KANUKU LEON
Kanuku Leon
Penting:

Minggu, 28 September 2014

Sehari Bersama Siswa Bikin Video Klip 'Happy'


Senang rasanya hari ini menyempatkan 1 sesi konseling kelompok bersama murid-murid saya: Nanda Oematan, Laura Kennenbudi, Dinto Menek, Thobias Helly, Edo Neloe, Carol Bangu, Echa, Ceri Lianto, Thara Siwomole, Juan, Graha, Pearly Feonale, Fritz Kleden, Anggie, dan Ivanna. Saya memang sedang berusaha memberi persepsi baru bagi mereka soal penggunaan teknologi informasi/media sosial. Kehidupan sehari-hari mereka memang lekat dengan internet.
bersama Laura Kennenbudi dan Dinto (Ketua Osis)
Melihat kasus penyalahgunaan media sosial yang masih terjadi, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan teknik konseling yang sedikit berbeda. Tidak harus di ruangan tertutup, dengan sofa dan pembicaraan serius. Saya memasukannya dalam kegiatan-kegiatan kreatif kelompok. Tahun 2012 saya memakai metode membuat video/film pendek. Siswa diajak berdiskusi tentang sebuah masalah yang sedang tren dan terjadi di sekitar kita, misalnya maki-maki di facebook, bully, dll. Sharing pengalaman dan diskusi terjadi dengan sangat cair. Sampai pada problem solving, kami menyimpulkannya dalam sebuah rencana, sebuah skenario, wah bagusnya bikin kegiatan apa nih. Bikin aksi damai dr kantin sekolah ke kantin Unika dengan poster-poster ajakan untuk berinternet secara sehat sudah pernah kami lakukan. Rangkaian kegiatan itu bahkan kami buat dalam sebuah dokumenter. Lantas film pendek itu diputar dalam sesi konseling kelompok berikutnya di kelas. Ketika tahun 2012, isu bully ada di sekolah saya, saya mengajak beberapa siswa kelas 9 (Ivanna Fulbertus, Ria Ludoni dkk) untuk bikin sebuah aksi. Muncullah ide dari kitab Amsal 17:17. Saat itu bulan kitab suci nasional dan kami menemukan perikop yang indah itu. tentang sebuah ungkapan cinta dan persaudaraan yang tulus satu sama lain sebagai umat manusia. Saya lega. Mereka dengan inisiatifnya mencari kaliamat-kalimat positif, membuat semacam poster berantai dan itu disebarkan ke setiap kelas dari satu siswa ke siswa lain, dari satu guru ke guru lain bahkan ke kepala sekolah hingga akhirnya terekamlah video Proverbs 17:17. Memvideokan sebuah topik konseling kelompok pun berlanjut setahun kemudian dengan film pendek Sang Pengelana. Masih dengan isu persahabatan dan persaudaraan tulus. Klise memang sebab sejatinya itulah problem anak-anak jaman sekarang. 
Hari ini kami berkumpul di sekolah merekam beberapa kegiatan dilanjutkan ke hotel la hasienda (miliknya mantan murid saya, yang pernah bergabung dalam kelompok jurnalistik di sekolah). Energi murid-murid saya terlalu besar dan mereka sudah tak bisa dilepaskan dari gadget! Sebagai guru saya harus up to date juga, tak boleh ketinggalan informasi dari mereka. Guru sekarang pun harus lebih fleksibel. Saya dengan gaya dan cara saya, bahkan merasa bisa mengetahui secara detail persoalan mereka hanya karena sering berkegiatan bersama mereka mengurus mading, website sekolah, bikin film pendek bareng, atau sekedar jalan-jalan ke mall atau makan bersama. 
Ah, tak ada habisnya jika berbicara tentang mereka. Sekali lagi, mereka ini kreatif! Energi mereka terlalu besar, sayang jika dihabiskan untuk hal-hal negatif. Mereka hanya butuh pengayom, pendamping, kakak sekaligus guru mereka yang bisa mengingatkan, memberi tahu sekaligus bisa mengerti kondisi mereka. Itu saja.

bikin video klip happy by pharrel william untuk ultah sekolah

narsis sudah pasti.

Menunggu teman lain, diskusi ringan hingga berat bisa terjadi dengan santai

Jumat, 26 September 2014

Surat Terbuka Aksi #StopBajualOrangNTT



Salam sejahtera, kawan-kawan muda NTT....
Belakangan ini media lokal dan nasional banyak menguak kasus pedagangan manusia (human trafficking) asal NTT. Kasus ini sudah terlalu menggurita dan menjadi sebuah sindikat besar sebab mengaitkan banyak pihak sehingga cenderung sulit untuk dibongkar bahkan dihentikan. Hingga detik ini masih saja kita saksikan dan dengar sendiri, masih banyak orang asal NTT yang diperjualbelikan, kemudian dipekerjakan dengan tidak manusiawi, mendapat siksaan psikis dan fisik hingga akhirnya ada yang meninggal dunia atau pulang namun membawa luka yang parah. Jika ini terjadi dan terus terjadi di depan mata kita, lantas apa yang bisa kita lakukan? Kami percaya, sekecil apapun niat dan tindakan kita untuk perubahan terlebih untuk sebuah nilai kemanusiaan, jika disuarakan bersama-sama pasti akan berdampak positif bagi kemanusiaan yang sedang kita bela. 

designed by @jamduapagi
Beberapa tahun belakangan ini, kawan-kawan muda NTT yang tergabung dalam gerakan internasional, Playing For Change – Kupang, telah melakukan beberapa rangkaian konser musik dan multimedia dengan tujuan menginspirasi dan saling menghubungkan manusia di bumi ini dalam satu suara: perdamaian dunia lewat musik. PFC- Kupang tahun ini hadir lagi dengan misi menolak dengan tegas human trafficking di NTT; Stop Bajual Orang NTT!
Terkait misi dan aksi #StopBajualOrangNTT di atas, kami ajak kawan-kawan sekalian yang aktif menggunakan internet sebagai media untuk bersosialisasi agar terlibat juga dalam kampanye, di manapun kita berada. Kampanye #StopBajualOrangNTT adalah tugas kita semua, dimulai dari yang paling sederhana: ikut menyuarakan di media sosial hingga ke lingkup keluarga dan tetangga. Dan harapannya bahwa satu tweet kita akan mendorong orang lain untuk ikutan me-retweet.
Jika anda setuju, kami akan kirim beberapa link berita, artikel, poster, meme, dan bahan kampanye lainnya ke alamat email anda yang harus anda sebarkan di akun media sosial masing-masing (facebook, twitter, blog, path, dll) pada hari Sabtu, 27 September 2014 dan Minggu 28 September 2014. Silahkan anda memposting dimulai jam 09.00 - 21.00 WITA (disesuaikan dengan waktu konser PFC di Pantai Lasiana Kupang). Bahan kampanye yang kami bagikan ini mungkin terbatas, dan tidak menutup kemungkinan bagi anda untuk menambah bahan kampanye (opini, foto, poster atau meme) sejauh tidak melenceng dari misi utama kita: #StopBajualOrangNTT.
Untuk informasi lebih lanjut silahkan mention @dickysenda / @MUDAers_NTT/ @arysthaa / @jamduapagi / @rambukarera / @thomasbenmetan dan @sandrafrans, atau  SMS/Whatsapp ke 081338037075 (dickysenda). Atau jika tidak sempat memposting, bisa meretweet atau membagi link tulisan anda di blog pribadi dengan mention akun-akun di atas. Terima kasih untuk perhatian dan kerjasamanya. Salam. 

“Kami Yang Peduli Pada Flobamora...”

Senin, 25 Agustus 2014

Raja Boti: Apakah Jokowi Itu Orang Baik?



Pujilah Tuhan, Dicky! KarenaNya lu bisa pergi ke Boti.
Yeah, 23 Agustus 2014 saya berkesempatan mengunjungi suku Boti, salah satu bagian dari suku Dawan di TTS yang masih mempertahankan tradisi turun temurun dalam hidup keseharian mereka. Boti sudah mendunia, dan saya agak terlambat jika menilik kembali bahwa saya lahir dan besar di TTS. Eit, tapi coba Anda survey sudah berapa banyak orang TTS yang sudah pernah ke Boti? Masih sedikiiiit. Saya yakini itu. Paling tidak berdasarkan buku tamu yang sempat saya intip ketika tiba di Istana Raja Boti, Nama Benu. Kebanyakan tamu memang dari luar NTT. Hal yang sama mungkin berlaku, seperti ini: kamu anak NTT/Flobamora, sudah keliling semua kabupaten di Flobamora? Hehe apapun itu jelas alasannya akan banyak, bukan berarti tak cinta tanah sendiri. Kalau saya melihat, barangkali karena tidak banyak orang NTT yang memasukan liburan dalam perencanaan hidup mereka. (Begitukah? Hahaha ini asumni subyektif saya saja! Camkan...). Kalau kata om Oddy Messakh, salah satu pelaku bisnis pariwisata di kota Kupang, “belum ada alokasi dana secara khusus di masyarakat kita untuk membelanjakan sesuatu yang terkait dengan kesenangan (liburan atau berswisata)”. 

Kembali ke Boti. 

Saya beruntung diajak kak Audrey Jiwajenie (saudarinya komikus Ernest Prakasa), Nandita dan Nike Frans, plus om sopir yang membawa kami ke sana, Om Salim yang super komunikatif itu. (FYI, Om Salim itu sopir travel sekalugus tour guide lokal paling komunikatif yang pernah saya temui. Beliau biasa nongkrong di Hotel On The Rock).
Kami berangkat dari Kupang jam 4.30 dini hari dan mampir sarapan di Soe jam 06.30. Medan menuju Boti terbilang sulit tapi ada untungnya di musim panas seperti sekarang ini kita bisa terhindar dari jalanan licin, berlumpur dan longsor. Kami tiba di Boti jam 9 pagi dan ternyata sudah disambut dua orang Boti dalam di gerbang kampung. Dua sosok yang akhirnya kami ketahui sebagai adik dari almarhum Raja Nune Benu (Raja Boti sebelumnya) dan ipar dari Raja Nama Benu (Raja Boti kini). Mereka datang menyambut seperti sudah tahu akan ada tamu yang datang saat itu juga. Ketika mobil kami parkir, eh dari dalam kampung sudah muncul Bapa Raja, Nama Benu. Luar biasa. Agak ajaib memang kejadian itu. Siapapun yang pernah datang ke Boti pasti mengalami keajaiban-keajaiban kecil. Sebenarnya bukan di Boti saja. Waktu saya bertemu dengan Bapa Mateos Anin, seorang tokoh adat paling kharismatik di Mollo, beliau pun berlaku seperti sudah tahu akan ada tamu yang datang. Kala itu Bapa Anin bisik kepada saya, “biasanya akan ada bisikan di telingan saya bahwa akan ada tamu yang datang.” Hah? Dibisiki? Jika demikian lupakan kebiasaanmu berpikir logis. Bertemu tokoh-tokoh adat seperti mereka, banyak hal bisa saja terjadi melampaui batas nalar kita.
Kesan pertama saya memasuki kampung Boti;
  1. Keramahan penguhinya. Kami disambut layaknya keluarga yang lama tak bersua. Kami diajak bicara tidak sebagai orang asing, melainkan sebagai saudara lama yang telah kembali. Untuk dicatat, mereka itu komunitas yang kita sebut sebagai ‘suku tertinggal’, ‘suku tak beragama, suku kafir’, bla bla bla... tapi lihat perilakunya. Mereka adalah manusia sederhana, manusia tulus, manusia baik, manusia yang benar-benar manusia!
  2. Bersih dan hijau. Ketika masuk ke kampung Boti, kak Nandita sontak berkomentar, nuansa di sini kayak di resort ya? Saya sepakat. Rumah-rumah tertata rapi, pepohonan rimbun, tanah yang bebas dari sampah plastik, tangga-tangga yang tersusun dari bebatuan rapi. Luar biasa. Dan satu lagi, suasana di sini tenang bahkan super tenang. Apa saya lebay? Sebagai penulis saya suka bekerja dengan lingkungan demikian, lagian saya sudah merasa sensitif dengan keadaan demikian. Pengalaman saya, setiap kali bersinggungan dengan lingkungan yang demikian, inspirasi dan kenyamanan menulis sudah pasti melimpah ruah. Hehehe.
  3. Suguhan serba organik (meski tidak semua). Saya yakin demikian. Ketika tiba kami langsung disuguhi sirih pinang yang diambil dari pekarangan. Sepuluh menit kemudian kami disuguhi kopi dan teh plus kripik pisang yang digoreng dengan minyak kelapa. Setelah puas berkeliling kami ditawari makan siang lagi, ayam goreng, telur ayam kampung rebus, jagung bose, sayur sawi hijau, dan lainnya. Nikmat yang sederhana sebab aroma minyak kelapa kuat sekali dan lidah saya cukup mampu membedakan mana makanan dengan vetsin/masako dan mana yang cuma dengan garam. Tentang makanan tambahan seperti tepung terigu, gula, beras, dll mereka mendapatkannya dari pasar tradisional mingguan di kampung Boti luar. Bahan pangan lainnya diambil dari kebun dan kandang sendiri.
  4. Hidup selaras dengan alam. Sangat mudah bagi saya untuk menemukan jawaban dari pernyataan saya kali ini. di sudut dapur saya menemukan dua batang bambu bekas pakai yang ujungnya terlilit kapas bercampur biji damar yang sudah dihaluskan. Itulah lampu penerang malam mereka. Masih disudut dapur yang sama, saya temukan dua lembar payung tradisional dari lembaran daun lontar atau gewang yang dikeringkan dan dijadikan P A Y U N G! J terassering dan tangga yang membatasi tanah datar satu dengan lainnya dibatasi oleh susunan batu-batu ceper yang sangat rapi. Sonde perlu pakai semen lai. Sebagian besar atap rumah memakai ilalang dan daun gewang, sebagian kecil lainnya sudah beratap dinding. Berbicara lantai, di rumah tempat menjual cinderamata khas Boti bisa kita lihat bagaimana lantai rumah yang berbahan tanah saja tapi entah bagaimana jadi padat, licin, basah dan dingiiiin. Kok bisa? Silahkan ke Boti dan buktikan sendiri hehehe. Lopo-lopo dibangun rapi dan open air gitu. Sejuk oi... lebih dari itu, kapas dan aneka tanaman yang akan digunakan untuk pewarna benang alami tumbuh subur di sekeliling rumah, dari Kunyit, tarum, hingga pohon mengkudu. Ada banyak lagi bukti jika mereka memang hidup selaras dengan alam.

Kesan selanjutnya banyak dan tidak bisa saya tulis semuanya. Mungkin akan terwakili dengan semua foto yang akan saya posting di bawah ini.

Ada catatan kritis saya tentang suku ini. saya punya sebuah pembanding sederhana dengan suku Baduy di Banten yang pernah saya kunjungi setahun lalu. Mereka jelas berbeda dan punya masalah sendiri-sendiri tapi izinkanlah saya mengungkapkannya.

“Boti rasanya sudah tak semurni dulu. Saya tak pernah kesana sebelumnya tapi saya yakin kondisi mereka sebelumnya jauh lebih baik. Jika melihat mereka sekarang makin tersentuh unsur-unsur modernitas, saya rasa kok mereka seperti mengalami kemunduran bukan kemajuan. Oke, mereka punya sistem kepercayaan sendiri, punya aturan hukum adat sendiri, punya struktur dan tatanan sosialnya. Mereka tidak telanjang melainkan sudah punya kemampuan mengolah kapas, menenun dan menjadikannya pakaian yang membungkus seluruh tubuh dengan indah dan elegan. Tanpa aturan hukum beragama dan bernegara seperti warga luar Boti, toh mereka sudah terbukti eksis dengan aturan-aturan yang ada. Tiada tindakan kriminal di sana, tak ada pertengkaran karena beda agama, tak ada teroris, tak ada korupsi, tak ada. Artinya sebelum bangsa ini merdeka pun saya yakin komunitas mereka sudah eksis dan teratur laksana sebuah kerajaan tumbuh. Tapi kok jadi merasa gimanaaa gitu ketika melihat simbol-simbol modernitas sudah masuk ke sana. Baju kaos, semen, keramik, seng, genset, kabel-kabel listrik, hingga ke simbol-simbol agama dan pemerintahan (tanda survey kependudukan dan KPU, kursi berukir salib dan jam dinding dengan wajah Yesus dan Maria. Kayaknya semua itu dibawa ke dalam oleh entah siapa tamunya, entah apa maksudnya. Tetapi ketika menerima simbol modernitas atau perilaku lain di luar kebiasaan yang sudah mengakar di kampung Boti, saya rasa kok mereka menjadi mundur, menjadi tak unik, menjadi biasa saja. Ah, entah bagaimana saya mendeskripsikan lebih jauh dan jelas kekhawatiran ini. saya percaya, tanpa menjadi modern seperti kita yang lain, mereka toh sudah luar biasa kok. Karena saya melihat sendiri bagaimana suku Baduy Dalam menjaga kemurnian tradisinya dari pengaruh luar.”
Apapun itu saya jatuh cinta sama kampung ini. Kita manusia-manusia modern adakalanya harus kembali ke Boti, untuk belajar segala kearifan yang mereka miliki.

            NB: Ketika saya berkesempatan mengobrol dengan raja Boti, Nama Benu dengan bahasa Dawan saya yang serba terbatas, beliau bertanya, “Siapa yang menang di MK?”. Saya yang setengah kaget setengah takjub menjawab, bahwa yang menang Jokowi. Beliau jawab, oh yang nomor 2 itu. Lalu ia melanjutkan pertanyaan, ‘apakah dia orang baik?”. Saya jawab saja, iya beliau baik. Hingga detik ini masih tergiang-ngiang percakapan singkat kami itu. 


Kupang, Agustus 2014
selamat datang di Boti
secara tiba-tiba kami sudah disambut tuan rumah
oleh-oleh yang bisa kita beli di Boti

disuguhi makan siang ayam goreng dan telur rebus plus jagung bose

bapak ini masih presiden di kampung boti! :D

di rumah ini segala jenis kerajinan tangan dijual



segala buah ini dibiarkan begitu saja tanpa ada yg curi

juga kepala dan tebu ini


buku tamu

kapas ditumbuk bersama buah damar utk penerangan

tempat ayam bertelur

Skubi anjing Boti sudah lengket aja sama kak Audrey

rumah yang dikeramatkan, milik alm raja nune benu dan isteri

anak tertua alm nune benu yg memilih keluar dr Boti. anaknya ini diambil kembali sbg calon raja berikutnya

atap dari ilalang yang dianyam dengan sangat rapi

sendok makan dari tempurung

pohon kapas di mana-mana


gelang perak putih dan kuning yg dikenakan anak bungsu raja nune benu

putri raja nune benu bersama nike frans

payung dari daun gewang/lontar

saudara dari almarhum nune benu

beliau ini senang difoto lho

bergaya bersama raja nama beny yg bersahaja ini

selfie diantara mama-mama penenun

onme-onme nunu, gimana-gimana POHON BERINGIN!

keponakan bapa Raja yg mengantar kami hingga pintu gerbang

Kamis, 07 Agustus 2014

Sebab Hidup Ini Indah



Sebagai seorang penulis yang terbiasa menggunakan ruang imaji seluas-luasnya, yang sensitif dengan segenap indra dan sekaligus mencintai keindahan maka momen jatuh cinta seutuhnya adalah anugerah atas kehidupan manusia yang patut dirayakan dengan sukacita. Saya termasuk golongan manusia yang percaya pada energi positif di dalam diri manusia dan sekelilingnya; alam semesta bagi saya ikut bertanggungjawab menciptakan daya tarik yang dalam bahasa kerennya disebut chemistry. Jika tidak ada daya itu bisa dibayangkan betapa membosankan dan kejamnya dunia ini! Maka mencitai atau mengasihi adalah puncak dari kenikmatan menjadi manusia.  
suatu senja di pantai Bolok
Tentang wanita luar biasa di belakang saya ini. Dialah yang berhasil membuat saya tertawan. Dialah yang membuat file-file catatan harian terisi lagi. Dialah yang membuat saya merasa sebagai manusia yang utuh. Agak lama memang untuk mendapatkan hatinya. Untunglah saya menghargai proses dan terbawa suasana untuk sabar mengejar cintanya. J
Kini kami bahkan baru saja memulai sebuah babak baru yang belum seberapa. Dan ada sejuta proses hidup di depan sana yang harus dilalui dan kebanyakan misteri. Apapun itu saya masih percaya pada niat baik saya dan juga niat baik dia, sembari merawat dan menaruh setinggi-tingginya niat baik saya di hadapan Dia, Sang Pencipta.
Terima kasih kepada alur kehidupan yang telah mengantar sukacita kemarin, hari ini dan seterusnya. Yang baik dan membahagiakan akan terus kami perjuangkan. Terima kasih untuk kita semua yang dengan caranya masing-masing telah ikut merawat cinta, ikut membangun kehidupan yang lebih baik atas dasar cinta, dan tanpa sadar (mungkin) ikut menyatukan perasaan kami.
Akan ada banyak skenario yang mesti digeluti. Ada banyak cerita yang mesti dicatat ulang setelah dimainkan.
Pemain sejati, tersenyumlah untuk cinta....

Rabu, 06 Agustus 2014

Suanggi



 
Hari sudah larut malam. Kota ini sudah seluruhnya tenggelam dalam selimut kabut, nyaris menjadi kota bisu. Tak terdengar lagi deru kendaraan lalu-lalang di jalanan. Dering ponsel tiba-tiba menghentikan perjalananku menyusuri padang kata-kata yang diciptakan Albert Camus dalam The Outsider.
“Dek, mohon doanya demi istirahat yang kekal dan damai bersama Bapa di surga untuk Pak Samuel yang baru saja meninggal sejam yang lalu. Rencananya akan langsung dibawa ke kampung almarhum di Eban malam ini juga.
Aku langsung membalas SMS dengan pikiran yang berseliweran tak tentu.
“Oh, Tuhaaaan. Saya sangat sedih. Saya doakan beliau. Beliau itu guru pendidikan agama Katolik saya saat SMP dulu. Terima kasih ya, Ka’e.”
Sudah hampir pagi. Kuperhatikan lagi isi SMS, harusnya sudah masuk lima jam yang lalu. Dasaaar, umpatku kepada sinyal telepon seluler yang mati angin ini. Jika sejak awal tahu, mungkin aku bisa menyusul ke rumah duka sebelum jenazah dibawa pergi.
***
Seminggu kemudian.
ilustrasi: Arystha Pello dan Rara Watupelit
Kami sedang berada di sebuah ruang makan bercat putih, dengan suasana yang sangat hangat di hari Minggu pagi di bulan Januari. Aku selalu mencintai suasana Minggu pagi di kampungku.  Semua orang seperti bergerak begitu saja dalam rentang pagi terdamai: sinar matahari Januari yang sedikit lembab dan derap langkah orang-orang dengan baju terbaik menuju ke Gereja. Di pinggir-pinggir jalan, aneka mawar dan dahlia terbiasa memamerkan pakaian terindah mereka bagi puluhan pasangan mata yang kebetulan lewat. Tak ada makian atau umpatan. Pantang ada sesal di  hari Minggu. “Sebab hari Minggu itu waktunya bernyanyi sukaria di Gereja,” teringat pesan kakek dulu.
Harusnya selalu begitu, Kek. Tapi nyatanya tidak. Sungguh. Seperti saat ini.
Tuan rumah mempersilakan kami untuk sarapan bersama. Daging anjing yang dimasak dengan banyak rempah-rempah menggugah seleraku. RW nama makanan itu. Awalnya, pikiranku hanya terfokus pada kelezatan makanan itu, tak sedikitpun tersambung dengan topik pembicaraan beberapa orang dari antara kami.
Sudah saatnya, pesan kakek dulu itu diubah. Diputarbalikan mulut para pemakan daging anjing ini, (pelan-pelan, aku juga terseret ke pusarannya sebab aku ikut memakannya). Seperti anjing, kami mulai menggonggong.
“Beta pernah lihat waktu sore, dia pung mata sama ke kucing. Katong bakatumu di jalan pas mau pi mata air, kira-kira seratus meter dari beta pung rumah.” Si Bapak Guru Agama yang sedang pilek (sebab hidungnya merah tomat memelerkan cairan bening sejak awal pertemuan kami) membuka pembicaraan. Kulihat piringnya penuh daging RW. Orang yang sedang pilek biasanya rakus makannya.
“Aih, memang dasar e, suanggi! Lu mati su!” Perempuan gempal di ujung meja mulai bereaksi. Semenit yang lalu ia baru saja mendaratkan pantatnya pada kursi, lantas membuat sebuah tanda salib kecil. Ia berdoa.
“Ih, betul sudah, Pak. Beta ju heran dengan dong pung isi kepala itu apa e?”
Lelaki muda yang kepalanya sedikit botak ikut menyumbang suara. Kulihat RW di piringnya juga banyak. Dia Sang Pengkotbah.
Ia melanjutkan, “Tadi beta su siap memang, kalo dia muncul di Gereja langsung beta skak dari atas mimbar. Biar mau telinga panas ko apa, terserah! Keterlaluan sekali... manusia biadab!”
Aku sedikit tersentak, namun secepat mungkin berusaha untuk menutup air mukaku yang berubah drastis.
Topik suanggi di Minggu pagi. Ah, please, bukan topik yang tepat di Minggu pagi ini, bapak-bapak, ibu-ibu...
“Betul. Kalau sudah malam, katanya dia mulai keluar. Katanya dia bisa berubah jadi kucing, kadang anjing. Mau pi bikin susah orang. Orang macam itu tu sonde suka dengan kebahagiaan orang lain, he ko!” Perempuan Gempal lagi-lagi berargumen.
Katanya. Katanya. Kata siapa? Rupanya selain menjalani ritual ora et labora, penghuni rumah ini pun menyelinginya dengan gosip.
“Kakak, dia sudah punya rencana untuk buat semua istri di kompleks ini jadi janda,” kata Pak Guru Agama yang sedang pilek tadi. Hidungnya memerah. Kubayangkan ia Pinokio. Pinokio yang hidungnya panjang jika berkata dusta.
“Ia, beta ju dengar begitu,” sambung Sang Pengkotbah, “beta bisa untuk lawan dia. Ada akar satu, sakti. Kirim saja. Darat, laut, udara, semua bisa. Kalo kena, lu matiii!
Ho’o na... saya juga tahu dia punya cara. Saya bisa minta dia punya obat di saya punya Om di kampung...,” ucap Perempuan Gempal di ujung meja tak mau kalah.
Aku masih saja melongo. Merekam. Meski sensasi RW di lidah jauh lebih menendang ketimbang topik pembicaraan mereka sejak tadi. Tapi diam-diam, kurekam saja. Kelak berguna, tidak pun terserah.
“Minum kopi, Dek?” Perempuan yang lain tiba-tiba menyentak sadarku. Ia yang ternyata sejak tadi ada di sekitar ruangan, namun mencoba menjaga jarak. Mungkin karena topiknya yang kurang menarik baginya. Ia menyalakan TV dan terus menikmati makanannya ditemani acara musik pagi. Dia, Si Penjaga Jarak.
“Oh, yah Ka’e. Terima kasih. Nanti beta bikin sendiri.”
RW-ku sudah habis. Kupikir tak cocok dengan kopi. Air putih lebih menetralkan, sedangkan kopi akan menambah perih di ulu hati, kukira begitu. Aku menghindari supaya perutku tak menggonggong karena mulas. Jika dia memilih menjadi sang penjaga jarak dan lainnya adalah penggonggong, maka aku adalah penengah. Setengah menjaga jarak, setengah menggonggong, jikapun kuyakini gonggonganku benar. Meski mingggu pagi tak melulu menawarkan kedamaian, sukacita. Aku salah selama ini.
“Dia yang suanggi Pak Samuel,” Perempuan Gempal kembali mengeluarkan kalimat mautnya. Ia melirik padaku, memberi keyakinan lebih dengan sorot matanya. Bukan. Ia mendamba aminku.
“Oh, ya?” Aku melongo. Untuk menghargai, meski tak selaras dengan isi hati. Pelan-pelan, di dalam hati, aku yang kini mulai menggonggong balik atas sikap dan pernyataan-pernyataan mereka tadi. Tapi aku anjing yang cukup santun. Cuma berani menggonggong di dalam hati.
Takut.
“Tapi kenapa ya, orang kayak begitu matinya lama e?” Kali ini aku mulai melempar umpan. Meski dengan perasaan entah, apakah mereka akan meladeniku sesungguh-sungguhnya mereka mengatai janda itu seorang suanggi. Wanita kurus yang setiap senja tubuhnya akan berganti rupa jadi kucing. Atau gagak? Ia yang katanya akan mencari mangsa, ke manapun. Tapi ia akan lebih beringas jika mencium aroma sukacita dari kisi-kisi jendela. Katanya, ia membenci kebahagiaan orang.
Ia ingin semua istri di kompleks ini menjadi janda semua, menjadi sepertinya.
“Orang begitu lama mati, karena Tuhan masih kasih kesempatan untuk dia supaya bertobat, Dek,” tiba-tiba Sang Pejaga Jarak nimbrung. Namun meninggalkan kesan yang berbeda di relung hati. Seakan katanya tadi makin menebalkan temboknya sendiri dengan tembok kami. Mereka. Aku tidak.
Diam-diam aku terus menggonggong, namun dalam hati saja. Anjing yang santun. Takut.
Perempuan Gempal melirik ke arah suara tadi, meninggalkan sebuah kesan yang aneh.
“Hih, orang macam begitu sudah tidak ada guna lagi... Tidak perlu kasih kesempatan!”
Sebab mereka membutuhkan dukungan, bukan sanggahan. Kedekatan, bukan jarak.
“Tapi betul juga. Beta terlalu ingat Pak Samuel. Cuma orang bejat seperti mereka yang harusnya dapat balasan. Keterlaluan.” Ia seperti tidak berkotbah. Aku membenci kotbahnya saban Minggu. Tapi juga tak berarti aku menyukai perkataannya sekarang. Sama-sama kubenci.
“Hih, dia itu sudah kurus kerempeng. Tutup kepala terus karena kepalanya sudah botak. Mungkin gara-gara makan daging manusia terus! Hih!” Perempuan Gempal masih saja berkicau disela kunyahan RW-nya. Ia benar-benar sudah menjadi anjing yang super galak.
Ia melanjutkan, “Kau tahu, giliran doa rosario di rumahnya, sonde ada satupun tamu yang mau minum dia pung teh.”
Beta ada tunggu kapan dia pi Gereja. Pas dia ada baru beta akan singgung dia dari atas mimbar!” ancam Sang Pengkotbah.
“Mamatua deng Bapatua (yang sudah almarhum), paling kikir. Kalau ada teman guru yang bikin pesta, jangan harap dong mau datang. Pas Pak Samuel mati saja, eh, dong kunci pintu terus pergi. Padahal Pak Samuel dong pung tetangga yang jarak rumah mungkin sonde sampai 20 meter!” tambah Pak Guru Agama yang sedang flu. Sungguh, hidungnya jadi makin mirip Pinokio, umpatku sekenanya.
Akhirnya kuputuskan saja untuk duluan pamit. Sebab untuk ikut menggongong pun aku malu-malu. Menyela pun sebatas di dalam hati.
Takut. Penakut.
Sang Penjaga Jarak mengantarku melewati lorong rumah ini. Di sisi kanan kirinya adalah deretan kamar-kamar kosong, dan di salah satu kamar di ujungnya, ada yang unik menempel di pintunya... Ah, lupakan saja.
***
“Dek, selamat malam. Maaf menganggu. Tadi ngobrolin soal suanggi ya? Satu pesan singkat masuk. Dari Sang Penjaga Jarak.
“Eh, iyah, Ka’e. Selamat malam. Iya tadi pagi cuma jadi pendengar setia saja. Topiknya memang benar, suanggi,” balasku.
“Dek, saya sudah bertugas di sini 6 tahun lamanya. Sejak awal hingga tadi pagi, ya topik pembicaraan di ruang makan, di dapur, ya itu melulu. Kamu jangan dekat-dekat sama si A, dia itu suanggi. Si B sama suanggi ju...*sebagian teks hilang*”
“Kirim ulang, Ka’e. Pliiss... teksnya terpotong. He-he-he...”
“Oh yah, sudah tu, saya su kirim lagi. Maksudnya ya itu, di sini semua orang bawaanya curiga melulu. Tapi itu jeleknya, sudah curiga, omong-omong orang punya kejelekan orang pula. Gosip. Tapi lupa sama tugasnya, kalau memang ada orang seperti itu, yah kan tugas kita to untuk mengembalikan ke jalan yang benar, ‘kan?”
“Lagian, si ibu janda itu, juga anggota kelompok doa Legio Maria. Nah, Ka’e Hil (si Perempuan Gempal) kan ketua kelompok doa itu. Harusnya ‘kan bisa mendekati, membimbing si ibu janda itu. Sekalian juga membimbing perspektif orang untuk tidak melulu berprasangka buruk. Bukannya malah ikut memperkeruh, ‘kan Dek?”
“Iya juga, sih.”
“Saya malas. Bosan. Mengubah sifat mereka itu susah. Giliran saya omong, malah saya yang jadi sorotan, dilihat sebelah mata. Disingkirkan.”
“Dek, di kampung saya, ada juga yang begitu. Tinggal bagaimana kita yang waras dan katanya beriman ini yang harusnya mendoakan mereka, mengajak mereka untuk tidak menutup diri. Pelan-pelan bikin mereka berubah. Belum tentu juga to, kalo mereka itu suanggi! Apa buktinya? Kan, cuma selalu—katanya, katanya...”
“Iya, sih.”
Teringat kejadian pagi tadi.
Aku melamun. Bertanya, apa iya? Kok begitu caranya? Sebab anak si ibu janda itu, kakak kelasku dulu. Anaknya cerdas, kita dulu biasa bertukar majalah Bobo.
Seribu tanya mendesak-desak di sela lamunan, di emper rumah.
***
Kami sedang berada di sebuah ruang makan bercat putih, dengan suasana yang sangat hangat di hari Minggu pagi di bulan Januari. Aku selalu mencintai suasana Minggu pagi di kampungku. Semua orang seperti tergerak begitu saja dalam rentang pagi terdamai: sinar matahari Januari yang sedikit lembab dan derap langkah orang-orang dengan baju terbaik menuju ke Gereja.
Di pinggir-pinggir jalan aneka mawar dan dahlia terbiasa memamerkan pakaian terindah mereka bagi puluhan pasangan mata yang kebetulan lewat. Tak ada makian atau umpatan. Pantang ada sesal di  hari Minggu. Sebab hari Minggu itu waktunya bernyanyi suka ria di Gereja, teringat pesan kakek dulu.
Harusnya selalu begitu, Kek. Tapi nyatanya tidak. Sungguh. Seperti saat ini.
Namun, berada sepuluh menit pertama di ruang makan bercat putih ini, pelan-pelan aku merasakan auranya berubah. Hingga waktu dua jam berlalu. Rasanya masam, menggelisahkan.
Aku memutuskan untuk duluan pamit pulang.
Akhirnya.
 Sebab untuk ikut menggongong pun aku malu-malu. Menyela pun sebatas di dalam hati. Apalagi terang-terangan menyalak?
Takut. Penakut.
Sang Penjaga Jarak mengantarku melewati lorong rumah ini. Di sisi kanan kirinya adalah deretan kamar-kamar kosong, dan di salah satu kamar di ujungnya, ada yang unik. Pintunya setengah terbuka. Ruanganya rapi, terang. Kulihat sepintas saja. Dari jendelanya, bisa terlihat aneka mawar yang bermekaran. Angin sepoi melambaikan gorden brokat putih. Sekali lagi kulihat sepintas saja. Di pintunya yang berwarna coklat, ada tulisan:

“Senin, 25 Januari 2012, jam 15.00 WITA Rekoleksi dipimpin Sr. Maria Hilda, dilanjutkan misa, dipimpin Rm. Atanasius.
Trims”

Dua manusia itu. Sang Pengkotbah dan Perempuan Gempal.
Seperti mawar layu, dihentak sang angin lantas berjatuhan di tanah—sia-sia. Dengan gontai aku melangkah pulang.
Akan ada seribu tanya berdesakan di sela lamunan—nanti di emper rumah. Terus menerus mendesak, selama ingatanku belum pudar tentangnya dalam tanda tanya besar.
Suanggi. Adakah ia serupa kucing hitam bermata elang?

-Taubneno-SoE, 2011-