KANUKU LEON
Kanuku Leon
Penting:

Kamis, 07 Agustus 2014

Sebab Hidup Ini Indah



Sebagai seorang penulis yang terbiasa menggunakan ruang imaji seluas-luasnya, yang sensitif dengan segenap indra dan sekaligus mencintai keindahan maka momen jatuh cinta seutuhnya adalah anugerah atas kehidupan manusia yang patut dirayakan dengan sukacita. Saya termasuk golongan manusia yang percaya pada energi positif di dalam diri manusia dan sekelilingnya; alam semesta bagi saya ikut bertanggungjawab menciptakan daya tarik yang dalam bahasa kerennya disebut chemistry. Jika tidak ada daya itu bisa dibayangkan betapa membosankan dan kejamnya dunia ini! Maka mencitai atau mengasihi adalah puncak dari kenikmatan menjadi manusia.  
suatu senja di pantai Bolok
Tentang wanita luar biasa di belakang saya ini. Dialah yang berhasil membuat saya tertawan. Dialah yang membuat file-file catatan harian terisi lagi. Dialah yang membuat saya merasa sebagai manusia yang utuh. Agak lama memang untuk mendapatkan hatinya. Untunglah saya menghargai proses dan terbawa suasana untuk sabar mengejar cintanya. J
Kini kami bahkan baru saja memulai sebuah babak baru yang belum seberapa. Dan ada sejuta proses hidup di depan sana yang harus dilalui dan kebanyakan misteri. Apapun itu saya masih percaya pada niat baik saya dan juga niat baik dia, sembari merawat dan menaruh setinggi-tingginya niat baik saya di hadapan Dia, Sang Pencipta.
Terima kasih kepada alur kehidupan yang telah mengantar sukacita kemarin, hari ini dan seterusnya. Yang baik dan membahagiakan akan terus kami perjuangkan. Terima kasih untuk kita semua yang dengan caranya masing-masing telah ikut merawat cinta, ikut membangun kehidupan yang lebih baik atas dasar cinta, dan tanpa sadar (mungkin) ikut menyatukan perasaan kami.
Akan ada banyak skenario yang mesti digeluti. Ada banyak cerita yang mesti dicatat ulang setelah dimainkan.
Pemain sejati, tersenyumlah untuk cinta....

Rabu, 06 Agustus 2014

Suanggi



 
Hari sudah larut malam. Kota ini sudah seluruhnya tenggelam dalam selimut kabut, nyaris menjadi kota bisu. Tak terdengar lagi deru kendaraan lalu-lalang di jalanan. Dering ponsel tiba-tiba menghentikan perjalananku menyusuri padang kata-kata yang diciptakan Albert Camus dalam The Outsider.
“Dek, mohon doanya demi istirahat yang kekal dan damai bersama Bapa di surga untuk Pak Samuel yang baru saja meninggal sejam yang lalu. Rencananya akan langsung dibawa ke kampung almarhum di Eban malam ini juga.
Aku langsung membalas SMS dengan pikiran yang berseliweran tak tentu.
“Oh, Tuhaaaan. Saya sangat sedih. Saya doakan beliau. Beliau itu guru pendidikan agama Katolik saya saat SMP dulu. Terima kasih ya, Ka’e.”
Sudah hampir pagi. Kuperhatikan lagi isi SMS, harusnya sudah masuk lima jam yang lalu. Dasaaar, umpatku kepada sinyal telepon seluler yang mati angin ini. Jika sejak awal tahu, mungkin aku bisa menyusul ke rumah duka sebelum jenazah dibawa pergi.
***
Seminggu kemudian.
ilustrasi: Arystha Pello dan Rara Watupelit
Kami sedang berada di sebuah ruang makan bercat putih, dengan suasana yang sangat hangat di hari Minggu pagi di bulan Januari. Aku selalu mencintai suasana Minggu pagi di kampungku.  Semua orang seperti bergerak begitu saja dalam rentang pagi terdamai: sinar matahari Januari yang sedikit lembab dan derap langkah orang-orang dengan baju terbaik menuju ke Gereja. Di pinggir-pinggir jalan, aneka mawar dan dahlia terbiasa memamerkan pakaian terindah mereka bagi puluhan pasangan mata yang kebetulan lewat. Tak ada makian atau umpatan. Pantang ada sesal di  hari Minggu. “Sebab hari Minggu itu waktunya bernyanyi sukaria di Gereja,” teringat pesan kakek dulu.
Harusnya selalu begitu, Kek. Tapi nyatanya tidak. Sungguh. Seperti saat ini.
Tuan rumah mempersilakan kami untuk sarapan bersama. Daging anjing yang dimasak dengan banyak rempah-rempah menggugah seleraku. RW nama makanan itu. Awalnya, pikiranku hanya terfokus pada kelezatan makanan itu, tak sedikitpun tersambung dengan topik pembicaraan beberapa orang dari antara kami.
Sudah saatnya, pesan kakek dulu itu diubah. Diputarbalikan mulut para pemakan daging anjing ini, (pelan-pelan, aku juga terseret ke pusarannya sebab aku ikut memakannya). Seperti anjing, kami mulai menggonggong.
“Beta pernah lihat waktu sore, dia pung mata sama ke kucing. Katong bakatumu di jalan pas mau pi mata air, kira-kira seratus meter dari beta pung rumah.” Si Bapak Guru Agama yang sedang pilek (sebab hidungnya merah tomat memelerkan cairan bening sejak awal pertemuan kami) membuka pembicaraan. Kulihat piringnya penuh daging RW. Orang yang sedang pilek biasanya rakus makannya.
“Aih, memang dasar e, suanggi! Lu mati su!” Perempuan gempal di ujung meja mulai bereaksi. Semenit yang lalu ia baru saja mendaratkan pantatnya pada kursi, lantas membuat sebuah tanda salib kecil. Ia berdoa.
“Ih, betul sudah, Pak. Beta ju heran dengan dong pung isi kepala itu apa e?”
Lelaki muda yang kepalanya sedikit botak ikut menyumbang suara. Kulihat RW di piringnya juga banyak. Dia Sang Pengkotbah.
Ia melanjutkan, “Tadi beta su siap memang, kalo dia muncul di Gereja langsung beta skak dari atas mimbar. Biar mau telinga panas ko apa, terserah! Keterlaluan sekali... manusia biadab!”
Aku sedikit tersentak, namun secepat mungkin berusaha untuk menutup air mukaku yang berubah drastis.
Topik suanggi di Minggu pagi. Ah, please, bukan topik yang tepat di Minggu pagi ini, bapak-bapak, ibu-ibu...
“Betul. Kalau sudah malam, katanya dia mulai keluar. Katanya dia bisa berubah jadi kucing, kadang anjing. Mau pi bikin susah orang. Orang macam itu tu sonde suka dengan kebahagiaan orang lain, he ko!” Perempuan Gempal lagi-lagi berargumen.
Katanya. Katanya. Kata siapa? Rupanya selain menjalani ritual ora et labora, penghuni rumah ini pun menyelinginya dengan gosip.
“Kakak, dia sudah punya rencana untuk buat semua istri di kompleks ini jadi janda,” kata Pak Guru Agama yang sedang pilek tadi. Hidungnya memerah. Kubayangkan ia Pinokio. Pinokio yang hidungnya panjang jika berkata dusta.
“Ia, beta ju dengar begitu,” sambung Sang Pengkotbah, “beta bisa untuk lawan dia. Ada akar satu, sakti. Kirim saja. Darat, laut, udara, semua bisa. Kalo kena, lu matiii!
Ho’o na... saya juga tahu dia punya cara. Saya bisa minta dia punya obat di saya punya Om di kampung...,” ucap Perempuan Gempal di ujung meja tak mau kalah.
Aku masih saja melongo. Merekam. Meski sensasi RW di lidah jauh lebih menendang ketimbang topik pembicaraan mereka sejak tadi. Tapi diam-diam, kurekam saja. Kelak berguna, tidak pun terserah.
“Minum kopi, Dek?” Perempuan yang lain tiba-tiba menyentak sadarku. Ia yang ternyata sejak tadi ada di sekitar ruangan, namun mencoba menjaga jarak. Mungkin karena topiknya yang kurang menarik baginya. Ia menyalakan TV dan terus menikmati makanannya ditemani acara musik pagi. Dia, Si Penjaga Jarak.
“Oh, yah Ka’e. Terima kasih. Nanti beta bikin sendiri.”
RW-ku sudah habis. Kupikir tak cocok dengan kopi. Air putih lebih menetralkan, sedangkan kopi akan menambah perih di ulu hati, kukira begitu. Aku menghindari supaya perutku tak menggonggong karena mulas. Jika dia memilih menjadi sang penjaga jarak dan lainnya adalah penggonggong, maka aku adalah penengah. Setengah menjaga jarak, setengah menggonggong, jikapun kuyakini gonggonganku benar. Meski mingggu pagi tak melulu menawarkan kedamaian, sukacita. Aku salah selama ini.
“Dia yang suanggi Pak Samuel,” Perempuan Gempal kembali mengeluarkan kalimat mautnya. Ia melirik padaku, memberi keyakinan lebih dengan sorot matanya. Bukan. Ia mendamba aminku.
“Oh, ya?” Aku melongo. Untuk menghargai, meski tak selaras dengan isi hati. Pelan-pelan, di dalam hati, aku yang kini mulai menggonggong balik atas sikap dan pernyataan-pernyataan mereka tadi. Tapi aku anjing yang cukup santun. Cuma berani menggonggong di dalam hati.
Takut.
“Tapi kenapa ya, orang kayak begitu matinya lama e?” Kali ini aku mulai melempar umpan. Meski dengan perasaan entah, apakah mereka akan meladeniku sesungguh-sungguhnya mereka mengatai janda itu seorang suanggi. Wanita kurus yang setiap senja tubuhnya akan berganti rupa jadi kucing. Atau gagak? Ia yang katanya akan mencari mangsa, ke manapun. Tapi ia akan lebih beringas jika mencium aroma sukacita dari kisi-kisi jendela. Katanya, ia membenci kebahagiaan orang.
Ia ingin semua istri di kompleks ini menjadi janda semua, menjadi sepertinya.
“Orang begitu lama mati, karena Tuhan masih kasih kesempatan untuk dia supaya bertobat, Dek,” tiba-tiba Sang Pejaga Jarak nimbrung. Namun meninggalkan kesan yang berbeda di relung hati. Seakan katanya tadi makin menebalkan temboknya sendiri dengan tembok kami. Mereka. Aku tidak.
Diam-diam aku terus menggonggong, namun dalam hati saja. Anjing yang santun. Takut.
Perempuan Gempal melirik ke arah suara tadi, meninggalkan sebuah kesan yang aneh.
“Hih, orang macam begitu sudah tidak ada guna lagi... Tidak perlu kasih kesempatan!”
Sebab mereka membutuhkan dukungan, bukan sanggahan. Kedekatan, bukan jarak.
“Tapi betul juga. Beta terlalu ingat Pak Samuel. Cuma orang bejat seperti mereka yang harusnya dapat balasan. Keterlaluan.” Ia seperti tidak berkotbah. Aku membenci kotbahnya saban Minggu. Tapi juga tak berarti aku menyukai perkataannya sekarang. Sama-sama kubenci.
“Hih, dia itu sudah kurus kerempeng. Tutup kepala terus karena kepalanya sudah botak. Mungkin gara-gara makan daging manusia terus! Hih!” Perempuan Gempal masih saja berkicau disela kunyahan RW-nya. Ia benar-benar sudah menjadi anjing yang super galak.
Ia melanjutkan, “Kau tahu, giliran doa rosario di rumahnya, sonde ada satupun tamu yang mau minum dia pung teh.”
Beta ada tunggu kapan dia pi Gereja. Pas dia ada baru beta akan singgung dia dari atas mimbar!” ancam Sang Pengkotbah.
“Mamatua deng Bapatua (yang sudah almarhum), paling kikir. Kalau ada teman guru yang bikin pesta, jangan harap dong mau datang. Pas Pak Samuel mati saja, eh, dong kunci pintu terus pergi. Padahal Pak Samuel dong pung tetangga yang jarak rumah mungkin sonde sampai 20 meter!” tambah Pak Guru Agama yang sedang flu. Sungguh, hidungnya jadi makin mirip Pinokio, umpatku sekenanya.
Akhirnya kuputuskan saja untuk duluan pamit. Sebab untuk ikut menggongong pun aku malu-malu. Menyela pun sebatas di dalam hati.
Takut. Penakut.
Sang Penjaga Jarak mengantarku melewati lorong rumah ini. Di sisi kanan kirinya adalah deretan kamar-kamar kosong, dan di salah satu kamar di ujungnya, ada yang unik menempel di pintunya... Ah, lupakan saja.
***
“Dek, selamat malam. Maaf menganggu. Tadi ngobrolin soal suanggi ya? Satu pesan singkat masuk. Dari Sang Penjaga Jarak.
“Eh, iyah, Ka’e. Selamat malam. Iya tadi pagi cuma jadi pendengar setia saja. Topiknya memang benar, suanggi,” balasku.
“Dek, saya sudah bertugas di sini 6 tahun lamanya. Sejak awal hingga tadi pagi, ya topik pembicaraan di ruang makan, di dapur, ya itu melulu. Kamu jangan dekat-dekat sama si A, dia itu suanggi. Si B sama suanggi ju...*sebagian teks hilang*”
“Kirim ulang, Ka’e. Pliiss... teksnya terpotong. He-he-he...”
“Oh yah, sudah tu, saya su kirim lagi. Maksudnya ya itu, di sini semua orang bawaanya curiga melulu. Tapi itu jeleknya, sudah curiga, omong-omong orang punya kejelekan orang pula. Gosip. Tapi lupa sama tugasnya, kalau memang ada orang seperti itu, yah kan tugas kita to untuk mengembalikan ke jalan yang benar, ‘kan?”
“Lagian, si ibu janda itu, juga anggota kelompok doa Legio Maria. Nah, Ka’e Hil (si Perempuan Gempal) kan ketua kelompok doa itu. Harusnya ‘kan bisa mendekati, membimbing si ibu janda itu. Sekalian juga membimbing perspektif orang untuk tidak melulu berprasangka buruk. Bukannya malah ikut memperkeruh, ‘kan Dek?”
“Iya juga, sih.”
“Saya malas. Bosan. Mengubah sifat mereka itu susah. Giliran saya omong, malah saya yang jadi sorotan, dilihat sebelah mata. Disingkirkan.”
“Dek, di kampung saya, ada juga yang begitu. Tinggal bagaimana kita yang waras dan katanya beriman ini yang harusnya mendoakan mereka, mengajak mereka untuk tidak menutup diri. Pelan-pelan bikin mereka berubah. Belum tentu juga to, kalo mereka itu suanggi! Apa buktinya? Kan, cuma selalu—katanya, katanya...”
“Iya, sih.”
Teringat kejadian pagi tadi.
Aku melamun. Bertanya, apa iya? Kok begitu caranya? Sebab anak si ibu janda itu, kakak kelasku dulu. Anaknya cerdas, kita dulu biasa bertukar majalah Bobo.
Seribu tanya mendesak-desak di sela lamunan, di emper rumah.
***
Kami sedang berada di sebuah ruang makan bercat putih, dengan suasana yang sangat hangat di hari Minggu pagi di bulan Januari. Aku selalu mencintai suasana Minggu pagi di kampungku. Semua orang seperti tergerak begitu saja dalam rentang pagi terdamai: sinar matahari Januari yang sedikit lembab dan derap langkah orang-orang dengan baju terbaik menuju ke Gereja.
Di pinggir-pinggir jalan aneka mawar dan dahlia terbiasa memamerkan pakaian terindah mereka bagi puluhan pasangan mata yang kebetulan lewat. Tak ada makian atau umpatan. Pantang ada sesal di  hari Minggu. Sebab hari Minggu itu waktunya bernyanyi suka ria di Gereja, teringat pesan kakek dulu.
Harusnya selalu begitu, Kek. Tapi nyatanya tidak. Sungguh. Seperti saat ini.
Namun, berada sepuluh menit pertama di ruang makan bercat putih ini, pelan-pelan aku merasakan auranya berubah. Hingga waktu dua jam berlalu. Rasanya masam, menggelisahkan.
Aku memutuskan untuk duluan pamit pulang.
Akhirnya.
 Sebab untuk ikut menggongong pun aku malu-malu. Menyela pun sebatas di dalam hati. Apalagi terang-terangan menyalak?
Takut. Penakut.
Sang Penjaga Jarak mengantarku melewati lorong rumah ini. Di sisi kanan kirinya adalah deretan kamar-kamar kosong, dan di salah satu kamar di ujungnya, ada yang unik. Pintunya setengah terbuka. Ruanganya rapi, terang. Kulihat sepintas saja. Dari jendelanya, bisa terlihat aneka mawar yang bermekaran. Angin sepoi melambaikan gorden brokat putih. Sekali lagi kulihat sepintas saja. Di pintunya yang berwarna coklat, ada tulisan:

“Senin, 25 Januari 2012, jam 15.00 WITA Rekoleksi dipimpin Sr. Maria Hilda, dilanjutkan misa, dipimpin Rm. Atanasius.
Trims”

Dua manusia itu. Sang Pengkotbah dan Perempuan Gempal.
Seperti mawar layu, dihentak sang angin lantas berjatuhan di tanah—sia-sia. Dengan gontai aku melangkah pulang.
Akan ada seribu tanya berdesakan di sela lamunan—nanti di emper rumah. Terus menerus mendesak, selama ingatanku belum pudar tentangnya dalam tanda tanya besar.
Suanggi. Adakah ia serupa kucing hitam bermata elang?

-Taubneno-SoE, 2011-

Senin, 04 Agustus 2014

Tentang "Mudik" ke Mollo Utara


narsis sejenak di Oesao, beli cucur enak
Saya pengin pamer sedikit instagram saya selama libur Lebaran belum lama ini di kampung halaman di Kapan (Mollo Utara) 120 km dari Kupang. Dimulai dari perjalanan solo dengan motor kesayangan yang saya namai #TukTuk, nobar film sekalian diskusi dengan kawan-kawan Forum Soe Peduli, hingga merayakan kebiasaan keluarga besar saya kalau ngumpul di rumah: masak dan makan, masak lagi makan lagi dan seterusnya...


  1.  
 Nobar film dokumenter Linimassa 3 di rumahs aya di Kapan bareng Forum SoE Peduli. Di tutup dengan diskusi dan makan pizza buatan saya, spesial smoke chicken with mushroom ala anak Mollo hehe...


Narsis deng Ave

jagung bose buatan mama dgn sate dan kulit juga minyak babi plus sambal lu"at! Juara!

kenalin ini namanya Chiko, anjing yang setia menemani Bapatua dan Mamatua di rumah


setelah berkendara Kupang-Kapan, masih sempat selfie dgn mata gede sebelah :D

dengan Ignatio Karibera, keponakan super cute! rambut dan namanya ikutan punya Bapatua hehee

Merangkai Indonesia Ala Fino Monteiro


Di tengah hingar bingar politik dan Lebaran, tahukah Anda, ada anak muda NTT, alumni SMAK Syuradikara Ende angkatan 50, Rofinus Monteiro yg berlayar sendirian menggunakan perahu #sandeq khas Mandar Sulawesi Barat? Fino begitu ia biasa disapa berlayar Makassar menuju Jakarta dalam ekspedisi Merangkai Indonesia? Follow juga akun twitter @finomonteiro atau @pencintabahari dan blog http://pencintabahari.wordpress.com untuk ikuti perjalanan serunya... keren, Fino! Btw, Fino ini adik angkatan saya di SMAK Syuradikara dan asrama putra Syuradikara. Kami pernah bersama juga dalam kegiatan pramuka di Syuradikara dulu. Di Asyur Fino sempat menjabat sebagai ketua asrama/presidium 1. Selamat Fino...




sumber foto: Facebook Fino Monteiro

Senin, 07 Juli 2014

Sehari Bersama Rakyat Raenyale Cari Keadilan



 (sebuah catatan dari ruang sidang di DPRD NTT. Maaf sonde sempat diedit lai)

Saya baru saja bergabung dengan aksi solidaritas rakyat peduli Guriola Sabu Raijua yang digelar siang ini (7/7) pukul 10.30 WITA dimulai dari kampus Undana Lama menuju ke gedung DPRD Propinsi NTT di jalan El Tari. Sehari sebelumnya seorang teman yang juga aktivis di kota Kupang, kak Rosna Bernadeta mengirim berita aksi ini kepada saya. Seminggu yang lalu pun lewat twitter saya ngetweet sebagai bentuk solidaritas untuk saudara di Sabu Raijua yang sedang mengalami musibah. Apa musibahnya?

warga yang dipukul (dok solidaritas raenyale)
Maret 2014 tanah warga 18 KK di desa Raenyale, kabupaten Sabu Raijua, NTT, dirampas secara sepihak oleh pemda setempat untuk pembangunan embung Guriola. Namun pembangunan itu tentu saja ditentang oleh rakyat. Mengapa? Di atas 9 hektar tanah yang akan dibangun embung ada 6 hektar sawah, ratusan pohon tuak/lontar dan jati. Sisanya adalah perkampungan 8 kk warga tersebut. Mereka jelas menolak digusur sebab dari tanah tersebut mereka mendapat makan. “Setiap tahun kami berladang, selesai panen padi kami melanjutkan aktivitas menyadap nira dari pohon lontar. Semua penting, makanya kami bisa hidup sepanjang tahun. Lalu kalau tanah kami dirampas paksa, kami dapat perlakuan kasar dari POL PP, kami hidup dari mana lagi?” Teriak salah satu mama ketika rombongan kami tiba di depan kantor DPRD Pronpinsi NTT dan pagarnya masih dikunci.
Saya menyadari betul kegelisahan mereka. Sejak Maret lalu, ladang mereka digusur oleh 2 eksavator milik CV Arison Karya, perusahaan pemenang tender. Total dua ratus lebih pohon lontar yang tumbang, dan pohon jati yang tak terhitung jumlahnya. “Yang lebih menyakitkan lagi, kami mendapat intimidasi. Ada yang luka-luka karena dipukul, kami pun diancam lewat SMS maupun telepon oleh orang tak dikenal.” Begitu keluh kesah seorang perwakilan keluarga korban di depan Komisi A DPRD Propinsi NTT, Kadis PU Propinsi NTT, Kasat Pol PP Propinsi NTT. “Keluarga yang datang mengandu di Kupang pun mendapat ancaman akan dipukuli jika nanti kembali ke Sabu. Kami takut pulang. Mohon ada ketegasan dari bapak-bapak sekalian untuk menjamin keselamatan kami,” pintanya.
Aksi yang didukung oleh elemen mahasiswa asal Sabu dan Institute of Reseacrh Government and Social Change (IRGSC) Kupang sempat tertahan di pintu gerbang kantor dewan perwakilan rakyat dan sempat terjadi diskusi alot dengan POL PP yang berjaga. Mereka berasalan sedang ada rapat penting sehingga tidak bisa digangu. Setelah bernegosiasi akhirnya mereka masuk untuk menyampaikan pesan solidaritas kepada Humas DPRD NTT. Sepuluh menit kemudian kami akhirnya dibolehkan masuk ruang sidang dewan. Setelah sebelumnya disambut Humas, pak Samuel Pakereng, rombongan kemudian berdialog langsung dengan bapak-bapak dari Komisi A, PU, dan Pol PP.
Aksi long march menuju DPRD NTT (dok pribadi)
Dari dialog, ternyata sebelumnya sudah pernah ada pertemuan antara perwakilan masyarakat Raenyale dengan DPRD NTT (baca Warga Sabu Raijua Dianiaya dan Ditelanjangi Pol PP), dengan hasil beberapa rekomendasi yang salah satunya adalah DPRD NTT telah menyurati Pemkab Sabu Raijua untuk menghentikan proses pembangunan embung tersebut. Namun karena tidak ada efek, malah aktivitas pembangunan semakin gencar dilakukan maka masyarakat Raenyale ini kembali lagi ke DPRD NTT untuk mengadu. Agus Manu, selaku korlap aksi ini mengemukakan bahwa tahun 1982 memang pernah ada kesepakatan antara pemerintah dengan orang tua dahulu untuk membangun embung tapi lokasinya sama sekali bukan di tempat yang kini menjadi sangketa ini. “Sama sekali tidak ada sosialisasi dari pemerintah. Tahu-tahu tanah kami sudah diserobot begitu saja. Padahal belum ada sama sekali kesepakatan antara warga dengan pemda terkait lokasi pembangunan embung. Untuk itu kami minta sikap politik DPRD NTT atas kasus ini. Hentikan intimidasi dan kekerasan fisik.” Tegas Manu. Lanjutnya, “mereka yang menyerang kami adalah POL PP yang berasal dari pegawai honor yang diberi seragam untuk melawan rakyat! Kalau sudah begini, bagaimana dengan kerugian yang sudah kami alami?” Tanya Manu.
putra Sabu di ruang sidang DPRD NTT (dok pribadi)
Dari dialog terungkap beberapa fakta menarik:
Pertama, Dokumen resmi atas tanah yang dimiliki rakyat tidak pernah diakui bupati Sabu Raijua. Kedua, Embung ini dibangun oleh pemerintah pusat lewat Kementrian PU melalui  Balai Wilayah Sungai Nusra II (menurut pengakuan pak Andre, kadis PU NTT)
Ketiga, Pak Andre (yang juga berdarah Sabu) sebagai Kadis PU NTT sudah pernah bersurat kepada Balai Wilayah Sungai untuk menghentikan proyek ini. “Pada prinsipnya sebuah pembangunan harus ada sosialisasi. Tujuannya kan untuk kesejahteraan rakyat, harus ada syarat yang dipatuhi misalnya ada RT/RW, desain engineering, tanah harus clear! Sejak bulan Mei lalu sudah saya sarankan untuk berhenti. Tapi kenapa kontraktornya terus kerja? Hebat sekali mereka?” jelas Andre. Karena ini proyeknya PU pusat maka ini sebenarnya bukan kewenangannya sebagai Kadis PU NTT untuk menghentikan. “Kan kontrak kerjanya antara Arison Karya dengan Satker dan PPK dibawah Balai Wilayah Sungai bukan dengan saya. Saya hanya bisa menyarankan,” kilah Andre. Lebih lanjut Andre lagi-lagi mempertanyakan motif CV Arison Karya yang seolah bersikukuh pasang badan untuk melanjutkan proyek ini. Meski Andre tidak menyebut bahwa apakah ngototnya eksekusi lahan oleh Arison Karya karena sudah dibekingi atau diperkuat oleh Pemda Sabu Raijua.
rakyat yang ketakutan (dok solidaritas raenyale)
Keempat, ada ketakutan warga pulang ke Raenyale karena ada SMS bernada intimidasi. Kelima, menurut pengakuan korlap aksi, Agus Manu, wartawan yang meliput di Sabu Raijua pun harus mengalami semacam ‘pemeriksaan’ oleh pemkab. Keenam, pohon lontar, kelapa dan jati yang telah dieksekusi sudah diambil kayunya dan entah dibawah kemana.
Dialog berakhir dengan beberapa poin salah satunya adalah jaminan dari DPR NTT dan POL PP NTT untuk warga Raenyale yang ingin pulang kampong. DPRD lewat komisi A berjanji akan mengirim surat lagi untuk Pemda Sabu Raijua. Meski di sisi lain, pertanyaan warga soal ganti rugi tanaman produktif mereka yakni ratusan pohon tuak, kelapa dan jati yang sudah mati. “Tuak penting bagi kami, Karena bermakna ganda: ekonomi, social dan kebudayaan,” tegas korlap yang mendampingi masyarakat Raenyale ini. Untuk ganti rugi, harus menjadi tanggungjawab pemda. Tapi harus dilihat dulu kontrak kerjasamanya. Apakah pembangunan embung oleh CV termasuk juga pembersihan kebun/lahan warga? Tambah kadis PU NTT.
lontar yang tumbang (dok solidaritas raenyale)
Dialog harus berakhir. Ada satu dua pertanyaan yang masih menggantung, mengapa CV begitu ngotot menerabas pohon-pohon milik warga Raenyale padahal sudah pernah ada surat dari DPRD NTT ke Pemkab Sabu Raijua, atau ada telepon peringatan untuk pengentian proyek dari Kadis PU NTT kepada Balai Wilayah Sungai Nusra II? Kita menunggu tanggapan Bupati Sabu Raijua, CV Arison Karya maupun Balai Wilayah Sungai. Yang pasti, kita menolak segala bentuk intimidasi dan kekerasan fisik yang dialami warga Raenyale. 

Perjuangan mereka masih panjang. Katong sedang berhadapat dengan Pemda yang otoriter, suka pakai cara kekerasan dan menolak dialog yang manusiawi. Untuk contact person aksi solidaritas ini, kalian bisa menghubungi 085239 298 590 atau 085 239 825 696


Untuk ketidakadilan rakyat kecil, siapapun, sebagai sesama manusia mari katong bantu….Lu bisa ikuti perkembangannya dan beri dukungan via Facebook Solidaritas Untuk Warga Raenyale Sabu Raijua

***

Christian Dicky Senda, ketua Komunitas Blogger NTT. Bergiat di Dusun Flobamora dan Forum SoE Peduli.