KANUKU LEON
Kanuku Leon
Penting:

Jumat, 19 Desember 2014

Hari Terakhir Pah Tuaf




Christian Senda


Jika kesaktian yang dimaksud suara tuhan itu
ada pada keturunan berjenis kelamin laki-laki,
maka izinkan aku tidur dengan anak perempuan kita, hai istriku.
Sebab besok aku akan mati, sebagai Pah Tuaf sakti.

***
Dengan tubuh telanjang ia panjati loteng rumah ilalangnya, melalui sebatang kayu jati putih yang usianya lebih tua darinya. Tubuh kayu itu berlubang di setiap dua jengkal jarak, membentuk anak-anak tangga yang diletakkan 30 derajat menembus mulut loteng. Pria itu nampak kian layu di usia senjanya, memegang sebotol sopi di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya ia pakai untuk memegang pancakan tiang penyangga. Semenit kemudian tubuh telanjangnya telah lenyap ke dalam mulut loteng. Terdengar bunyi pijakan kakinya di loteng berlantai papan-papan kayu mahoni.
Asap dari tungku di tengah rumah masih memenuhi isi ruangan. Dalam rumah itu, bara api terus menyala 24 jam jika penghuni rumah tak bepergian. Asap memang sengaja dibiarkan terkungkung di dalam untuk menghangatkan tubuh sekaligus mengeringkan jagung yang tergantung rapi di atas tungku. Rumah ini berbentuk lingkaran, beratap rumbai-rumbai dari hun menyentuh tanah dan memiliki sebuah loteng kecil untuk menyimpan benda-benda pusaka keluarga. Tak ada petak kamar di ruangan lantai dasar. Semua menyatu; dapur, tempat tidur, keranjang ayam, benda-benda pusaka hingga lumbung makanan. Ada satu jendela kecil dan satu pintu kecil berukuran 120 x 100 cm. Terlalu kecil untuk ukuran sebuah pintu maka siapapun yang masuk, harus menunduk ekstra jika tak ingin kepalanya benjol.
sumber: http://galleryhip.com/old-man-sketch.html
Di tengah ruangan terpancak sebuah tiang ni enaf―tiang perempuan yang dibawah kakinya tersusun ni baki, batu suci tempat ritual pemujaan dilakukan. Di tengah tiang perempuan terpasang sebuah ukiran kayu berbentuk bulat sebesar tameng prajurit perang, bertuliskan nama fam pemilik rumah. Dan persis di atasnya, sebuah topeng dari kulit kayu menampakkan kengeriannya sendiri: sebuah mimpi buruk bagi siapapun yang pernah mendengar kisah tentang wajah manusia gunung―Melus hingga Kenurawan―penghuni pegunungan Mollo sebelum para pangeran dari timur datang menguasai hutan dan air mereka.
Terdengar suara setengah berbicara, setengah bernyanyi dari atas loteng. Pria itu sedang meracau mantra-mantra dalam bahasa adat yang terlalu halus. Terkadang ucapannya seperti suara binatang tak bisa dimengerti siapapun, bahkan oleh istri dan anak-anaknya. Diam-diam ia berubah menjadi manusia pohon, manusia gua, yang adalah dongeng masa kecilnya. Dongeng yang ia kenang sebenarnya adalah mantra yang memerdekakan tubuh dari batasan ruang dan waktu.
“Nenek moyangku seperti kera bergelantungan di hutan mencari buah dan madu. Ketika malam tiba, mereka kembali ke mulut gua dan mulai memancing api dengan jamur pohon ampupu yang telah kering.”
Di luar rumah semua anggota keluarga puasa bicara. Aktivitas dilakukan seperti biasanya hanya saja pikiran mereka agak tersedot kepada peristiwa yang sedang terjadi di dalam rumah. Asap tipis menari lembut menembus sela tumpukan ilalang. Sepasang merpati tercenung di puncak rumah. Gerimis baru saja pergi meninggalkan seribu pertanyaan di udara setelah burung-burung di pekarangan berhasil menggagalkan hujan dengan suara murung mereka. Prosesi adat memang biasa terjadi di rumah itu. Namun selalu ada kejutan informasi setelahnya.
Sejam kemudian tak terdengar lagi suara dari atas sana. Apa kabar lelaki tua itu? Apakah ia telah mabuk berat dan tertidur atau kah sadarnya telah pergi menembus lorong waktu yang lain? Entahlah.
Sekonyong-konyong terdengar suara panggilan dari dalam rumah. Lelaki itu menyebut nama istrinya beberapa kali dengan sangat lantang. Aroma kemarahan mendadak terhempas keluar ketika pintu rumah dibuka oleh sang istri.
Lelaki itu telah berpakaian sebagaimana biasanya dan duduk di kursi berukiran ular yang maha haram. Terlalu banyak larangan di dalam rumah. Memanjat loteng, memegang tongkat dan duduk di singgasananya adalah yang paling maha haram tadi. Bagi yang melanggar akan jadi bodoh dan gila. Selimut tenunan bergaris pelangi dengan warna dominasi kuning menutup setengah tubuhnya. Tiga utas kalung mutisalak1 berwarna oranye tua nampak mencolok di leher hingga dadanya yang telanjang. Nafasnya yang memburu sedikit menggerakkan mata kalung perak sebesar dua kali koin seribu rupiah betuliskan nama kakek buyutnya. Ditatapnya sekujur tubuh istrinya dengan amat tajam dan langsung membuat istrinya itu jatuh tersungkur dan mencium tanah. Perempuan tua mungkin mengira bahwa dihadapanya itu bukan lagi sang suami, namun tuhan sekaligus setan. Uis Nitu yang mutlak ia sembah.
            “Ada yang hendak mempermainkan aku... kau tahu? Ada!” Lelaki itu berujar dengan gelegar amarah. Tiba-tiba saja mulutnya kelu dan irama nafas kacau. Ia seperti menyadari itu dalam serangan sebuah panik yang muncul tiba-tiba.
            “Ka-ka-kali-an... ke-pa-paraat! Pem-pembu...” suaranya sempoyongan bagai tercuri, gerak tubuhnya pun demikian. Matanya mendelik tajam, seolah telah terpaku hingga kelopak tak lagi bisa mengatup. Udara di dalam ruangan seperti berhenti. Segala yang bergerak mendadak mematung.
Tik-tik-tik-tik. Tiba-tiba perempuan itu bangkit dan berperilaku seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Ia melempar senyum ke arah sang suami yang duduk terpaku lalu menuju tungku, menumpuk kayu kering dan meniup bongkahan arang agar kembali bernyala. Debu tungku beterbangan dalam diam. Perempuan tua itu menaruh air dan bose―jagung kering tumbuk yang telah terkelupas kulit arinya―ke dalam periuk lalu menggantungnya di atas tungku.
            Perempuan tua kemudian memanggil anak perempuan dan menantunya untuk masuk. Ia memberi isyarat kepada mereka untuk membantunya menggendong tubuh lelaki tua itu ke atas pembaringan. Lelaki itu ingin meronta namun ia tak lagi memiliki daya atas tubuhnya. Hanyalah bola mata yang terus berputar menyiratkan kemarahan prematur. Selanjutnya, masuklah anak perempuan satunya lagi bersama suami dan tiga orang cucu (kerap dianggap lelaki tua sebagai tiga burung tekukur). Ketiga cucu langsung berebutan untuk duduk di atas singgasana kakek mereka. Tak ada yang melarang. Tak ada seekor burung tekukur pun kemudian menjadi bodoh atau gila. Segala yang terjadi kini hanyalah kenormalan para manusia beraktivitas sebagaimana umumnya terjadi. Haram itu seperti sudah minggat beberapa saat lalu dari rumah itu. Apakah memang sebenarnya apapun kejadian di rumah tersebut normal adanya? Apakah ilusi telah sukses dipelihara ratusan tahun lamanya di rumah itu?
            Seorang menantu tertua tiba-tiba saja menyambar tongkat kebesaran lelaki tua dan berlalu begitu saja keluar rumah. Tak ada hujan apalagi petir yang akan menyambar tubuh sang menantu. Lelaki tua menangis namun tak kuasa meronta. Dalam hatinya, ia ingin menebas mereka semua dengan kelewang panjangnya. Ia menangis hingga tertidur pulas dan bangkit lagi sembari merasa bahwa telinganya telah tuli.
            Seminggu kemudian, datanglah segerombolan manusia asing mengeluarkan semua benda pusaka dari dalam rumah. Ukiran kayu, kelewang, gong, tambur, berbagai macam kalung mutisalak, tembikar dan patung-patung, semuanya dibenamkan ke dalam lubang api. Tak ada sesal di wajah mereka yang melakukannya. Rumah tua itu pun langsung dibakar, diiringi doa dan kotbah panjang dari pria tua berjubah hitam-putih tentang perbuatan musyrik yang perlu ditinggalkan. Tak ada tangisan. Sekali lagi tak ada sambaran petir, hujan badai atau gagal panen setelahnya. Lelaki tua itu pun gila. Lunglai dan melihat kematiannya sendiri digenggam Sautaf.2
***
Burung gagak yang berteriak seperti sedang kelaparan segera membangunkan sesosok lelaki tua telanjang dan lunglai. Aroma alkohol dari sopi menguar ketika disambar angin sepoi. Dua botol sopi telah tandas dan berserakan beserta tulang-tulang ayam di dekat batu altar. Ia baru ingat, 9 jam sebelumnya, ia datang ke tempat keramat itu untuk minum bersama arwah leluhur. Sebuah penghormatan untuk orang mati dan untuk tuhan. Namun kisah terselip gelisah keburu menyerang sadarnya.
Ia bergegas pulang dan mendapati istri dan kedua anak perempuan berlaku seperti biasa. Mereka masih setia bekerja dan melayaninya, termasuk memelihara setumpuk pantangan atas namanya. Kini gelisahnya telah menjelma curiga. Curiga pada seisi rumah, pada istri dan anak menantunya. Sesungguhnya ia sedang dilanda ketakutan jikalau ia tak lagi sakti. Ia merenung dan menunggu bisikan angin yang seperti biasanya hinggap ke gendang telinganya. Uis Anin3 yang kerap memberinya informasi tentang masa depan.
Selalu saja, misalkan jika akan ada tamu, Uis Anin akan membisikan kabar itu sebelumnya. Namun bisikan itu berbeda kali ini. Ia diingatkan jika kini usianya mendekati 85 tahun, waktu terakhir jelang kematian. Akan ada yang menjemput dirinya, kira-kira begitu bunyinya. Ia takut, ia menangis. Ada yang lupa ia jalankan selama ini, mendapatkan darah daging berjenis kelamin laki-laki sebagai satu-satunya jalan untuk meneruskan kesaktiannya. Ia mengira bisa hidup lebih lama seperti ayahnya dulu yang mati berusia 125 tahun lebih. Ia menyesal karena tidak memelihara gundik untuk mendapatkan anak laki-laki. Meski sebenarnya ada sebab lain, ia dihadang oleh banyak kerabat untuk menikah lagi. Sebagai pemeluk Kristen (meski tergolong Kristen KTP), siapa pun memang tak boleh memiliki banyak istri. Mungkinkah alasan ini yang telah membuatnya tidak sakti lagi?
Ketika malam menjelang, datanglah bisikan baru untuknya.
“Bersetubuhlah dengan anak perempuanmu, supaya ia mengandung anak kekasih kita laki-laki agar kembali sempurna kesaktian di dalam rumah ini untuk selama-lamanya. Sebab suami dari anak perempuanmu telah kubujuk untuk pergi berburu ke gunung.”
Lelaki itu bangun dari pembaringan, membisikan sesuatu pada isterinya lalu bergegas keluar rumah, menuju rumah bulat sejenis di seberang. Rumah anak perempuan sulung terkasihnya. Bulan telah meninggi. Udara dingin, nafas berkejaran berganti udara hangat (setelah birahi kelakiannya memuncak) dan sperma terakhir yang tumpah adalah sketsa yang ia gambar di dinding semesta. Tak ada kehormatan yang ia rampas. Ada takzim yang perempuan itu sembahkan. Ada lenguhan memuncak hingga ke puncak Mutis, memerah dalam kobaran api yang menghangatkan. Merah dalam perayaan untuk mendapat persetujuan arwah nenek moyang. 
Perempuan tua tiba-tiba mendorong pintu dan mendapati Pah Tuaf terkasih telah mati sehabis mencucup puting susu anak perempuan mereka. Natiabonen4, bisiknya.
Liliba, 2014

Keterangan
1mutisalak: kalung dari beberapa jenis bebatuan
2penguasa kematian dalam kepercayaan Suku Dawan
3penguasa angin
4selesai sudah (bahasa Dawan)



Tentang Penulis:
Christian Senda, lahir di Mollo Utara, Timor Tengah Selatan. Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora di Kupang. 
Cerpen ini telah dimuat di Koran Bali Post, 14 Desember 2014

Refleksi Akhir Tahun: Dari Talenta, Jejaring Sosial, Kekuatan Doa Hingga Indahnya Perbedaan




catatan jelang ulang tahun

Barangkali ini satu titik balik yang penting dalam perjalanan hidup saya. Belakangan saya sempat terpuruk karena masalah hati tapi sudahlah nyatanya saya punya banyak kesempatan untuk berbuat banyak kegiatan yang pada akhirnya berhasil menyelamatkan saya dari keterpurukan itu. Saya bahkan harus berhenti untuk menyalahkan diri sendiri dan orang lain dan mulai menata hidup saya. Setiap kejadian punya makna. Sulit dan mudah sekali pun.
Sampai pada titik ini, saya makin merasa bahwa Sang Penyelenggara hidup benar ada untuk saya. Setahun ini kalau boleh menoleh kembali saya mendapat banyak berkah. Saya ingat bahwa pada waktu seperti sekarang ini saya mendapat pengalaman yang bertubi-tubi indahnya. Dalam pergaulan saya mendapat banyak simpul jaringan yang menghantar saya menemui lebih banyak orang hebat dan berkesempatan bertukar pikiran dengan mereka. Syukurlah bahwa saya diberi kesempatan untuk hadir dan berbicara dalam beberapa festival berskala internasional. Seperti mimpi. Tahun 2013 saya ke festival blogger tingkat ASEAN di Solo ketemu banyak orang, kemudian saya dihantar menuju Makassar International Writers Festival. Di Makassar saya bertemu lebih banyak lagi orang hebat yang kemudian memberi kesempatan-kesempatan emas kemudian. Mereka yang sama mampu menghadirkan saya ke Asean Literary Festival pertama di Jakarta dan terakhir saya bisa menginjakkan kaki saya ke tanah Kendari untuk ikut festival taman bacaan masyarakat. Ini contoh kecil bagaimana kemudian dari mulut ke mulut, dari setiap obrolan dan perjumpaan hangat berlanjut ke jaringan yang lebih kuat. Jejaring itu penting dalam pekerjaan. Sangaaat penting.
Terlalu panjang jika saya harus menuliskan berbagai berkah karena jejaring itu di dua tahun terakhir saja. Saya tahu Tuhan dan alam semesta mengijinkan saya untuk berada di sekeliling jaringan hebat itu. Dan rasanya seperti baru kemarin saya mengalami salah satu peristiwa yang membuat saya merasa paling beruntung. Saya mengirim lamaran untuk seleksi ELTA, sebuah training bahasa Inggris dari pemerintah Australia khusus untuk NTT dan 4 area target lainnya yang ingin melamar beasiswa AAS. Ketika saya sedang mengikuti sebuah festival sastra di Banten, undangan untuk tes dan wawancara masuk ke email saya. Saat itu berpikir, ah sudahlah, mungkin belum beruntung. Tapi hati kecil saya menyuruh saya untuk mengirim email ke panitia untuk menyampaikan masalah saya dan apa ada solusinya (misalnya tes dan wawancara susulan). Ternyata harapan saya dikabulkan. Saya jadi aneh sendiri. Serius ini? akhirnya saya mengikuti seleksi sebagai peserta terakhir. Untuk wawancara pun harus saya lalui di hotel tempat tim pewawancara menginap. Ketika datang wawancara saya memang tanpa persiapan. Saya hanya datang dengan apa adanya saya; sejuta mimpi, pengalaman bekerja sebagai guru BK dan berorganisasi/berkomunitas, kisah-kisah jejaring di atas dan tentu saja buku cerpen saya Kanuku Leon yang sengaja saya sisip di dalam tas. Singkatnya wawancara berlanjut dengan obrolan santai di tepi kolam renang hotel On The Rock. Si Pewawancara bahkan bertanya banyak tentang isi buku saya ketimbang yang lain. Atau barangkali begitu adanya cara mereka mewawancara. Membawa saya kepada zona paling nyaman untuk mengeksplorasikan diri sekomplit-komplitnya (meski dengan bahasa Inggris terbata). Hahaha.
Tapi saya percaya kekuatan doa dan energi positif bukan saja dari pikiran namun dari sekeliling saya. Saya lalu belajar bahasa Inggris di Undana Language Center bersama 30 partisipan ELTA angkatan 4 selama 3 bulan penuh. Satu sulur ‘jejaring’ bertambah di sini. Syukurlah saya mendapat hasil yang baik yang memungkinkan saya untuk melamar ke Australia Awards Scholarship. Masih ada satu langkah pamungkas yang harus saya lalui. Doakan saya ya.
Barangkali saya terlalu melow menulis ini, apalagi menjelang ulang tahun saya yang ke.... oh my God! Saya sudah tuaaa! 22 Desember sebentar lagi. Saya ingat dulu ketika kuliah di Jogja, kakak lelaki saya yang kala itu sedang studi filsafat kitabsuci di Roma mengirim email kepada saya. Katanya, “masing-masing kita sudah diberi talenta. Ada yang satu, dua, ada yang lebih banyak. Lu mungkin mendapat lebih banyak talenta dibanding saudara yang lain, tapi ingat bahwa setiap talenta yang Tuhan beri akan ditagih kemudian; Sudah lu apakah dengan telenta-talenda itu? Bergunakah bukan saja bagi diri sendiri namun juga bagi orang lain?”
Hingga saat ini, kutipan ini masih menjadi pengingat bagi saya. Yang diberi banyak, akan dituntut yang lebih banyak pula. Seolah mengingatkan kita untuk tidak egois. Apakah saya egois?
Saya bukan manusia yang paling religius. Saya juga manusia biasa yang masih muda untuk jatuh. Tapi rasanya aneh jika saya tidak mengakui sebuah kekuatan spiritual yang ada di sekeliling saya. Sejak kecil saya melihat bapak saya adalah pendoa sejati. Ia bahkan sering berdoa di pojok kamar yang gelap. Saya tahu ia mendoakan keluarganya. Istri dan ketujuh anak-anaknya. Ia bahkan sudah mengajarkan anak-anaknya berdoa tanpa banyak berkata, “anak-anak ayo berdoa. Ayo begini, ayo begitu.”
Saya percaya kekuatan doa, kekuatan spiritual yang bisa kita pelihara apinya di dalam diri kita masing-masing. Sejak lama saya menaruh devosi yang amat besar bagi Bunda Maria. Ah kadang saya agak malu juga apakah hal berdoa seperti ini harus dipamerkan ke blog atau facebook? Tapi rasanya saya harus menyampaikan kesaksian tentang kekuatan doa itu. 


***

Saya lahir dari keluarga berbeda agama. Bapak saya katolik tulen dan mama saya protestan garis keras. Tapi apa lantas hidup perkawinan mereka kacau? Saya punya saudara 6 orang. Dua kakak perempuan saya mengikuti mama yang protestan. Selebihnya, 4 orang lelaki dan seorang perempuan mengikuti bapak. Saya tak tahu persis tapi rasanya juga tak ada perjanjian nikah bermeterai bahwa bapak saya harus begini, mama saya harus begitu, anaknya nanti begini dan begitu. Saya harus bilang bahwa saya bangga, amat sangat bangga pada relasi kedua orang tua saya. 46 tahun menikah tentu bukan sesuatu jalan yang gampang. Pasti ada onak durinya, dan mereka berdua adalah pasangan yang saya kagumi.
Dan seumur hidup saya tidak pernah melihat adanya batasan yang dilontarkan orang tua saya terkait agama. Mama saya ada dalam garda depan ibu-ibu yang memasak ketika Uskup berkunjung, ketika pesta besar misalnya sedang dirayakan di paroki kami. Dan bapak saya dengan senang hati masuk dalam tim pembangunan gedung gereja protestan di kampung saya. Mama akan sibuk menyiapkan teh dan kudapan untuk anggota kelompok doa rosario di rumah, dan bapak akan duduk bersama tetangga yang sedang ibadah rayon/lingkungan yang biasanya di sebut ‘kumpulan’. Ketika ada pesta di rumah, maka doa syukur dan doa makan bisa jadi adalah saling ganti yang akan dibawakan antara pastor dan pendeta. Pada malam tahun baru, biasanya kakak perempuan saya yang protestan akan memimpin ibadah dan kakak lelaki saya yang pastor akan membawakan kotbah.
Rumah kami ‘diapit’ dua gereja. Gereja katolik di sebelah bawah dan gereja protestan di sebelah atas. Dan ketika ada cucunya yang permandian entah di gereja bawah atau atas, kami sekeluarga wajib mengadiri misa/ibadah. Saya pun bangga ketika bapak menjadi salah satu inisiator perayaan oekumene paling akbar dalam sejarah gereja katolik dan protestan di mollo, tahun 2000 lalu. Pendeta memberikan kotbah di paroki dan romo memberikan kotbah mingguan di gereja ebenhaezer. Dan umat bahu membahu menyelenggarakan jalan salib juga pawai obor. Itu luar biasa.
Tapi saya sedih jika melihat ada semacam jarak, rasa sungkan, prasangka, dll antara gereja katolik dan protestan di tempat lain (di Mollo semuanya baik adanya). Sedih melihat ada kawan yang katolik dan anti protestan, atau sebaliknya yang teman protestan ketika diajak berkegiatan di tempat yang lekat dengan kekatolikan akan selalu menolak. Entah kenapa.
Sudah hampir 28 tahun (ups ketahuan deh umurnya) saya berada di dua lingkungan gereja ini. menghafal semua lagu di dalam madah bakti sama dengan menghafal semua lagu di kidung jemaat.
Kadang saya berpikir, barangkali prasangka buruk itu hidup karena kita belum membuka diri. Apapun sejarah kelamnya katolik sama protestan, apapun perbedaan teologinya, ketika Yesus mengajarkan kasih dan kita melakukannya, apalah agama itu selain sarana semata.
Kemanapun saya pergi saya selalu bangga mengabarkan kisah hidup ini. sepenggal saja semoga bermanfaat. Bahwa Tuhan menciptakan perbedaan bukan untuk membuat kita berperang dan saling meremehkan. Cateet! J

19 Desember 2014

Senin, 15 Desember 2014

Kalau ‘Begitu’, Berpisahlah...



copyrigt: dragus.cn


Apa yang harusnya terjadi pada sebuah perpisahan? Barangkali ada hati yang sakit, sesal luka, kecewa, marah, barangkali juga ada rasa lega, ikhlas, lepas, bebas, plong.
Apa yang harusnya terjadi setelah berpisah? Ada banyak pilihan tergantung bagaimana proses ketika bersama itu terjalin. Barangkali berbeda satu sama lain bahkan bertolak belakang. Senyap menelan segalanya. Pilihan berbicara atau mendiamkan memiliki resiko masing-masing.
Barangkali ini tak boleh terjadi setelah berpisah. Seseorang yang kesal dan seseorang yang telah berada di lembaran baru diam-diam terlahir kembali sebagai dua orang manusia yang saling merasa asing.
Barangkali ini yang terjadi setelah berpisah. Rekonsiliasi adalah harga yang mahal pun dinafikan. Mendiamkan adalah menyakitkan yang lain. Sejahat itu. Semudah itu.
Barangkali ini terjadi setelah berpisah. Niat baik tak selamanya dibalas dengan kebaikan pula. Dan, jangan berharap itu dari peselingkuh‘Begitu.’
Bahkan sudah terjadi sebelum berpisah. Niatnya memang ‘Begitu.’
Barangkali sebelum atau setelah berpisah. Niatnya memang selamanya ‘Begitu.’
Selamat, Anda lulus menjadi ‘Begitu’.

2014

Sabtu, 13 Desember 2014

Dalam Senyap Kita Bertanya, Kapan Rekonsiliasi Itu Terjadi?




Akhirnya nonton film Senyap juga. Film karya Joshua Oppenheimer yang diputar serentak di seluruh Indonesia pas hari HAM kemarin. Di Kupang sendiri film ini sudah diputar di Seminari Tinggi St. Mikhael kemarin (10/12) dan hari ini saya nonton bersama teman-teman di Perkumpulan Pikul dan rencananya besok film ini akan diputar lagi di IRGSC. Semuanya di Kupang, NTT.
Nama Joshua pertama kali saya kenal ketika menonton film Jagal (The Act Of Killing) sekitar 2 tahun yang lalu. Film ini memang menjadi buah bibir di Indonesia bahkan dunia, karena berhasil mengangkat kisah dokumenter beberapa pelaku pembunuhan massal orang-orang yang disangkakan sebagai PKI di Medan. Jagal bahkan masuk salah satu nominasi di Oscar tahun 2014 ini meski tak menang. 

sumber: harsindo.com
Tentang apa itu Jagal, mungkin bisa dibaca di sini. Tapi pada waktu itu saya agak bosan (ataukah lebih tepat muak?) dengan film Jagal. Teknik yang dipakai Joshua keren. Joshua berhasil mengelabui para penjagal untuk masuk dalam ‘jebakan’ Joshua: bermain peran. Mereka diminta untuk memerankan kembali diri mereka saat membunuh orang-orang yang dicap PKI. Lihat bagaimana secara bangga mereka menceritakan proses penjagalan para korban, direka ulang bahkan sambil tertawa tanpa ada rasa penyesalan sedikitpun. Saya bahkan cepat bosan kala itu barangkali karena saya muak saja dengan pelaku pembunuhan yang digambarkan terlalu ekstravaganza. Memperagakan cara membunuh sambil menari, menyanyi, tertawa ngakak hingga pawai keliling kota dengan segala keangkuhan yang digambar di sana serba colorful. Barangkali Joshua berhasil membuat saya muak. Saya bahkan tidak menonton Jagal secara penuh tapi melompat-lompat. Saya merasa kosong. Oke, saya ketemu jawaban lagi bahwa tanpa pengadilan hanya atas dugaan, lebeling, prasangka, jutaan orang kemudian dibunuh secara kejam. Dan bagaimana hingga detik ini hasil cuci otak rezim Orde Baru masih hidup di masyarakat. PKI seolah begitu keji dan menjijikan sehingga atas nama bangsa Indonesia, mereka yang terkait PKI/komunis boleh dan layak untuk dikucilkan atau bila perlu dibunuh saja. Sekali lagi saya menyelesaikan Jagal dengan setengah-setengah dan merasa ada yang kosong.
Tapi rupanya Joshua itu cerdas. Jagal memang menjadi semacam film dokumenter tentang peristiwa 65 yang tidak biasa. Dengan teknik tertentu, para pelaku digiring tanpa sadar untuk membuat pengakuan. Dan Senyap lagi-lagi membuat saya harus bilang sekali lagi bahwa Joshua itu sutradara dokumenter yang cerdas. Senyap rupanya menjawab rasa kekosongan saya selama ini pasca nonton Jagal. Barangkali karena kali ini Senyap mengambil sudut pandang korban. Dan rupanya lagi, saya barangkali terlalu mudah berempati sehingga merasa menjadi bagian dari Senyap, merasa Senyap lebih berhasil menampar sisi kemanusiaan/psikologis saya.
Adi sebagai bintang utama dari Senyap adalah wujud dari Kesenyapan itu sendiri. Bayangkan ia dan keluarganya hanya ingin mencari keadilan, okelah kalau itu susah, ingin mendapat pengakuan. Paling tidak pengakuan itu datang dari pelaku dan keluarganya, meminta maaf saja barangkali sudah cukup membuat mereka tenang. Tapi apa mudah mengakui kesalahan? Kelihatannya sulit. Sikap arogan dari para pelaku penjagalan itu masih kental di Senyap. Ceritanya Adi mewakili ayah dan ibunya (meski awalnya dilakukan Adi secara diam-diam), pergi menemui para pelaku, mencoba mencari tahu langsung motif dan perasaan mereka sebagai pembunuh kakaknya, Ramli. Hebatnya lagi di depan para penjagal dan keluarganya, Adi memperkenalkan diri sebagai adik dari Ramli, korban yang dibunuh dengan sadis oleh para penjagal.
Lihat betapa kesenyapan itu tertahan di batang leher, tertahan di bola mata Adi, ketika para pelaku  yang diwawancarai Adi dengan entengnya menceritakan proses pembunuhan beserta alasan mengapa mereka harus membunuh dengan keji. Apakah Adi marah, protes berat dan memukul para pelaku? Tidak! Ia diam, menahan napas, menahan air mata. Ini salah satu kecerdasan Joshua menempatkan korban dan pelaku dalam satu frame, dalam satu situasi yang sama. Apa kemudian dalam kesenyapan itu, Adi menjadi tidak berdaya? Oh, tidak. Di sinilah letak kekuatan film Senyap. Adi dan keluarga, dan saya kira seluruh keluarga korban 65, tak ingin balas dendam. Mereka hanya ingin ada pengakuan langsung, kejujuran dan rasa penyesalan. Rasa kemanusiaan ini yang sebenarnya menjadi pintu masuk Adi maupun Joshua untuk mengetuk lebih dalam lagi hati para pelaku dan keluarganya. Apakah berhasil? Senyap mengajarkan saya banyak hal. Dialog yang diupayakan Adi dalam proses rekonsiliasi ini rupanya belum berefek banyak. Betapa kebencian pada mereka yang dituduh PKI dan sudah ditanamkan sejak dulu masih begitu kuat hingga detik ini. bahkan di depan kelas, guru masih membahasakan begini: PKI itu yang mencongkel mata, memotong kemaluan, menyilet wajah, dll. Maka dengan segala pelabelan itu, tak heran hingga hari ini dalam alam bawah sadar masyarakat, masih ada benih-benih kebencian itu.
Saya kira puncak dari Senyap bahkan sudah dimulai setiap kali Adi dengan tegar menahan perasaannya di depan para pelaku yang pernah membunuh kakaknya dan jutaan orang lainnya secara keji. Bahkan ini lebih menusuk pribadi saya ketimbang mendengar pengakuan penjagal yang meminum darah korban dengan mitor “agar tak jadi gila setelah itu.” Seorang bapak dengan pongah berucap, “rasa manis darah hingga kini masih saya rasakan.” (kurang lebih dialognya begitu). Ih. Bahkan kesenyapan perasaan keluarga Adi kian memuncak ketika Ibunya baru tahu bahwa yang terlibat membunuh Ramli adalah paman alias adik ibunya sendiri. Sungguh saya kehilangan kata-kata. Bahkan ketika sang ibu begitu khawatir pada nasib Adi, bahwa kenekatannya ini bisa berujung penculikan, pembunuhan dan pengucilan. L
Ah, Senyap. Film yang luar biasa bagi saya. Entah kapan bangsa ini bisa meluruskan sejarahnya. Entah kapan kita dengan besar hati mengakui segala kekeliruan kita karena pernah melakukan pembunuhan massal atas orang-orang yang dituduh PKI namun tanpa proses peradilan yang sah sesuai hukum yang berlaku. Kapan rekonsiliasi itu ada? Kapan kita saling memaafkan dan memulai hidup baru tanpa ada prasangka buruk satu sama lain?

Kupang, 2014.