hati yang baru saja menyerang saya karena orang yang saya cintai ternyata lebih memilih orang lain. Ah sudahlah. Keterpurukan yang untungnya tak berlangsung lama malah melahirkan semangat baru untuk melanjutkan usaha penerbitan buku cerpen kedua saya, yang saya beri judul

Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi

Ide besarnya masih seputar kearifan lokal orang Dawan Timor dan beberapa pandangan saya tentang keluarga yang membesarkan saya. Saya masih mengusung tema ekologi, sosial budaya dan tentunya cinta. Tentang keluarga, saya coba tulis apa yang saya sukai dan ketahui dengan ayah dan ibu saya.

Saya belum tahu pasti kapan buku ini bisa terbit. Saya mesti dan harus berkomunikasi dengan editor saya, bro Mario F Lawi dan kepada seniman hebat, teman baik saya Gerald Louis Fori. Saya ingin persembahkan buku ini untuk ayah dan ibu saya. Tak sabar.


Patah




--cerpen christian senda
Adakah dongeng manis tentang senja dan hujan yang jatuh cinta? Di kota karang ini, ada setahun waktunya dongeng itu dilukis.
“Maaf sekali aku tak bisa.” Suaramu yang getir tersapu angin malam sehingga yang kudengar tak begitu jelas. Kukira-kira saja kalimatmu begitu. Apakah begitu? Kau pastinya orang yang jujur.
“Akan  saya tunggu sampai kapan kala itu datang. Kau harus memutuskan. Selesaikan baik-baik dengan pacarmu dan kita bisa memulai langkah baru.”
Hingga setahun kemudian, waktu menunggu terus terlukis. Kau menyelesaikan hubunganmu dan saya memulai dengan lebih tentram dan bertanggungjawab. Hujan dan senja adalah tokoh yang paling sering kita perankan. Kita tahu keajaiban senja mengirim banyak pesan. Senja adalah pendengar yang baik. Sebulan sekali kita akan beradu kisah tentang purnama yang menguning dari bukit-bukit kering. Kau mengingatkanku setiap kali kalender bulan di laptopmu menunjukan bulatan yang penuh dan aku sering salah menebak kapan purnama itu tiba. Waktu memang akan terasa singkat, tapi siapa yang mengira catatan tentang kita nantinya terlalu sulit untuk dihapus. Hujan dan senja bergantian atau bersamaan mengisi buku hidup masing-masing dengan gambar terbaiknya, kadang jelek, kadang biasa saja. Senja yang moody dan hujan yang tak sabaran.
Dalam rentang kisah yang singkat ini, kau pernah menghadirkan Bumi, marungga yang kau baptis entah sebagai anakmu dengan sertifikat lahir berbahasa Inggris. Ada juga Kitty yang kerap bermanja padaku dan sempat membuat kegaduhan kecil jelang kelahiran anak semata wayangnya. Sementara aku sendiri menasbihkan Tuk-Tuk sebagai sahabat kita berkelana.

***
copyright myislamicpartner.com

Butuh setahun lebih untuk mengejarmu dan cukup semalam kau patahkan sepatah-patahnya segala yang telah kita bangun bersama. Perasaan saya memang selalu tajam, saya akui kehebatannya itu. Dan terbukti di belakang saya, kau mencoba bermain api. Ah terbakar sudah. Hangus lalu jadi abu yang tersapu oleh angin ke arahku saja, terhirup dan menyesakkan dada semalam suntuk. Dua malam tiga malam entah hingga malam ke berapa sakit ini benar-benar akan lenyap ataukah ia akan bertahan lama, menjalar dan meremukkan segala yang dialiri darah. Ia yang dalam diam, akan mematikan sel demi sel. Kau yang bermain, aku yang luka berdarah.  
Malam ini kulihat bulan setengah berseri. Tapi ia tak lagi berarti. Besok sore senja akan merona, tapi barangkali ia akan mati. Besoknya lagi hujan tinggallah nama. Apakah dongeng itu mematikan? Bulan akan lenyap di trotoar jalan. Senja dan hujan selamanya akan dihimpit batu karang pantai di Barat sana (pantai rahasia kita). Tiada seindah dulu. Adakah lagu paling menyayat-meremuk hati jadi patah sepatah-patahnya? Janganlah kau tanya apakah hal itu selirih lagu Cry Me A River? Jika pun kau adalah Alice dalam film Killing Me Softly, biarkanlah aku merenung. Kemana cinta harus dicari? Mengapa ia harus diperjuangkan mati-matian? Berapa lama harus bertahan jika ada yang berkhianat?
Ada orang yang pernah bersabda tentang kebahagiaan, tentang ketulusan dalam sebuah makan malam perayaan ulang tahun di sebuah restoran Aceh yang mana menu utama adalah puisi-puisi usang Sapardi. Aku ingat, kini sabda itu adalah omongan yang kosong, tiada angin. Barangkali dalam kehampaan yang paling naas ini, luka akan abadi, sementara kau pengelana yang terus mencari-cari yang baru.
Selamat berbahagia dengan pilihan barumu.
Jika bosan dengan sesuatu, perlakukanlah sewajar dan seadilnya. Apa yang diawali dengan dialog dan keputusan bersama eloknya diselesaikan dengan baik tanpa ada pihak yang merasa dikhianati. Kesepakatan yang baik ada di depan mata, bukan memercik dan menikmati api di belakang. Jika belum merasa sakit karena cinta, maka berhentilah menipu diri. Barangkali perlu menepi dari berkelana sekedar merenung, barangkali berniat merasakan bagaimana rasanya berada di posisi orang lain yang disakiti. 

***
Perlahan rumah ini runtuh. Senja dan hujan lenyap. Bulan jatuh ke neraka. Pohon-pohon dan seisi bumi luluh. Tertinggal bunyi hu yang panjang dari laptop yang berisi tulisan ini dengan baterai sisa 10%. Kolaps. Patah. Sedih entah masih tertulis dalam beberapa bab lagi. Aku tak kuat lagi melanjutkannya. Sungguh patah.

2014

Rabu, 29 Oktober 2014

Quo Vadis FSP?




Setahun lebih sudah Forum SoE Peduli eksis. Forum ini lahir dari sebuah niat sederhana, bagaimana orang-orang muda di kota kecil nan dingin ini punya wadah untuk berkumpul, berbagi dan saling mencerahkan. Maka lahirlah Forum SoE Peduli. Setahun lebih berlalu, berbagai aksi sosial dilakukan. Aneka diskusi, nonton bareng hingga sekedar kumpul-kumpul, makan, jalan-jalan sambil berbagi pengalaman. FSP bahkan secara serius menggelar kelas bahasa Inggris, pengobatan gratis hingga dua kali bikin pentas seni yang lumayan menghebohkan kota SoE. J
Apresiasi terbesar saya berikan untu kawan-kawan pegiat di FSP. Ada dokter, bankir, dosen, perawat, ahli gizi, karyawan, vikaris, aktivis LSM, guru hingga pelajar SMA. Komposisi yang lumayan oke, sayangnya masih lemah di proses kaderisasi. Setahun lebih berlalu, anggota cenderung tetap, bahkan dibilang terbatas. Kemana orang-orang muda SoE yang lain? Jelas ini PR bersama semua member FSP. 

bersama kak Ira Mangililo (copyright sandra frans)

Mengapa kaderisasi penting?
Dengan jumlah member yang terbilang masih sedikit, ditambah beban dan waktu kerja dari masing-masing member pastinya akan mempengaruhi konsistensi berkegiatan. FSP memang harus menambah lagi personel, yang akan membantu membuka jaringan, dan paling tidak bisa menjaga semangat agar terus bergeliat, jangan sampai vakum sesaat. Artinya, memang tidak harus semua personel ada supaya sebuah kegiatan bisa jalan. Secara bergantian setiap personel bisa diberi tanggungjawab untuk mengkoordinir sebuah kegiatan, tidak harus menunggu ketua forum. 

Kembali ke pertanyaan quo vadis FSP?
Sandra kembali melontarkan pertanyaan ini ketika beberapa dari anggota FSP hadir dalam acara diskusi Alkitab dan Postkolonial bersama kak Ira Mangililo beberapa waktu lalu. Sandra menyadari betul kondisi FSP saat ini. Apa sih yang mau kita lakukan di FSP? Saya sependapat dengan Sandra, bahwa pada akhirnya kita tidak bisa melakukan semua hal untuk menjawab setiap permasalahan di TTS. Tapi masing-masing kita masih mungkin melakukan hal kecil yang bisa kita buat untuk lingkungan sekitar.
Supaya konsisten, kita harus fokus. Apa saja yang menjadi fokus kita? Malam itu semua sepakat bahwa taman baca atau rumah baca bisa menjadi, apa yang dikatakan Joseph, sebagai ‘unit’ atau basis kita dalam bergiat. Bagi saya taman baca bias menjadi basecamp FSP, jadi tempat segala diskusi dan ide-ide dimatangkan. Ia bisa jadi tempat yang bukan sekedar ada untuk orang baca buku. Konsep taman baca/rumah baca kini sudah jauh lebih luas dan bisa beragam makna. Terima kasih untuk kak Iren yang sudah bersedia meminjamkan tanahnya di Oenasi untuk kita ‘garap’ bersama.
Ketika mengikuti Festival Taman Bacaan Masyarakat di Kendari, September lalu, saya menemukan bahwa taman baca tidak setradisional atau sekaku yang kita pikirkan. Sebuah ruangan penuh buku, sumpek, tenang dan bisa jadi membosankan bagi banyak orang. Kita ambil saja contoh atas apa yang dilakukan daeng M. Aan Mansyur, dkk di Makassar lewat Kata Kerja. Sebuah ruang berisi banyak buku bacaan memang menjadi pusat, namun secara tematik, berbagai kegiatan bisa terjadi di sekitarnya. Nonton film, bikin kerajinan tangan, diskusi, bedah buku, workshop, seminar, bahkan latihan menari dan teater. Tak jauh beda dengan apa yang sudah dirintis kawan-kawan Kamu Rote Ndao (Komunitas Anak Muda Rote Ndao) dan Namu Angu serta Prailiu di Sumba. Di taman baca, ada kelas bahasa Inggris untuk anak-anak, ada kelas menggambar, bahkan ada relawan yang setia bergantian membimbing anak-anak belajar.  

Relawan!
Menjawab pertanyaan mengapa kaderisasi penting dan bagaimana caranya supaya tidak vakum, maka kata kuncinya adalah relawan. FSP harus membangun kesadaran setiap anggotanya bahwa bergiat di FSP adalah bergiat sebagai seorang relawan. Dalam banyak kasus, relawan menjadi tonggak penting dan tercatat dalam sejarah. Sebut saja kisah sukses Jokowi dalam pemilu dan bagaimana kerja kampanyenya sukses karena didukung relawan.
Bergiat dengan sistem kerja relawan akan sangat membantu kita supaya menjaga jantung FSP tetap memompa. Kendala kita selama ini adalah ketika ada niat bikin kegiatan, biasanya tertunda-tunda karena banyak yang berhalangan hadir (belum lagi problemnya anggota kita terbatas). Tapi saya optimis, ketika dalam waktu dekat kita sudah punya basecamp, sudah punya ‘unit’ atau titik dimana kita bisa berkumpul dan berkegiatan, maka kerja dengan sistem relawan ini akan banyak membantu. Misalnya, agenda Jumat minggu ini kita punya kelas bahasa Inggris, lalu Sabtunya anak-anak belajar kelompok. Minggu depannya lagi ada agenda nonton film bersama atau kelas melukis (misalnya hehehe). Maka kita sudah bisa membagi tugas, pada waktu-waktu tersebut siapa yang siap jadi relawan sekaligus koordinator kegiatan. Yang berhalangan hadir bisa mendapat giliran kegiatan berikutnya, dst. Di sisi lain, setiap anggota FSP dituntut untuk kreatif bikin kegiatan yang sesuai bidang/minatnya. Bahkan teman-teman diluar FSP pun banyak yang akan bersedia jadi relawan untuk membawakan materi tertentu.

Lalu bagaimana dengan konsep rumah baca itu sendiri?
Beberapa waktu lalu kita sudah sepakat untuk membuat rumah baca dengan konsep tradisional ala Ume Kbubu, dengan material alang-alang, kayu, bambu, dll. Josua akan membantu membuat gambaran bangunan beserta rancangan anggarannya. Usul saya kita bisa gaet teman-teman muda Soe yang arsitek yang mungkin dengan Josua membuat konsep yang matang.
Berikutnya, secara spontan malam itu kita juga sudah bikin aksi sumbangan pembangunan rumah baca FSP. Saya rasa ini perlu digencarkan lagi. Sandra akan membuat proposalnya, sambil katong pikirkan juga kira-kira setiap kita bisa sumbang apa: mungkin alang-alang, bebak, bambu, kayu, semen, atau mungkin punya keluarga yang seorang tukang—yang bisa bikin rumah tradisional Timor hehe. Paling tidak dengan cara tersebut katong bisa tekan biaya. J Semoga gebrakan malam it uterus berlanjut.
Salam.
dickysenda